Hotel Tapian Nauli
Home  / 
Partai Penguasa Copot Mugabe dari Jabatan Ketua Umum
Keselamatan Mugabe Terancam Jika Tetap Ngotot Jadi Presiden
Senin, 20 November 2017 | 17:44:36
SIB/AP
Sambil mengusung poster sejumlah demonstran menggelar aksi demo di Zimbabwe Grounds, Harare, Sabtu (18/11) menuntut pengunduran diri presiden Robert Mugabe. Pemimpin kelompok oposisi mengatakan bahwa keselamatan presiden yang kini berada dalam tahanan rumah tersebut terancam bila tidak menyatakan mundur dari jabatannya.
Zimbabwe (SIB) -Kekuasaan Robert Mugabe, semakin berada di ujung tanduk. Partai penguasa, ZANU-PF, disebutkan telah mencopot Mugabe dari pucuk kepemimpinan partai tersebut. Posisi Mugabe di ZANU-PF digantikan Emmerson Mnangagwa. Seperti dilansir dari Reuters dan AFP, melalui sumber masing-masing dalam partai tersebut menyatakan mantan deputi Mugabe itu akan memutuskan nasib sang penguasa selanjutnya.

"Dia telah dicabut [dari partai]," kata delegasi tersebut seperti dikutip Reuters. "Mnangagwa pemimpin baru kami." "Satu resolusi telah diadopsi untuk mencabut presiden dan mengangkat Mnangagwa sebagai pemimpin partai," kata delegasi yang dikutip AFP. Istri dari Mugabe, Grace, yang sebelumnya berambisi meneruskan kerja suaminya itu pun telah dinyatakan dicabut dari partai.

Berbicara sebelum pertemuan, pimpinan veteran perang, Chris Mutsvangwa, mengatakan Mugabe sudah habis waktunya untuk menegosiasikan kepergiannya dari kursi kekuasaan negara. Kini, presiden berusia 93 tahun itu pun disarankan Mutsvangwa agar mundur dan keluar dari negara agar situasi kondusif.

Mutsvangwa bahkan mengancam akan menyerukan aksi di jalanan lebih besar andai Mugabe menolak untuk pergi. Jika Robert Mugabe terus bersikeras untuk menolak mundur dari jabatannya sebagai Presiden Zimbabwe, bukan tidak mungkin keselamatannya terancam.

Sebab pemimpin veteran perang Zimbabwe tersebut telah menegaskan pada Minggu (19/11) bahwa pihaknya akan mengeluarkan massa melawan sosok politisi berusia 93 tahun itu. Ancaman itu disampaikan Chris Mutsvangwa jika Mugabe tetap menolak mundur setelah militer mencoba mengkudeta pemerintahan di Zimbabwe. Sejauh ini, Mugabe masih bersikeras.

Ditanya apa yang mungkin terjadi jika Mugabe tetap bersikap demikian, tanpa ragu Mutsvangwa menjawab bahwa kelompok massanya bisa bertindak lebih jauh. "Kami akan membawa kembali massa dan mereka akan menyelesaikan urusannya," tuturnya, seperti dilaporkan kantor berita Reuters.

Robert Mugabe sendiri tidak takut. Ia masih hadir secara terbuka di acara wisuda universitas di ibu kota Harare. Ini merupakan kemunculan pertama Mugabe di publik sejak upaya kudeta militer terhadap pemerintah beberapa hari terakhir. Mugabe dan keluarga dilaporkan sempat menjadi tahanan rumah oleh militer saat kudeta berlangsung, Rabu (15/11) lalu. Militer mencoba mengambil alih Zimbabwe dengan menduduki gedung pemerintah dan memblokade jalanan ibu kota dengan tank-tanknya.

Mugabe sebenarnya sudah tua. Saat hadir di acara wisuda itu saja ia sudah berkursi roda. Ia sudah memerintah Zimbabwe sejak 1987 dan bertekad berkuasa seumur hidup. Zimbabwe sendiri baru menyatakan kemerdekaannya dari jajahan Inggris pada 1980.

Upaya kudeta di Zimbabwe muncul sejak Wakil Presiden Emmerson Mnangagwa dipecat beberapa waktu lalu. Sejumlah pengamat mengatakan, ia dipecat karena dijagokan menggantikan Mugabe.

Setelah pemecatan itu terjadi, istri Mugabe, Grace, pun langsung disebut-sebut sebagai tokoh yang layak mengisi posisi Mnangagwa. Di sisi lain, masyarakat Zimbabwe tetap mencari tokoh baru menggantikan presiden mereka dalam transisi pemerintahan.

Di sisi lain, kondisi di Zimbabwe itu dinilai sejumlah pengamat bisa menjalar ke negara-negara Afrika lainnya yang masih dipimpin penguasa menahun seperti Uganda yang dipimpin Yoweri Museveni sejak 1986 dan Republik Demokrasi Kongo yang dipimpin Joseph Kabila sejak 2001.

Gelar Aksi Long March
Sementara itu, warga Zimbabwe yang menetap di Inggris berkumpul bersama di sudut Kota London untuk menyuarakan aspirasi tentang krisis politik di negara mereka. Sekira 150 orang berkumpul di depan gedung Kedutaan Besar Zimbabwe guna mendukung runtuhnya rezim Presiden Robert Mugabe.

Tak hanya menggelar aksi long march, komunitas warga Zimbabwe di Inggris huga menari dan minum bersama sambil menyerukan teriakan agar Mugabe mundur. Mereka juga membawa plakat dan spanduk yang bertuliskan "Mugabe Out" atau Mugabe pergilah. Meski hujan sempat menggunyur, massa tetap semangat melancarkan aksi.

"Hujan turun dan cuaca sangat dingin. Sebenarnya saya tidak perlu ada di sini, tapi saya harus melakukannya karena saya sadar ini adalah awal dari semuanya. Dan akhir bagi Robert Mugabe," ujar seorang peserta yang merupakan mantan tentara Zimbabwe, Oswell Mwaimboti sebagaimana disitat dari Strait Times, Minggu (19/11).
Aksi demonstrasi memprotes Mugabe sendiri bukan pertama kalinya digelar di Inggris. Pada 2002, demo serupa juga digelar di lokasi yang sama. Warga Zimbabwe menegaskan bahwa sudah saatnya bagi Mugabe untuk turun dan mengakhiri kepemimpinannya yang nyaris berlangsung selama 40 tahun.

"Saya telah melihat semuanya (kisruh di Zimbabwe) dan ini membuka mata saya. Ini adalah saat yang mengerikan, tapi harapan dimulai dari dsi sendiri, jika kita tak memiliki harapan maka tidak akan ada masa depan. Apa yang kita lakukan hari ini di seluruh dunia adalah pesan yang jelas bagi Mugabe. Kita tak ingin hidup dalam ketakutan lagi. Kami tidak seharusnya miskin," ujar seorang warga, Lazarus Matiyemga (50) yang pindah ke Inggris saat masih berusia 17 tahun. (Rtr/dtc/CNNI/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Drainase Nagori Pinang Ratus Butuh Pengerukan
Jalan Nasional Jurusan Medan-Kuta Cane Berlubang dan Rawan Kecelakaan
Dianggap Melanggar Perjanjian, Warga Perdagangan Akan Lakukan Demo Tangkahan Pasir
Ketua DPRD Hadiri Peringatan Hari Jadi Desa Sukamulia Secanggang
Pemkab Karo Sosialisasi Tata Cara Pemberian Tambahan Penghasilan PNS
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU