Hotel Tapian Nauli
Home  / 
Bentrok dengan Houthi, Keponakan Mantan Presiden Yaman Tewas
* Militan Yaman Serang Stasiun TV, Sandera 41 Jurnalis
Kamis, 7 Desember 2017 | 17:53:15
Sanaa (SIB) -Tarek Mohammed Abdullah Saleh, komandan pasukan loyalis mendiang mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, tewas dalam bentrokan di Sanaa pekan ini. Kematian Tarek ini diketahui beberapa hari setelah Saleh ditembak mati pemberontak Houthi usai berpindah kubu dalam konflik Yaman. Seperti dilansir AFP dan Reuters, Rabu (6/12), Tarek yang juga keponakan Saleh, terlibat bentrokan sengit dengan pemberontak Houthi yang didukung Iran. Sejak konflik Yaman pecah sekitar 3 tahun lalu, Houthi menguasai Sanaa.

Usai mendiang Saleh berpindah kubu dengan berpihak ke koalisi pimpinan Arab Saudi, pertempuran sengit pecah antara pasukan loyalis Saleh dengan Houthi sejak Minggu (3/12) malam waktu setempat. Meskipun tidak lagi menjabat, sosok Saleh masih dianggap berpengaruh di Yaman dan memiliki banyak loyalis.

Dalam pernyataan yang dirilis oleh Partai Kongres Rakyat Umum (GPC) yang dibentuk dan pernah dipimpin oleh Saleh, disebutkan bahwa Tarek mengalami luka parah saat bentrok dengan petempur Houthi. Disebutkan ada serpihan peluru yang bersarang di dalam liver Tarek. Tarek dinyatakan tewas usai dilarikan ke rumah sakit setempat. "Dia mati martir saat berhadapan dengan milisi pengkhianat dan penikam dari belakang, Houthi," demikian bunyi pernyataan dari GPC yang dikirimkan kepada AFP.

Pada Senin (4/12), Houthi mengklaim telah membunuh Saleh dengan menembaknya hingga tewas di Sanaa. Pembunuhan dilakukan setelah Saleh meninggalkan Houthi dan menyatakan dirinya terbuka untuk berunding dengan koalisi pimpinan Saudi untuk membahas solusi konflik Yaman.

Konflik Yaman yang berlangsung selama 3 tahun terakhir ini telah menewaskan lebih dari 8.750 orang, terutama setelah Saudi dan sekutunya menggelar operasi militer di Yaman. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyebut konflik Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia saat ini.

Atas kematian Saleh, putra mantan Presiden Yaman tersebut menyerukan balas dendam. Ahmed Ali Saleh, mantan komandan Garda Republik dan menetap di Uni Emirat Arab (UEA) sejak 2013, mengajak para loyalis Saleh dan rakyat Yaman yang tidak menginginkan keberadaan Houthi untuk mengangkat senjata serta mengusir mereka dari Yaman.

Ahmed berkata bakal memimpin sendiri penyerangan kepada Houthi. Dia bersumpah bakal membersihkan Yaman dari kelompok yang diduga mendapat sokongan Iran itu hingga anggotanya yang terakhir. "Darah ayah saya akan menjadi bel kematian di telinga Iran dan sekutunya," ucap Ahmed dalam televisi milik Arab Saudi tersebut.

Dengan tewasnya Tareq, otomatis kursi pimpinan Partai Kongres Rakyat Umum (GPC) bakal dipegang oleh Ahmed. "Saat ini, waktu yang tersedia sangat sedikit. Jika mereka ingin Yaman terbebas dari Houthi, Ahmed harus kembali ke Yaman dan memimpin GPC dalam 48 jam ke depan," ungka Profesor Studi Timur Tengah di Universitas Grand Valley, Gamal Gasim.

Al Jazeera memberitakan, ketegangan di Sana'a, ibu kota Yaman, menurun setelah koalisi pimpinan Saudi melancarkan 25 serangan udara selepas tengah malam. Koordinator Kemanusiaan PBB di Yaman, Jamie McGoldrick berkata, serangan udara itu membuat keluarga yang ada di Sana'a mulai berani untuk keluar rumah. "Momen ini bakal mereka gunakan untuk mencari perlindungan, dan obat-obatan bagi anak maupun anggota keluarga yang terluka karena perang," ujar McGoldrick.

Kepala Editor Yemen Post, Hakim al-Masmari menyatakan, serangan udara yang dilakukan Saudi mengakibatkan sembilan rakyat sipil tewas. "Banyak rumah hancur akibat serangan itu. Terutama di dekat istana presiden," kata Masmari. Liga Arab mengecam tindakan Houthi, dan menyebut mereka sebagai organisasi teroris. "Semua ini dilakukan agar rakyat Yaman masuk ke dalam mimpi buruk," kata Ketua Liga Arab, Ahmed Abdul Gheit.

Sandera 41 Jurnalis
Pemberontak Houthi di Yaman menyandera puluhan jurnalis selama berhari-hari di markas sebuah stasiun televisi, di ibu kota Yaman, Sanaa. Laporan dari organisasi pemantau media internasional, Reporter Tanpa Batas (RSF), menyebutkan kelompok pemberontak meluncurkan granat roket ke markas saluran televisi Yaman, Al Youm, di Sanaa, sebelum menyerbu gedung stasiun TV itu, dan menyandera 41 karyawan di dalamnya.

Tiga petugas keamanan setempat terluka dalam serangan tersebut. Kepala rubrik Timur Tengah RSF, Alexandra El Kahzen, mengecam tindakan kekerasan terhadap wartawan tersebut, dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap perlindungan jurnalis sesuai dengan Konvensi Jenewa. "Penyanderaan ini merupakan ciri khas permusuhan di Yaman terhadap wartawan yang sering menjadi sasaran konflik," katanya. "Kami meminta pemberontak Houthi untuk segera membebaskan jurnalis stasiun TV itu," tambahnya.

Sumber RSF menyebutkan, para jurnalis yang ditawan dipaksa untuk menyerahkan kode akses saluran TV, sehingga memungkinkan Houthi menyiarkan konten mereka sendiri. Selain itu, ada 13 wartawan dan pekerja media lainnya yang juga masih disandera di Yaman oleh kelompok bersenjata, termasuk oleh pemberontak Houthi dan Al Qaeda. Yaman berada di peringkat 166 dari 180 negara dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2017 versi RSF. (Detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Drainase Nagori Pinang Ratus Butuh Pengerukan
Jalan Nasional Jurusan Medan-Kuta Cane Berlubang dan Rawan Kecelakaan
Dianggap Melanggar Perjanjian, Warga Perdagangan Akan Lakukan Demo Tangkahan Pasir
Ketua DPRD Hadiri Peringatan Hari Jadi Desa Sukamulia Secanggang
Pemkab Karo Sosialisasi Tata Cara Pemberian Tambahan Penghasilan PNS
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU