Home  / 
Batak Centre Dibentuk di Jakarta
Sabtu, 25 Agustus 2018 | 22:49:39
SIB/Dok
BATAK CENTRE : Pendiri Batak Centre dan tokoh masyarakat pendukung foto bersama, antara lain Sekum PGI Pdt Gomar Gultom (paling kiri), Johannes Marbun (no 2 kiri), mantan anggota DPR Sintong M Tampubolon (4 kiri) dan Jerry FH Sirait (5 kiri).
Jakarta (SIB) -Sebagai salah satu upaya melestarikan budaya masyarakat Batak dan mengembangkannya ke arah yang lebih modern, Minggu (18/8) telah dibentuk Batak Centre (Pusat Habatahon)  di Jakarta.  

Dua lembaga penggagas awal yang membidaninya  adalah Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) dan Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI). Kemudian bergabung  Forum Peduli Bona Pasogit (FPBP) dan  Yayasan Percepatan Pembangunan Kawasan Danau Toba (YP2KDT). Sehingga penggagasnya menjadi 4 Lembaga.   

Dalam acara pembentukan, selain pengurus lembaga/yayasan, turut hadir sejumlah tokoh masyarakat Batak di antaranya  Laksma (Purn) Bonar Simangunsong Drs Jerry RH Sirait, Drs Maruap Siahaan, Dr Ronsen Pasaribu, Jhohannes Marbun SSMA,  Ir SM. Tampubolon, Dr Laurensius Manurung, Bachtiar Ujung, Ir Judika Malau,  Ir Alimin Ginting MSc,  Djasarmen Purba SH, Dr Saur Panjaitan MM,  Saut Poltak Tambunan (novelis), Prof Dr Gimbal Doloksaribu, Prof Dr Adler H Manurung, Dr Parsaoran Siahaan (Undip Semarang), Dr Pontas Sinaga (LIPI), Djalan Sihombing SH (pengacara), Sahat HMT Sinaga MKn. (Notaris) Joyce Sitompul br Manik  dan beberapa anggota pendiri lainnya. Juga hadir Sekretaris Umum (Sekum) Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Pdt Gomar Gultom STh.

Ketua Tim Pembentukan Pusat Habatakon Jerry RH Sirait menyatakan kebudayaan Batak secara perlahan-lahan  telah ditinggalkan oleh penganutnya yaitu orang-orang Batak itu sendiri. Bahkan semakin tergerus oleh kemajuan teknologi informasi, pergaulan bebas, hedonisme, dan konsumerisme.  

Sebaliknya orang yang cinta terhadap kebudayaan Batak, sering terjebak melestarikan budaya Batak pada konteks masa lalu dan lupa  mengembangkannya ke arah  modernisasi. 

Di sisi lain,  pihak yang mengagung-agungkan peradaban modern menganggap kebudayaan Batak sebagai kekunoan.  

Ritual pesta Batak dianggap tidak lagi relevan dengan kondisi kekinian. Pesta adat yang seharusnya menjadi sukacita, dianggap sebagai jeratan stagnasi, terlalu lama, membosankan dan melelahkan.

Pesta tidak lagi dilihat sebagai sarana untuk memperkuat relasi Dalihan Na Tolu  dan memupuk semangat kegotong-royongan, tetapi dianggap sebagai penghambat kemajuan.    

Karena itu, kata Jerry RH Sirait,  sangat penting menggali-temukan nilai-nilai luhur Habatakon serta mengaktualisasikannya baik dalam konteks masyarakat Batak, ke-Indonesiaan, maupun dalam kehidupan mondial (dunia).

Kebudayaan Batak yang merupakan bagian  kekayaan nasional, diharapkan mampu ikut berkontribusi dalam upaya internalisasi nilai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD45 dengan semangat Bhineka Tunggal Ika.  

Di tengah peradaban dunia, maka kebudayaan Batak diharapkan dapat menjadi pusat nurani orang Batak dalam mempertemukan arus-arus kebudayaan yang berbeda dan saling bersinergi.  

Ketua Umum YPDT Maruap Siahaan, mengemukakan, pembentukan Batak Centre merupakan catatan sejarah bagi bangsa Indonesia dan bangsa lain di dunia, bahwa masyarakat Batak   memikirkan keberlangsungan masa depan bangsa ini, khususnya suku bangsa Batak. 

Setidaknya, ada  3 aspek yang perlu diperhatikan dalam keberlangsungan masa depan kita, yaitu:  mengenai waktu dan ruang (pertama),  aktivitas (kedua) dan  relasi (hubungan) satu sama lain (ketiga). 

Siahaan menyampaikan sejak kapan Batak mulai ada (eksis) dan apa identitas Batak itu. Aktivitas orang Batak dapat bertahan hidup (survive) bukan hanya dari bisnisnya, usahanya, dan kemampuannya, tetapi dari peradabannya.  

Selain itu, masyarakat Batak  harus mampu mengintegrasikan relasi (hubungan) satu sama lain dalam memadukan gagasan-gagasan yang ada di Pusat Habatakon,  dan menemukan gagasan-gagasan baru untuk masa depan generasi muda Batak, pada khususnya, dan generasi Indonesia pada umumnya.

Sekum PGI Pdt Gomar Gultom, berpendapat, bahwa Habatahon merupakan  suatu anugerah sehingga diharapkan  Pusat Habatakon atau Batak Center  mengakomodasi semua latar belakang  dan tidak menjadi istimewa bagi satu kelompok saja.  

Laksma (Purn) Bonar Simangungsong, salah seorang  penggagas berpendapat, kini sudah semakin terasa ada kegelisahan semakin tergerusnya nilai-nilai luhur habatakon. Misalnya, falsafah  dalihan natolu yang berbicara tentang demokrasi maupun kegotongroyongan, terancam  punah. Hal ini ditambah lagi  tantangan dikotomi Batak maupun non Batak.    

Jhohannes Marbun, Sekretaris Eksekutif YPDT  menegaskan, bahwa saat ini  telah terjadi pergeseran budaya yang menyebabkan sebagian masyarakat Batak tidak lagi bangga menyatakan jati dirinya yang pada akhirnya menjadi generasi tanpa identitas yang jelas di tengah kehidupan zaman modern.  

Masalah sesungguhnya bukan pada teknologi maupun perkembangan zaman, tetapi pada manusianya yang tidak mampu mengembangkan budaya Batak yang terbuka terhadap perkembangan zaman.  Karena itu, dibutuhkan kesadaran bersama (dari pendukung budayanya) bahwa kebudayaan merupakan kekayaan bangsa yang perlu dipelihara dan dikembangkan serta menyesuaikannya dengan modernisasi. (J01/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Fungsi Pembinaan, Pengawasan dan Pemeriksaan Dalam Menciptakan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang Bersih
Kemenkeu dan Pengusaha Sudah Membahas Aturan Cukai Plastik
Jokowi Minta Bupati Lancarkan Investasi di Daerah
Tim Surveyor Kemenkes Lakukan Survei di Puskesmas Pancurbatu
Wagubsu Musa Rajekshah Dijadwalkan Hadiri Bolahan Amak di Silahinabolak Dairi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU