Hotel Tapian Nauli
Home  / 
AS Jatuhkan Sanksi Baru untuk 13 Perusahaan China dan Korut
Kamis, 23 November 2017 | 16:41:35
SIB/AP
Dalam foto kombinasi menunjukkan seorang tentara Korut ke luar dari kendaraan Jip yang dikejar dan ditembaki rekannya saat berupaya membelot ke wilayah Korsel di Panmunjom pada Senin (13/11) kemarin. Dalam aksi pengejaran tersebut, tentara Korut melanggar perjanjian perbatasan dengan menerobos Garis Demarkasi Militer.
Washington DC (SIB) -Pemerintah Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terbaru untuk 13 organisasi China dan Korea Utara (Korut). Mereka yang dijatuhi sanksi diyakini membantu rezim komunis itu menghindari pembatasan ekonomi dan mendukung perdagangan komoditas Korut. Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru itu sehari setelah Presiden AS Donald Trump kembali menetapkan Korut sebagai negara sponsor terorisme. Seperti dilansir Reuters, Rabu (22/11), sanksi terbaru ini menunjukkan pemerintahan Trump fokus untuk mengurangi perdagangan antara Korut dengan China, yang dipandang penting dalam menghentikan ambisi Korut mengembangkan rudal nuklir yang mampu menjangkau AS.

Sanksi-sanksi terbaru AS ini termasuk memasukkan tiga perusahaan China dalam daftar hitam. Tiga perusahaan China itu antara lain Dandong Kehua Economy & Trade Co, kemudian Dandong Xianghe Trading Co, dan Dandong Hongda Trade Co. Departemen Keuangan AS menyebut ketiga perusahaan China untuk melakukan sejumlah perdagangan dengan Korut dengan total nilai mencapai US$ 750 juta (Rp 9,9 triliun), selama lebih dari lima tahun terakhir, hingga 31 Agustus lalu. Perdagangan itu melibatkan batu bara, bijih besi, timbal, timah sari dan bijih perak, logam timbal hingga produk-produk yang mengandung besi, juga komputer jinjing.

Pengusaha China Sun Sidong dan perusahaannya, Dandong Dongyuan Industrial Co juga ikut masuk daftar hitam. Laporan forum diskusi think tank di Washington, C4ADS, pada bulan Juni menyebut perusahaan itu merupakan bagian dari jaringan perusahaan China yang saling terhubung dan melakukan perdagangan dengan Korut. Otoritas AS berulang kali menargetkan perusahaan-perusahaan dan orang-orang dari kota Dandong, China yang berbatasan dengan Korut. Langkah ini ditempuh untuk memutus aliran dana hasil ekspor sumber daya alam ke Korut.

Sanksi terbaru ini juga ditetapkan sejumlah perusahaan Korut yang mengirimkan pekerja ke luar negeri, seperti ke Rusia, Polandia, Kamboja dan China. Otoritas AS menyatakan ingin memutus aliran uang ke Korut dari ekspor tenaga kerja.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Heather Nauert, menyebut sanksi-sanksi ini bertujuan untuk semakin mengisolasi Korut. Nauert juga menyatakan, menargetkan perusahaan China tidak akan berdampak pada kerja sama AS dengan China terkait isu Korut. "Saya pikir itu tidak akan membahayakan apapun. Saya pikir dunia berada dalam posisi yang sama dalam isu ini. Kita memiliki hubungan baik dengan China. Itu tidak akan berubah," tandas Nauert.

Tentara Korut Terobos Perbatasan
Korea Utara melanggar perjanjian perbatasan karena tentaranya menerobos Garis Demarkasi Militer (MDL) saat sedang mengejar salah satu anggota yang berupaya membelot ke Korea Selatan pekan lalu.

"Temuan utama dari tim penyelidikan khusus ini adalah tentara Korut melanggar perjanjian gencatan senjata karena pertama, menembakkan senjata melewati MDL, dan kedua, melintasi MDL selama beberapa saat," ujar Direktur Hubungan Masyarakat Komando PBB (UNC), Chad Carroll, Rabu (22/11).

Charroll mengatakan kepada Reuters, UNC sudah memberikan notifikasi kepada Korut bahwa salah satu tentara mereka melanggar perjanjian gencatan senjata yang disepakati untuk mengakhiri perang Korea pada 1953 silam. Menurut Charroll, pelanggaran ini terpantau dari pemeriksaan rekaman kamera CCTV UNC di perbatasan Korsel dan Korut.

Dalam sejumlah cuplikan tersebut, terlihat tentara yang membelot mengendarai armada militer menuju perbatasan, melewati pos penjagaan, hingga akhirnya terimpit di parit.

Tentara itu kemudian berlari menuju garis perbatasan dengan Korsel. Salah satu tentara kemudian mengejar ke arah perbatasan dan selama beberapa detik terlihat melewati MDL, sementara personel lainnya berupaya menembaki anggota yang kabur. Namun, video itu tak memperlihatkan saat pembelot itu diberondong peluru oleh rekan-rekannya sendiri.

Tiga tentara Korsel, termasuk wakil komandan unit keamanan perbatasan, kemudian merangkak di tengah semak belukar untuk menyelamatkan tentara Korut yang membelot tersebut. Tentara itu kemudian dibawa ke rumah sakit menggunakan helikopter. Menurut sejumlah pejabat medis, ada sekitar 40 luka tembak di tubuh tentara itu. Setelah menjalani perawatan intensif, pihak rumah sakit menyatakan bahwa tentara itu kini sudah sadarkan diri. (Rtr/Detikcom/CNNI/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Drainase Nagori Pinang Ratus Butuh Pengerukan
Jalan Nasional Jurusan Medan-Kuta Cane Berlubang dan Rawan Kecelakaan
Dianggap Melanggar Perjanjian, Warga Perdagangan Akan Lakukan Demo Tangkahan Pasir
Ketua DPRD Hadiri Peringatan Hari Jadi Desa Sukamulia Secanggang
Pemkab Karo Sosialisasi Tata Cara Pemberian Tambahan Penghasilan PNS
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU