Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Duterte Akui Pernah Tikam Orang Hingga Tewas
* Tantang Dunia Gelar Konferensi HAM di Filipina
Sabtu, 11 November 2017 | 15:19:20
Da Nang (SIB)- Presiden Filipina Rodrigo Duterte kembali memberikan pengakuan mengejutkan saat berbicara di depan komunitas warga Filipina di kota Da Nang, Vietnam. Duterte mengaku dirinya pernah menikam orang hingga tewas saat masih remaja. Seperti dilansir AFP, Jumat (10/11), saat berbicara di depan komunitas warga Filipina di Vietnam, di sela-sela menghadiri forum APEC, Duterte juga mengancam akan menampar seorang wanita utusan PBB jika dia bertemu dengannya. Duterte juga menggunakan kata-kata vulgar untuk mengomentari para pengkritiknya.

"Ketika saya masih remaja, saya keluar-masuk penjara. Saya ikut perkelahian di sini, ikut perkelahian di sana," ucap Duterte dalam forum itu. "Pada usia 16 tahun, saya sudah membunuh orang. Orang sungguhan, dalam sebuah perkelahian, terjadi penusukan. Saya baru berusia 16 tahun. Itu hanya menengok ke belakang. Seberapa banyak lagi jika sekarang saya menjadi seorang presiden?" imbuhnya.

Duterte memenangkan pilpres Filipina tahun lalu, setelah menjanjikan akan memberantas narkoba dalam operasi besar-besaran yang akan menewaskan hingga 100 ribu orang. Sejak Duterte menjabat 16 bulan lalu, kepolisian dalam operasinya telah menewaskan 3.967 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 2.290 orang tewas dalam serangkaian tindak pidana terkait narkoba, sedangkan sisanya tidak dijelaskan pemicu kematiannya.

Duterte yang kini berusia 72 tahun ini masih populer di kalangan rakyat Filipina, yang kebanyakan meyakini dia membuat lingkungan lebih aman. Namun kritikan juga menghujani Duterte, tidak hanya dari luar negeri tapi juga dari dalam negeri. Para pengkritik kebanyakan mengecam Duterte karena mendalangi praktik pembunuhan massal di luar hukum, yang dilakukan oleh para polisi korup dan pembunuh bayaran. Duterte telah menyangkal tudingan semacam itu.

Presiden yang kontroversial ini kerap menjadi pemberitaan utama karena kata-katanya yang vulgar dan kasar. Tahun lalu, Duterte menyatakan dirinya akan 'senang untuk membantai' 3 juta pecandu narkoba. Duterte juga pernah menyebut mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama sebagai 'anak pelacur' setelah Obama mengkritiknya soal HAM.

Sebelumnya pada Desember 2016, Duterte juga mengaku dirinya pernah menembak mati seorang tersangka pidana saat dirinya masih menjabat Wali Kota Davao. Dalam pernyataan terpisah menanggapi pertanyaan itu, juru bicara kepresidenan menyebut pembunuhan yang disebutkan Duterte dilakukan dalam 'aksi polisi yang sah' secara hukum.

Berulang kali, sejumlah ajudan Duterte menuturkan kepada wartawan untuk tidak mudah mempercayai semua hal yang dilontarkan Duterte. Mereka memperingatkan wartawan bahwa Duterte gemar melontarkan lelucon atau menyampaikan sesuatu secara 'hiperbola'.

Duterte juga menantang dunia untuk menggelar konferensi mengenai hak asasi manusia, di Filipina. "Ayo adakan pertemuan mengenai bagaimana kita melindungi hak asasi untuk semua umat manusia," ujar Duterte setelah bertemu dengan komunitas Filipina di Vietnam.

Duterte kemudian menyinggung kecaman HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa, Agnes Callamard, atas perang narkoba Filipina yang hingga kini sudah merenggut 3.900 nyawa tanpa proses peradilan jelas. "Apa yang membuat kematian orang di Filipina lebih penting ketimbang anak-anak lainnya di dunia yang dibantai dan dibunuh?" ucap Duterte, sebagaimana dikutip Reuters.

Menurut Duterte, di belahan dunia lain terjadi banyak pelanggaran HAM yang lebih parah ketimbang Filipina. Dia pun menantang Callamard untuk mengomentari korban pengeboman dan kekerasan di Timur Tengah. "Apa yang Anda lakukan selama ini? Mengapa sangat tertarik dengan narkoba?" tanya Duterte.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga menyindir dua anggota parlemen Amerika Serikat, James McGovern dan Randy Hultgren, yang mengkritik Presiden Donald Trump karena mengundang Duterte ke Washington. Kedua pejabat itu bahkan meminta untuk menyinggung masalah kampanye narkoba itu dalam kunjungannya ke Filipina pekan depan.

Tanpa menyebut nama kedua pejabat itu, Trump berkata, "Jika kalian tidak menyukai saya, saya juga tidak menyukai kalian. Kita sama. Saya akan mengatakan kepada mereka, kalian sudah kelewatan. Apa yang membuat kalian berpikir saya berencana mengunjungi negara kalian? (Detikcom/CNNI/f)




Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Kepala LAN RI Dr Adi Suryanto MSi : PP No 11/2017, Membawa Transformasi Baru Terhadap Tata Kelola ASN
Lemhannas Minta Pemerintah Perluas Kewenangan UKP Pancasila
Benny Pasaribu: Untuk Memenuhi KEJ, Wartawan Indonesia Perlu Memahami Norma Keagamaan
Gubsu Ajak Semua Elemen Dukung Pelestarian Hutan Tropis
Dalang Pembunuh Massal Top AS Charles Manson Meninggal
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU