Home  / 
Mempertaruhkan Hidup Demi Kelestarian Batik Tiga Negeri
Sabtu, 17 Februari 2018 | 18:13:58
SIB/Feri Latief
Rudi Siswanto (36 tahun) dan Devina Dwi Atmaja (33 tahun) beserta anaknya Elisha Arvi Gunawan (5 tahun), memutuskan kembali ke kampung halaman untuk meneruskan dan melestarikan bisnis Batik Tiga Negeri di kampung Babagan
Sebagian besar pasangan muda yang telah memiliki kehidupan mapan, tentu enggan untuk kembali menetap di kampung halaman. Kehidupan perkotaan seakan mengekang mereka untuk tidak pergi berpaling.

Namun keengganan untuk meninggalkan perkotaan tidak sepenuhnya terjadi pada pasangan suami-istri Rudi Iswanto (36 tahun) dan Devina Dwi Atmaja (33 tahun).

Mereka rela meninggalkan pekerjaan di kota yang sudah menghidupi mereka selama ini.

Walau sempat ragu, pada akhirnya mereka tetap memutuskan untuk menetap di kampung Babagan, kota Lasem, kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Seperti kisah klasik di Lasem, kaum muda pergi meninggalkan rumah untuk sekolah dan mencari pekerjaan. Hingga kemudian tak kembali lagi dan menetap di kota lain. Begitulah awal kisah Rudi dan dua kakak laki-lakinya yang meninggalkan Lasem untuk sekolah dan mengadu nasib di kota besar.

Kehidupan berjalan seperti biasanya hingga pada suatu hari, tiga bersaudara ini diberi tawaran oleh orangtua untuk mengelola usaha batik keluarga.

Kedua kakak Rudi angkat tangan, namun tidak dengan Rudi, ia justru mengajukan diri untuk meneruskan usaha keluarga yang mencerminkan budaya Lasem ini.

Setelah memutuskan hal tersebut, kebimbangan pun muncul. "Bagaimana kehidupan keluarganya bila ia dan istri meninggalkan pekerjaan yang selama ini menghidupi mereka?", tutur Rudi. Rasanya berat bila ia dan istri harus mengundurkan diri dan tidak mendapat pesangon sementara saat itu anak mereka, Elisha Arvi Gunawan baru berusia 5 tahun.

"Saya pribadi perlu waktu satu tahun untuk berpikir. Hingga akhirnya pada awal Oktober 2013, saya ajukan pengunduran diri dari kantor. Sedih bercampur senang, alias pikiran saya tak karuan," aku Rudi saat menceritakan peristiwa penting dalam hidupnya ini.

Tepat di penghujung tahun 2013, ia resmi mengundurkan diri dan mencemplungkan dirinya ke dalam dunia batik Lasem.

Harus dari Hati
Rudi dan istri yang sangat awam soal batik sempat berpikir bahwa bisnis batik adalah bisnis pada umumnya. Namun seiring berjalannya waktu, mereka dituntut untuk dapat memahami batik dari proses hingga cerita di balik warna dan pola.

Tiga tahun lamanya waktu yang mereka harus bayar untuk dapat memahami bisnis batik ini dengan baik.

Dalam tiga tahun tersebutlah Rudi menyadari bahwa bisnis batik tidak sama dengan bisnis lainnya. Kaderisasi sangat diperlukan dalam dunia batik. Tidak semua orang mampu menjadi pembatik yang baik.

Mereka pun melakukan kaderisasi terhadap anak-anak muda yang baru saja lulus sekolah. Tidak perlu mencari jauh-jauh, anak-anak tersebut adalah anak dari para pekerja di rumah batik Kidang Mas.

"Mengelola itu semua adalah hal yang rumit, jika dikerjakan tanpa hati. Sampai saat ini kami merasa bersyukur, kami masih bisa bertahan dan sudah berjalan sesuai jalurnya. Walaupun belum mencapai target 100%," tutur Rudi.

Batik Tiga Negeri
Batik Tiga Negeri adalah batik perpaduan tiga daerah: Lasem, Pekalongan dan Solo. Tiga daerah ini pun memiliki warna masing-masing, yaitu Merah yang mewakili Lasem, Indigo mewakili Pekalongan, dan Sogan mewakili Solo.

Proses produksi yang rumit membuat batik ini menjadi kian langka. Bayangkan saja, proses pewarnaan harus dilakukan di tiga daerah yang berbeda tadi. Namun demi melestarikan batik yang langka diproduksi ini, proses tersebut sudah dihilangkan dan dikerjakan pada satu tempat saja.

Kini ia mulai berpikir untuk  membuat pernak pernik dari batik, seperti dompet, tas, sandal dan sepatu. Namun keinginan ini mengalami sedikit hambatan karena terbatasnya tenaga kerja kreatif di Lasem. Walau demikian, bila kaderisasi yang telah dilakukan dapat berjalan dengan lancar, keinginan Rudi tentu dapat terwujud.

Seperti kata Rudi, untuk dapat bertahan dalam bisnis batik, kreatifitas dan "hati" sangat diperlukan. Bukan hanya sekadar untuk keperluan pemasaran, namun juga untuk menjaga keberlangsungan Batik Tiga Negeri. (nationalgeographic/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
#2019KitaTetapBersaudara, Pilihan Boleh Beda Persatuan Indonesia yang Paling Utama
Mahir Melukis, Narapidana Bebas dari Penjara
Kakek 83 Tahun Lawan Perampok Bersenjata
Pegawai Supermarket Dipecat Gara-gara Jual 15.000 Apel
Gara-gara Badai Florence, 3,4 Juta Ayam dan 5.500 Babi Mati
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU