Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Qatar Sebut Sanksi Arab Saudi Cs Lebih Keras dari Tembok Berlin
Senin, 19 Juni 2017 | 13:59:59
Doha (SIB) -Pejabat Qatar menuding Arab Saudi dan sekutunya melakukan 'pengepungan' terhadap negaranya. Sanksi-sanksi yang diterapkan Saudi cs terhadap Qatar disebut lebih keras dari Tembok Berlin karena memisahkan keluarga-keluarga.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (17/6), Ketua Komisi HAM Nasional Qatar, Ali bin Smaikh al-Marri, menyebut langkah keras yang dilakukan Saudi cs mengarah pada hukuman kolektif untuk Qatar. Al-Marri menyebut langkah keras Saudi cs itu telah membuat seorang ibu terpisah dari bayinya.

"Pengepungan ini dan langkah-langkah yang diambil (Saudi cs) mengarah pada apa yang disebut hukuman kolektif," ucap Al-Marri kepada wartawan di Jenewa, Swiss, saat menyerukan dunia internasional untuk ambil tindakan terkait krisis Qatar.

Saudi, Uni Emirat Arab (UAE), Bahrain, Mesir, Yaman, Libya, Maladewa dan Mauritania kompak memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, sejak awal Juni ini. Al-Marri menyebut, pemutusan hubungan itu telah menginjak-injak hak asasi setiap warga negara dari kawasan Timur Tengah.

Negara-negara itu menuding Qatar mendukung terorisme dan mendukung agenda Iran, musuh Saudi. Qatar menyangkal seluruh tudingan. Negara-negara itu memberikan waktu 14 hari kepada seluruh warga negara Qatar yang ada di wilayahnya untuk segera angkat kaki. Mereka juga meminta warganya sendiri yang ada di Qatar untuk kembali ke negaranya.

"Ini mengarah pada pelanggaran HAM berat," tuding Al-Marri, merujuk pada fakta setiap keluarga Qatar setidaknya memiliki satu anggota keluarga tinggal di negara yang memutuskan hubungan dengan Qatar. "Ini jauh lebih keras dari Tembok Berlin yang memisahkan keluarga-keluarga," imbuhnya.

Lebih lanjut, Al-Marri menyatakan, pihaknya menerima 1.064 laporan soal berbagai pelanggaran HAM, baik dari warga Qatar maupun warga negara lain yang terdampak. Dalam satu kasus, sebutnya, seorang wanita Qatar diperintahkan keluar dari UAE yang selama ini menjadi tempat tinggalnya dengan suami dan bayinya. Saat wanita ini tiba di bandara, dia diberitahu tidak bisa membawa serta bayinya yang berkewarganegaraan UAE.

Ribuan mahasiswa yang kuliah di luar negeri juga ikut terdampak. Disebutkan Al-Marri, seorang mahasiswi asal Qatar yang sudah dalam semester akhir di universitas di UAE dipaksa keluar dari negara itu. "Dia kehilangan empat tahun masa kuliahnya," ucapnya.

Terakhir, Al-Marri mengecam aturan baru yang diterapkan Saudi, Bahrain dan UAE yang memberlakukan hukuman 5-15 tahun penjara bagi setiap warganya yang menunjukkan simpati untuk Qatar. Dia menyerukan kepada Saudi cs untuk mencabut berbagai sanksi yang diterapkan. Dia juga meminta dunia internasional untuk menekan Saudi cs agar segera mencabut sanksinya.

Akun Twitter Al Jazeera Sempat ditangguhkan
Akun media berbahasa Arab Al Jazeera telah pulih kembali di Twitter setelah ditangguhkan karena jaringan yang disebut "sebuah kampanye terorganisir". Akun, yang memiliki kurang dari 12 pengikut ini, ditangguhkan karena alasan yang tidak spesifik pada Sabtu (17/06) pagi.

Al Jazeera merupakan media siaran unggulan di Qatar, yang mengalami tekanan dari negara tetangga di kawasan Teluk. Mereka menuduh emirat negara itu memiliki hubungan dengan kelompok teror. Akun tersebut dipulihkan pada sore hari waktu Qatar.

Peraturan media sosial Twitter menyebutkan bahwa sebuah akun dapat ditangguhkan karena tiga alasan: karena mengunggah spam, karena diretas atau membahayakan, atau karena "berkaitan dengan perilaku kekerasan, seperti mengirimkan ancaman kepada orang lain atau meniru akun lainnya".

Penangguhan akun milik lembaga penyiaran nasional dengan banyak pengikut, merupakan sesuatu yang tak biasa. Seorang editor senior pada situs itu menulis bahwa ada "serbuan laporan massal" terhadap akun - Twitter menerima jumlah keluhan yang signifikan di waktu yang sama. Akun Al Jazeera untuk bahasa lain, juga akun breaking news Al jazeera berhasa Arab, masih online.

Arab Saudi memimpin langkah pemutusan hubungan diplomatik dengan Qatar sejak awal bulan ini. Riyadh menutup perbatasannya dan wilayah udara bagi Qatar Airways dan- bersama dengan Bahrain, Uni Emirat Arab dan Mesir. Negara-negara itu, termasuk Presiden AS Donald Trump, telah menuduh Qatar mengganggu stabilitas kawasan dengan tuduhan membantu kelompok ekstremis dan memiliki hubungan dengan Iran. Qatar telah membantah mendanai kelompok teror. Bahkan sebelum ketegangan meningkat di Timur Tengah, Al Jazeera dicurigai oleh negara tetangga Qatar.

Situsnya diblok oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir dan Bahrain pada akhir Mei lalu. Dalam penutupan kantor media penyiaran ini, Arab Saudi mengatakan Al Jazeera mempromosikan "rencana" terorisme, mendukung milisi Houthi yang diperangi Arab Saudi di Yaman dan berupaya untuk "memecah kalangan internal Saudi". Al Jazeera mengatakan "bukan merupakan partisan bagi ideologi tertentu, kelompok ataupun pemerintah". (nvc/nvc/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Polres Binjai Musnahkan 6,5 Kg Ganja dan 18 Gram Sabu
Timur Tumanggor Camat Percut Seituan yang Baru
Tangkap Ikan di Perairan Indonesia, Warga Thailand Dituntut Bayar Denda Rp200 Juta
Berkas Partai Perindo Lengkap, Kader Diminta Terus Konsolidasi
160 Hektar Lahan Disiapkan Dukung Program 1000 Desa Organik di Sumut
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU