Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Korut Sebut Tur Donald Trump ke Asia sebagai Penghasut Perang
* Trump: Asia Tersandera Fantasi Nuklir Kim Jong-un
Minggu, 12 November 2017 | 19:19:07
Pyongyang (SIB)- Otoritas Korea Utara (Korut) mengomentari kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke kawasan Asia. Dalam komentarnya, Korut menyebut Trump sebagai 'penghancur' dan 'penghasut perang'. Korut juga menyebut Trump memohon agar perang terjadi di Semenanjung Korea. Seperti dilansir Reuters dan AFP, Sabtu (11/11), komentar ini merupakan komentar pertama Korut soal kunjungan kenegaraan Trump ke Asia. Sejak awal November lalu, Trump telah mengunjungi Jepang, Korea Selatan (Korsel) dan China. Kini Trump berada di Vietnam untuk selanjutnya melanjutkan kunjungan ke Filipina.

Dari berbagai kunjungannya itu, Trump memang banyak membahas soal ancaman nuklir Korut. Dia bahkan berupaya menggalang dukungan internasional untuk menghentikan program nuklir rezim komunis itu. Trump menyerukan dunia internasional untuk bersatu melawan Korut.

"Perjalanannya (Trump-red) terkini ke kawasan sekitar kita merupakan kunjungan menghasut perang untuk konfrontasi menyingkirkan DPRK dari kemampuan nuklir untuk pertahanan diri," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut, yang tidak disebut namanya, seperti dikutip kantor berita Korean Central News Agency (KCNA). "Trump, selama kunjungannya, mengungkapkan wujud aslinya sebagai penghancur stabilitas dan perdamaian dunia dan memohon agar perang nuklir terjadi Semenanjung Korea," imbuh pernyataan itu. Saat menutup kunjungannya di Korsel, pada Rabu (8/11), Trump memperingatkan Korut untuk tidak meremehkan AS. Namun Trump juga menawarkan pemimpin Korut Kim Jong-Un nasib baik jika dia bersedia menghentikan ambisi nuklirnya.

Menanggapi hal itu, Korut menyatakan peringatan semacam itu tidak akan mengecilkan niat Korut dalam mengembangkan program senjata nuklirnya. "Pernyataan sembrono oleh seorang lansia pikun seperti Trump tidak akan pernah bisa membuat kami takut atau menghentikan kemajuan kami," tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut itu. "Itu malah mendorong kami untuk mempercepat upaya mencapai tujuan besar melengkapi kekuatan negara nuklir," tandasnya.

Tersandera Fantasi Nuklir Kim Jong-un
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan bahwa sekarang ini Asia sedang tersandera fantasi ambisi nuklir Korea Utara dan harus segera melepaskan diri. "Masa depan kawasan ini tak boleh tersandera oleh fantasi seorang diktator atas kekerasan dan ancaman nuklirnya," ujar Trump dalam pidatonya di hadapan forum tahunan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Vietnam, Jumat (10/11).

Melanjutkan pernyataannya, Trump berkata mengatakan bahwa kawasan Asia harus "berdiri bersama mendeklarasikan bahwa setiap langkah rezim Korut menuju penguatan senjata mereka, mendekatkan mereka pada bahaya yang lebih hebat." Menurut Trump, China adalah kunci dari permasalahan Korut ini. Trump pun kembali mendesak China untuk memangkas hubungan dagang mereka dengan Korut yang dianggap dapat membantu Pyongyang mengembangkan senjata nuklirnya. Desakan ini juga sudah disampaikan oleh Trump saat bertemu dengan Presiden Xi Jinping di Beijing pada awal pekan ini. Dia meminta Xi untuk "bertindak cepat" untuk mengatasi masalah Korut.

Dalam acara yang sama, Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, juga mengatakan bahwa negaranya masih memiliki "dua atau tiga saluran" yang terbuka dengan Korut dan siap mendengar keinginan Kim Jong-un. "Sebagai bagian dari upaya diplomatik, kami selalu siap mendengar apa yang ingin dia katakan seccara diplomatis, karena saya pikir, akan ada saatnya kita akan memulai pembicaraan itu," ucapnya, sebagaimana dikutip AFP.

Selama ini, Tillerson memang selalu menekankan pentingnya dialog dalam menangani masalah Korut, berbeda dengan Trump yang selalu melontarkan ancaman perang terhadap Kim Jong-un.

Melalui kantor berita negaranya, Korut menyatakan bahwa pernyataan Tillerson itu hanya mimpi bodoh karena senjata nuklir Pyongyang tak bisa ditawar lagi. "Kami tidak menolak dialog, tapi kami tak akan pernah menaruh isu kepentingan pemimpin tertinggi Korut dan keamanan warganya di atas meja perundingan. Kami tidak tertarik dengan dialog dan negosiasi semacam itu," tulis media tersebut.

Ancaman rudal ini mulai menjadi perhatian besar Washington setelah Kim Jong-un dalam pidato awal tahunnya mendeklarasikan tekad untuk mengembangkan program rudalnya hingga dapat mencapai wilayah AS. Setelah sejumlah uji coba rudal, Korut kemudian mengancam akan meluncurkan rudal ke Guam, wilayah AS di Pasifik. Dalam peta perencanaan Kim, rudal itu akan melintasi langit Jepang sebelum jatuh di Guam.

Ketegangan kian tinggi setelah Korut menguji coba rudal jarak menengah yang melintasi wilayah Jepang sebelum jatuh di Samudera Pasifik. Trump geram hingga saat berpidato di hadapan sidang Majelis Umum PBB, ia bersumpah akan benar-benar "menghancurkan Korut." (AFP/Detikcom/CNNI/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Menpar Tinjau Kesiapan Bandara Internasional Silangit
Takut Ditangkap, Taipan Arab Saudi Pindahkan Harta ke Luar Negeri
Presiden Jokowi Belum Putuskan Robert Pakpahan Jadi Dirjen Pajak
Novanto Tegaskan Dirinya Masih Ketua DPR
Kereta Kencana dari Solo Ikuti Geladi Kirab Kahiyang-Bobby di Medan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU