Home  / 
Legenda Karo “Pawang Ternalem” yang Menginspirasi Masyarakat Langkat Pantas Dilestarikan
* Catatan Sukardi F Bakara SSos, Wartawan SIBlegenda
Sabtu, 2 Juni 2018 | 20:12:18
SIB/Dok
Guru Iwan Purba pemerhati budaya dan spritual.
Langkat (SIB) -Tidak banyak tahu legenda Karo "Pawang Ternalem" yang berasal dari Perbatasan Karo-Dairi, ternyata menginspirasi warga Karo di perantauan, terutama di Kabupaten Langkat. Konon Pawang Ternalem berkelana ke sejumlah tempat di Kabupaten Langkat.

Kisah rakyat Karo berawal dari lahirnya bayi, menurut kepercayaan Karo kelahirannya di hari pembawa sial. Kemudian Ayah dan Ibu bayi beruntun meninggal. Ia sempat dibesarkan oleh binatang  dan menjadi sakti di kawasan Kecamatan Batangserangan dan memperoleh jodoh wanita cantik asal kampung Jenggi Kumawar Kecamatan Selesai Kabupaten Langkat.

Iwan Purba, pemerhati budaya yang ditemui wartawan SIB di kediamannya di Binjai medio Mei lalu mengaku, lokasi Jenggi Kumawar Kecamatan Selesai Kabupaten Langkat, salah satu lokasi situs budaya Karo yakni Pawang Ternalem yang menyampaikan pesan moral dan patut dilestarikan.

Kisah Pawang Ternalem, sebutnya selama ini mulai terlupakan, seiring perkembangan zaman. Apalagi legenda Karo itu jarang ditemukan dalam buku cerita yang cukup representatif, termasuk di lembaga formal seperti sekolah. Padahal dari segi konteks, cerita rakyat itu cukup menginspirasi tidak hanya suku Karo, namun juga masyarakat Langkat dan lainnya.

Di daerah Jenggi Kumawar dilakukan sayembara oleh Kepala Kampung Jenggi Kumawar yang memiliki putri cantik Patimar.

Selayaknya kawasan itu menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Langkat, semisal membuat  tugu sebagai pertanda kepada generasi muda bahwa Kecamatan Selesai Langkat dan sekitarnya merupakan saksi legenda Karo yang dikenal masyarakat secara luas.

Iwan Purba yang juga dikenal sebagai guru spritual mengaku kisah legenda Pawang Ternalem diketahuinya dari kakeknya yakni Abdullah Karo-karo yang pernah menjabat Ketua DPRD Langkat tahun 1965-1966. Sebagai rasa tanggung jawab moral, ia pun wajib menceritakan kisah leluhur itu pada anak dan cucunya.

Pelajaran dari kisah Pawang Ternalem pantas dilestarikan bila dikaitkan dengan kehidupan kekinian yang mengajarkan bahwa, setinggi apapun pangkat dan derajat seseorang jangan memandang rendah orang lain termasuk melihat seseorang dari segi fisik, ganteng, cantik atau jelek, hitam atau putih. Semua manusia sama sebagai ciptaan Tuhan. Sebaliknya seseorang tidak boleh pasrah dengan takdir. 

Satu lagi pelajaran berharga dari Pawang Ternalem, sebut Iwan Purba, sekalipun ia ditipu dan disesatkan oleh banyak orang tetapi ia tetap bangkit dan tidak terjatuh. Bahkan Ia menjadi orang hebat dan sakti serta memiliki istri tercantik, anak terpandang, kaya di negeri sesuai zamannya.

Seperti dikisahkan Iwan Purba, Pawang Ternalem saat berumur 10 tahun pernah tersesat di jalan setapak di Kawasan Batangserangan saat mengikuti jejak pembeli garam untuk menuju kawasan Pangkalan Brandan.

Saat tersesat itu, ia bertemu dengan seorang sakti penguasa hutan, Datuk Rubia Gande. Datuk ini akhirnya membesarkan Pawang Ternalem, termasuk mengajarkan ilmu kesaktian dan pengobatan.

Suatu ketika di Desa Jenggi Kemawar terjadi musibah. Patimar, putri kepala kampung, menderita penyakit tak kunjung sembuh. Tidak ada dukun dan obat yang mampu menyembuhkannya. Satu-satunya pengharapan hanya pada madu yang ada di pohon Tualang Simande Angin, pohon keramat yang tidak ada orang yang mampu memanjatnya.

Kepala Kampung Jenggi Kemawar kemudian mengadakan sayembara. Siapa yang mampu memanjat Tualang Simande Angin, dan mengambil madu untuk putrinya, maka ia akan menikahkan putrinya pada pemuda itu. Pawang Ternalem pun ditugaskan Datuk Rubia Gande untuk mengambil madu. Tapi sebelum berangkat, Datuk mengubah wajah Ternalem jadi seperti hewan.

Hingga akhirnya Ternalem berhasil mengambil madu di pohon keramat itu, padahal sudah banyak orang yang mati, gagal menaiki pohon. Pawang ternalem terkenal sakti dan tiada tanding di zamannya, mampu menaklukan pohon tertinggi itu dan memperoleh madu untuk putri Patimar.

Kisah Pawang Ternalem yang merupakan salah satu legenda Karo oleh warga Kecamatan Selesai Langkat juga pernah disebutkan Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu saat memberikan pertanyaan kepada siswa SD, SMP dan SMA pada acara Paskah Oikumene Langkat 2017 di Jambur Serba Guna  Pasar VII Desa Padangcermin Kecamatan Selesai, Langkat, 19 Mei 2017 lalu.

Saat itu Bupati akan memberikan hadiah uang, siapa yang dapat menjawab pertanyaannya yakni, apa yang diketahui para siswa tentang Legenda Karo di Kecamatan Selesai.

Karena tidak seorangpun siswa yang mampu menjawab pertanyaannya itu, Bupati menjelaskan Pawang Ternalem merupakan kisah seorang bayi yang lahir oleh orangtua dahulu di hari pembawa sial. Namun pengeculian, orang itu justru tumbuh besar dan dewasa serta menjadi sakti dan tersohor.

Sementara itu, Plt Ketua DPRD Langkat Ralin Sinulingga mengakui Legenda Pawang Ternalem  merupakan kisah cerita Karo yang berasal dari Kabupaten Karo, tidak terlepas dari masyarakat Karo Langkat khususnya Kecamatan Selesai Langkat.

"Saya tahu dan mendengar cerita itu dari orangtua saya sendiri. Kita siap mendukung bila kisah cerita rakyat budaya Karo itu diwujudkan dengan membangun patung atau simbol lainnya sebagai pertanda untuk generesi muda," sebut Ralin Sinulingga, Senin (28/5). (h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
DPRD Simalungun Minta Stok Sembako Jelang Natal dan Tahun Baru 2019 Aman
Kadis Pariwisata Sukabumi Puji Keindahan Danau Toba
Haru, Pertemuan Istri Korban Kecelakaan Lion Air JT 610 dan Garuda 152
Gaya Hidup Konsumtif Picu Kepala Daerah Korupsi
Bertemu Ulama di Istana Bogor, Jokowi Luruskan Isu Hoax
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU