Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Pertama Dalam Sejarah Kepresidenan AS
Presiden Trump Dikatakan Bodoh oleh Menlunya
* Komisi Intelijen Senat Peringatkan, Campur Tangan Rusia Belum Berakhir
Sabtu, 7 Oktober 2017 | 12:32:13
Washington (SIB) -Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan marah atas pemberitaan bahwa Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Rex Tillerson nyaris mengundurkan diri pada Juli lalu dan pernah menyebut dirinya "bodoh." Menurut media NBC News, Jumat (6/10), yang mengutip pejabat-pejabat senior pemerintahan Trump, Presiden Trump melontarkan kemarahannya pada kepala stafnya, John Kelly dan pejabat-pejabat lainnya di Gedung Putih setelah NBC News melaporkan adanya ketegangan antara Trump dan Tillerson.

Dalam pemberitaan NBC News yang menjadi sumber kemarahan Trump disebutkan bahwa, Wakil Presiden AS Mike Pence dan pejabat-pejabat tinggi lainnya membujuk Tillerson untuk tidak mundur. Namun Pence juga meminta Tillerson untuk menghormati Trump dan menekankan bahwa setiap permasalahan harus diselesaikan di dalam.

Dalam rapat di Departemen Pertahanan dengan para anggota tim keamanan nasionalnya dan para anggota Kabinet pada 20 Juli lalu, Tillerson menyebut Trump "bodoh". Pada Rabu (4/10) pagi waktu setempat, Tillerson menggelar konferensi pers untuk membahas pemberitaan NBC tersebut. Dia membantah dirinya pernah mempertimbangkan untuk mundur, namun dia tidak membantah ataupun membenarkan pernah menyebut Trump 'bodoh'.

"Tak pernah ada pertimbangan dalam pikiran saya untuk mundur. Saya bertugas atas penunjukan presiden dan saya ada di sini selama presiden menganggap saya bisa berguna untuk mencapai tujuan-tujuannya," kata Tillerson kepada para wartawan.

Ketika ditanya wartawan apakah dia menyebut Trump 'bodoh', Tillerson tidak membantah ataupun membenarkan. "Saya tak akan berurusan dengan hal-hal kecil seperti itu," cetusnya. Namun kemudian, juru bicara Departemen Luar Negeri membantah Tillerson pernah menyebut Trump 'bodoh' dan menyatakan bahwa Tillerson tak pernah mempertimbangkan untuk mundur.

Media-media AS melaporkan bahwa ketegangan antara Trump dan Tillerson telah merebak dalam beberapa bulan ini. Keduanya kerap berbeda pandangan mengenai sejumlah isu penting, termasuk Korea Utara dan Iran. Namun Trump dan pejabat-pejabat pemerintahannya di depan publik membantah pemberitaan mengenai ketegangan antara keduanya.

Sementara itu Komisi Intelijen Senat Amerika Serikat masih aktif menyelidiki apakah ada pihak tertentu di kubu kampanye President Donald Trump yang berkolusi dengan Rusia untuk mempengaruhi Pemilu AS 2016. Ketua komisi dan seorang tokoh penting Partai Demokrat mengatakan, campur tangan Rusia yang agresif bisa meluas dan semua negara bagian diperingatkan untuk waspada.

Komisi Intelijen Senat AS tidak mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan dalam keterangannya kepada pers,  terkait orang-orang dekat Trump selama masa kampanye. Ketua Komisi Intelijen, Senator Richard Burr dari Partai Republik, mengatakan, "Isu mengenai kemungkinan adanya kolusi belum bisa dihapus. Masih banyak yang harus kami lakukan terkait dugaan kolusi. Namun, kami mendapat gambaran yang semakin jelas mengenai apa yang terjadi."

Meski demikian, setelah mewawancarai hampir 100 saksi dan mengevaluasi hampir 100.000 dokumen, komisi itu mengungkapkan sejumlah kesimpulan. Senator Mark Warner, anggota komisi itu dari Partai Demokrat, mengungkapkan, "Langkah-langkah aktif Rusia tidak berakhir pada hari Pemilu 2016."

Para penyelidik AS meyakini, para peretas Rusia berusaha untuk menerobos sistem pemberian suara di lebih dari 20 negara bagian. Para peretas itu tidak berhasil menyelesaikan misi mereka, dan, menurut Senator Burr, komisinya dapat mengukuhkan bahwa penghitungan suara total tidak terpengaruh.

Komisi itu juga mengingatkan, ancaman dari Rusia ini masih membayangi. Mereka mengatakan, bukan tidak mungkin, Rusia akan mempengaruhi pemilihan di dua negara bagian AS, yang akan berlangsung beberapa pekan lagi, dan pemilu sela yang berlangsung tahun depan.

Bagaimana Rusia memanfaatkan media sosial untuk menyebar informasi keliru dan menciptakan kekacauan juga menjadi sorotan. Mayoritas tim keamanan nasional Trump menyetujui kesimpulan komunitas intelijen bahwa Rusia mencampuri pemilu tahun lalu untuk mengusahakan kemenangan Trump.

Namun, presiden, hingga sejauh ini, belum mengatakan, ia mempercayainya. Selama penyelidikan, para anggota komisi itu dan staf penyelidik umumnya melangsungkan wawancara tertutup dengan beberapa orang dekat Trump dan komunitas intelijen

Bertemu Pembocor Hubungan Trump-Rusia
Penyelidik Amerika Serikat dilaporkan sudah bertemu dengan Christopher Steele, mantan mata-mata Inggris yang membocorkan isu hubungan antara tim kampanye Donald Trump dan Rusia pada masa pemilihan umum 2016. Informasi mengenai pertemuan ini diperoleh dari dua sumber yang dekat dengan penyelidikan.

Pertemuan antara penyelidik dari dewan khusus pimpinan mantan Kepala FBI, Robert Mueller, bertemu dengan Steele pada musim panas lalu. "CNN mengetahui bahwa FBI dan komunitas intelijen AS menanggapi bocoran Steele lebih serius ketimbang badan-badan lain yang mengetahuinya," demikian bunyi laporan CNN, Kamis (5/10).

Nama Steele menjadi perhatian publik setelah merilis berkas penelitian politik setebal 35 halaman yang menguak kemungkinan intervensi Rusia untuk memenangkan Trump dalam pemilu lalu. Berkas itu mencakup klaim bahwa Rusia memiliki video prostitusi yang direkam saat Trump mengunjungi salah satu hotel mewah di Moskow pada 2013. Video ini diduga dapat digunakan Rusia untuk pemerasan.

Selain itu, berkas itu juga mengungkap kemungkinan para penasihat Trump menjalin hubungan rutin dengan sejumlah pejabat intelijen Rusia selama proses pemilu dan telah bertukar informasi "setidaknya" selama delapan tahun. Memo ini tersebar pada Januari lalu, tak lama setelah Trump dilantik menjadi Presiden AS.
Penyelidikan besar-besaran pun langsung dilaksanakan, sementara Trump terus menyebut bahwa memo ini "palsu." (Detikcom/CNNI/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Jokowi Tunjuk Din Jadi Utusan Khusus Presiden untuk Dialog Agama
Pelapor Vonis Praperadilan Novanto Diperiksa MA 3 Jam
Komnas HAM: Ahmadiyah Korban Diskriminasi karena UU PNPS
Satpol PP Turunkan Spanduk Pengusiran Dubes AS di Dukuh Atas
MA Vonis Mati Agus Si Pembunuh 5 Nyawa Satu Keluarga
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU