Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Deklarasi Kemerdekaan Diteken, Catalonia Tunda Pemisahan dari Spanyol
Kamis, 12 Oktober 2017 | 14:20:44
SIB/Rtr
Presiden Catalonia Carles Puigdemont menandatangani deklarasi kemerdekaan di Parlemen Wilayah Catalonia di Barcelona, Spanyol, Selasa (10/10). Puigdemont meminta parlemen Catalonia untuk menunda pemisahan diri itu dengan terlebih dahulu membuka ruang dialog dalam beberapa pekan mendatang" dengan Madrid.
Barcelona (SIB)- Pemimpin Catalonia telah menandatangani deklarasi kemerdekaan dari Spanyol, Selasa (10/10), namun untuk sementara menunda pemisahan diri dari Madrid. Sementara Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, akan memimpin rapat darurat kabinetnya pada Rabu (11/10) waktu setempat di Madrid, untuk membahas tanggapan pemerintah pusat atas krisis politik tersebut.

Saat berpidato di hadapan anggota parlemen lokal di Barcelona, Presiden Catalonia Carles Puigdemont mengatakan, dia telah menerima "mandat rakyat agar Catalonia menjadi republik independen" setelah referendum yang dilarang pada 1 Oktober. Hasil dari referendum itu menunjukkan, 90 persen pemilih ingin Catalonia memisahkan diri dari Spanyol.

Namun, pria berusia 54 tahun itu meminta parlemen Catalonia untuk menunda pemisahan diri itu dengan terlebih dahulu membua ruang " dialog dalam beberapa pekan mendatang" dengan Madrid. Rajoy telah bersumpah untuk menggunakan semua kekuatannya untuk mencegah pemisahan diri Catalonia dari Spanyol dan hendak mengevaluasi status semi otonomi untuk wilayah itu. Ia juga terus menekankan bahwa Spanyol tidak akan mau berdialog sebelum Catalonia menghapuskan kampanye kemerdekaan.

Sejauh ini tidak jelas apakah dokumen pernyataan kemerdekaan itu memiliki kekuatan hukum atau tidak karena referendum pada 1 Oktober dilarang Mahkamah Konstitusi. Selain itu, pemisahan diri harus disahkan oleh parlemen Catalonia.

Puigdemont di depan parlemen memuji proses referendum dan mengkritik tindakan pemerintah Spanyol. Namun, ia juga khawatir tentang pertikaian yang mungkin terjadi antara kubu yang menentang dan menolak kemerdekaan. "Kami semua adalah bagian dari masyarakat yang sama dan kita perlu melangkah maju bersama. Satu-satunya jalan maju adalah demokrasi dan perdamaian," kata Puigdemont kepada anggota parlemen.

Wakil Perdana Menteri, Soraya Saenz de Santamaria, mengatakan kepada wartawan segera setelah penandatanganan kemerdekaan itu bahwa Puigdemont adalah "orang yang tidak tahu di mana dia berada, ke mana dia pergi atau dengan siapa dia ingin pergi".

Penundaan ini juga menuai tanggapan beragam dari warga Catalonia yang sebelumnya sudah menyumbangkan suaranya dalam referendum pada 1 Oktober lalu. Seorang warga Barcelona, Maria Rosa Bertran, pun mengaku kecewa dengan penundaan deklarasi kemerdekaan ini karena membuat Catalonia kembali ke masa penuh ketidakpastian.

"Menurut saya, situasi akan lebih buruk karena kami akan menderita lebih lama. Ketidakpastian dan tidak adanya keputusan adalah hal terburuk yang terjadi pada kami," ucap Bertran. Sementara itu, ratusan ribu orang di Catalonia berunjuk rasa menuntut persatuan dengan Spanyol. Para demonstran menyebut diri mereka sebagai "mayoritas yang selama ini bungkam."

Partai sayap kiri Catalonia, CUP, yang merupakan sekutu kunci bagi pemerintahan Presiden Catalonia Carles Puigdemont menyesalkan kesempatan deklarasi kemerdekaan yang terbuang begitu saja. Anggota Partai CUP, Anna Gabriel mengatakan, bahwa sebetulnya hari ini merupakan kesempatan emas bagi Catalonia untuk 'bercerai' dari Spanyol. "Kami percaya bahwa hari ini adalah hari untuk dengan sungguh-sungguh mendeklarasikan sebuah republik Catalan, dan mungkin kami melewatkan kesempatan," Anna yang juga anggota Parlemen Catalonia.

Desakan agar pemerintah Catalonia tidak mengumumkan kemerdekaan diutarakan Presiden Uni Eropa Donald Tus. Tusk, mantan perdana menteri Polandia yang memimpin KTT Uni Eropa ini dalam sebuah pidato di forum regional Uni Eropa di Brussels mengatakan, pihaknya berkomitmen dan berusaha untuk merefleksikan pemerintahan Uni Eropa. Karenanya dia meminta agar para pemimpin Catalonia untuk memikirkan konsekuensi terburuk bila berpisah dari Spanyol.

"Saya meminta Anda (Puigdemont) untuk menghormati, dalam niat Anda, tatanan konstitusional dan tidak mengumumkan keputusan yang membuat dialog semacam itu tidak mungkin. Keragaman tidak boleh, dan tidak perlu, menimbulkan konflik, yang konsekuensinya akan berdampak buruk bagi orang Catalan, untuk Spanyol dan seluruh Eropa," ujar Tusk. Tusk mengatakan bahwa dirinya juga mendesak Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy untuk mencari solusi atas masalah tersebut tanpa menggunakan kekuatan dan kekuasaannya lewat aparat. (CNNI/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Jokowi Tunjuk Din Jadi Utusan Khusus Presiden untuk Dialog Agama
Pelapor Vonis Praperadilan Novanto Diperiksa MA 3 Jam
Komnas HAM: Ahmadiyah Korban Diskriminasi karena UU PNPS
Satpol PP Turunkan Spanduk Pengusiran Dubes AS di Dukuh Atas
MA Vonis Mati Agus Si Pembunuh 5 Nyawa Satu Keluarga
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU