Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Paus Fransiskus akan Temui Biksu Ternama dan Jenderal Militer Myanmar
Kamis, 12 Oktober 2017 | 14:21:50
Yangon (SIB)- Puluhan ribu orang membanjiri sebuah stadion bola di Yangon, Myanmar untuk mengikuti aksi demo lintas agama. Aksi ini dimaksudkan untuk menunjukkan persatuan di negara yang tengah didera tuduhan melakukan kekerasan terhadap warga muslim Rohingya di negara bagian Rakhine.
Para biksu Buddha, biarawati dan warga muslim dan Hindu termasuk di antara mereka yang ikut serta dalam aksi yang digelar, Selasa (10/10) waktu setempat. Mereka berkumpul untuk menyatakan dukungan bagi pemerintahan Aung San Suu Kyi terkait penanganan krisis di Rakhine.

Wilayah Rakhine dilanda konflik sejak akhir Agustus lalu, setelah para militan Rohingya menyerang puluhan pos polisi dan sebuah pangkalan militer Myanmar. Militer Myanmar membalas serangan-serangan tersebut dengan melancarkan operasi besar-besaran, yang telah memaksa lebih dari setengah juta warga Rohingya pergi mengungsi ke negara tetangga Bangladesh.

Eksodus massal warga Rohingya tersebut telah mengejutkan dunia. Badan PBB bahkan menuding militer Myanmar melakukan pembersihan etnis terhadap Rohingya. Namun konflik ini dipandang secara berbeda oleh publik Myanmar, khususnya warga Buddha, yang menyalahkan Rohingya sebagai pemicu konflik.

Dalam aksi demo di Yangon yang diikuti sekitar 30 ribu orang, warga menyatakan dukungan bagi Suu Kyi dan partainya, National League for Democracy (NLD), yang ikut mengorganisir aksi ini. "Ini seremoni yang menunjukkan pada dunia bahwa rakyat dari semua agama di negara kami adalah bersahabat dan saling menyayangi," tutur Win Maung, seorang politisi NLD yang ikut mengorganisir demo. Dalam aksi ini, banyak peserta aksi membawa gambar Suu Kyi atau mengenakan kaos bergambar wajahnya.

Kardinal Myanmar, Charles Maung Bo dalam pidatonya di depan massa, membela Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian yang belakangan kerap dikritik karena dianggap tak berbuat banyak untuk menghentikan kekerasan terhadap warga Rohingya.

"Dia tak pernah meminta hadiah Nobel Perdamaian," cetus Bo menanggapi seruan dari berbagai pihak untuk mencabut hadiah Nobel dari Suu Kyi. "Sekarang dunia melihat Myanmar sebagai negara tak punya hati. Namun sebenarnya agama universal rakyat Myanmar adalah kasih sayang dan simpati," imbuhnya.

Sementara itu Paus Fransiskus akan bertemu dengan sejumlah biksu ternama Myanmar, juga jenderal militer dan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi dalam kunjungannya pada November mendatang. Kunjungan ini dilakukan saat Myanmar dilanda krisis Rohingya.

Menurut jadwal agenda yang dirilis otoritas Vatikan, Paus yang pemimpin umat Katolik sedunia ini akan memberikan dua kali misa di Myanmar yang didominasi penganut Buddha dan satu kali misa di Bangladesh yang didominasi warga muslim.

Menurut Kardinal Myanmar, Charles Maung Bo, terdapat sekitar 700 ribu umat Katolik Roma di Myanmar, yang berpenduduk 51,4 juta jiwa. Sedangkan di Bangladesh, umat Katolik termasuk kelompok minoritas kecil. Paus Fransiskus akan menjadi Paus pertama yang mengunjungi Myanmar dan merupakan kunjungan kedua di Bangladesh, setelah Paus Yohanes Paulus II tahun 1986 silam. Jadwal dari Vatikan itu menyebut Paus akan mengunjungi Myanmar terlebih dahulu pada 27-30 November, kemudian melanjutkan kunjungan ke Bangladesh pada 30 November sampai 2 Desember.

Dijadwalkan Paus akan tiba di Yangon, kota terbesar di Myanmar, pada 27 November setelah terbang selama lebih dari 10 jam. Paus akan beristirahat selama 24 jam sebelum melanjutkan perjalanan ke ibu kota Naypyitaw. Di sana, Paus akan menggelar pembicaraan tertutup dengan Presiden Htin Kyaw dan Suu Kyi, menjabat Penasihat Negara dan Menteri Luar Negeri Myanmar. Secara de-facto, Suu Kyi merupakan pemimpin Myanmar.

Dituturkan seorang pejabat senior Vatikan, bahwa para pemimpin militer Myanmar akan menghadiri pertemuan terpisah yang digelar secara publik, saat Paus menyampaikan pidato di hadapan politikus dan diplomat di negara itu. Ini akan menjadi momen Paus menyampaikan pidato penting dalam kunjungannya di Myanmar ini.

Kemudian pada 29 November, Paus akan bertemu dengan otoritas tertinggi Buddha, Sangha Maha Nayaka, yang merupakan panel biksu senior yang bertanggung jawab atas aturan spiritual. Panel biksu ini didukung penuh oleh pemerintah Myanmar.

Kunjungan Paus Fransiskus ini dilakukan saat Myanmar menghadapi kecaman internasional terkait krisis Rohingya. Selama ini, Paus Fransiskus rutin berbicara soal pengungsi Rohingya dan beberapa kali membela mereka. Salah satunya pada Februari lalu, Paus Fransiskus menyebut Rohingya disiksa dan dibunuh karena mereka ingin mempraktikkan budaya dan keyakinan Islam mereka. (Detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Jokowi Tunjuk Din Jadi Utusan Khusus Presiden untuk Dialog Agama
Pelapor Vonis Praperadilan Novanto Diperiksa MA 3 Jam
Komnas HAM: Ahmadiyah Korban Diskriminasi karena UU PNPS
Satpol PP Turunkan Spanduk Pengusiran Dubes AS di Dukuh Atas
MA Vonis Mati Agus Si Pembunuh 5 Nyawa Satu Keluarga
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU