Home  / 
Makna Kue Keranjang yang Menjadi Makanan Khas Saat Imlek
Sabtu, 17 Februari 2018 | 18:12:01
Selain identik dengan warna merah, imlek juga sangat dekat dengan kue keranjang. Kue keranjang mulai ramai dicari dan dijual pada hari-hari mendekati tahun baru Imlek. Namun kira-kira apa yang membuat kue keranjang ini harus ada serta sangat dekat dengan perayaan Imlek?

Kue keranjang adalah kue khas yang selalu disajikan pada saat perayaan Imlek. Kue keranjang (ada juga yang menyebutnya dengan kue ranjang) dalam bahasa mandarin disebut juga dengan Nian Gao atau dalam dialek Hokkian disebut dengan Ti Kwe, yang diperoleh dari wadah cetakan kue yang berbentuk keranjang.
Kue ini terbuat dari tepung ketan dan gula yang menjadikan kue keranjang ini memiliki tekstur yang kenyal dan lengket.

Kue keranjang mulai digunakan sebagai sesaji dalam upacara persembahan kepada leluhur saat tujuh hari menjelang tahun baru Imlek, dan pada malam menjelang tahun baru Imlek. Kue ini biasanya juga tidak dimakan makan hingga hari Cap Go Meh atau malam ke-15 setelah tahun baru Imlek.

Dalam dialek Hokkian, Ti Kwe memiliki arti sebagai 'kue manis' yang sering disusun tinggi bertingkat-tingkat dengan penyusunan dari bawah hingga atas semakin kecil yang memiliki arti sebagai peningkatan rejeki atau kemakmuran.

Di negara asalnya, terdapat sebuah kebiasaan untuk menyantap kue keranjang ini terlebih dahulu saat tahun baru dengan harapan mendapatkan keberuntungan dalam pekerjaan.

Legenda raksasa Nian
Ada mitos dalam sejarah terciptanya kue keranjang atau Nian Gao. Pada zaman China kuno, ada seekor raksasa yang bernama 'Nian' tinggal di satu gua yang berada di gunung, dan akan keluar dari gua untuk berburu hewan ketika merasa lapar.

Pada musim dingin, hewan-hewan banyak yang berhibernasi dan membuat Nian ini turun ke desa-desa dan mencari korban untuk disantap ketika ia lapar. Banyak masyarakat desa hidup dengan ketakutan dengan Nian selama beberapa dekade.

Sampai akhirnya ada seorang warga desa yang bernama 'Gao' memiliki akal yang cerdik dengan membuat beberapa kue sederhana yang terbuat dari campuran tepung ketan dan gula  ini kemudian diletakkan di depan pintu untuk diberikan kepada Nian.

Ketika Nian turun untuk mencari mangsa, Nian tidak lagi mencari manusia untuk dijadikan sebagai santapan namun menemukan kue-kue keranjang ini di depan pintu dan menyantapnya hingga kenyang dan kemudian pergi meninggalkan desa.

Setelah Nian pergi kembali ke gunung, warga desa senang karena akhirnya mereka tidak menjadi santapan Nian. Sejak saat itu, penduduk desa membuat kue keranjang pada setiap musim dingin untuk mencegah Nian memburu dan memakan manusia. Juga untuk mengingat jasa Gao yang sudah berhasil mencegah Nian memburu manusia dan menemukan kue beras ini, para penduduk desa menamakan kue ini sebagai "Nian Gao".

Selain menurut legenda raksasa Nian, kue keranjang juga ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku, Cau Kun Kong agar membawa laporan yang menyenangkan kepada Raja Surga, Giok Hong Siang Te.

Makna kebersamaan
Secara filosofis, kue keranjang yang terbuat dari tepung ketan dan memiliki sifat yang lengket memiliki arti persaudaran yang sangat erat dan menyatu. Rasa kue keranjang yang manis juga menggambarkan rasa suka cita, menikmati keberkatan, kegembiraan, dan selalu memberikan yang terbaik dalam hidup.

Bentuk kue keranjang yang bulat dan tidak memiliki sudut juga mewakili makna yang mengagumkan. Bentuk bulat tersebut melambangkan pesan kekeluargaan tanpa melihat ada yang lebih penting selain keluarga dan akan selalu bersama tanpa batas waktu. Dalam hal ini juga membawa suatu makna agar setidaknya dalam satu tahun, keluarga dapat berkumpul sehingga akan menciptakan kerukunan dalam hidup dan siap menghadapi hari-hari ke depan.

Sesuai dengan tekstur serta daya tahan kue keranjang yang disantap pada saat Imlek juga memiliki arti filosofi. Tekstur yang kenyal merupakan simbol dari kegigihan, keuletan, daya juang dan pantang menyerah dalam meraih tujuan hidup. Sedangkan untuk daya tahan kue keranjang yang begitu lama mempunyai arti hubungan yang abadi biarpun zaman telah berubah.

Kesetiaan dan sikap saling tolong menolong pun sangat penting untuk dapat mewujudkan pesan ini, sehingga walaupun waktu terus berjalan, rasa kekeluarga akan selalu terjalin dengan baik.

Sabar dan pantang menyerah
Proses pembuatan kue keranjang yang cukup lama, yakni 11-12 jam juga memiliki arti. Proses pembuatan yang begitu lama tersebut mewakili rasa kesabaran, keteguhan hati serta cita-cita untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Usaha yang begitu keras juga harus dilakukan dengan pikiran yang bersih dan jernih, penuh kesopanan dan konsentrasi yang tinggi dengan membersihkan hati dari prasangka buruk sehingga kue keranjang yang sedang dibuat tersebut akan memiliki bentuk, rasa dan tekstur yang sempurna.

Jika semua nilai-nilai tersebut dilanggar, kemungkinan kue yang dihasilkan akan terlihat lembek dan pucat. Oleh karena itulah, dalam pembuatan kue keranjang dibutuhkan kehati-hatian ekstra dan tidak semua orang dapat membuat kue ini.

Walaupun memiliki bentuk yang sederhana, kue keranjang memiliki filosofi yang sangat luar biasa. Selamat tahun baru Imlek! (Geographicnational/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Polrestabes Medan Bekuk Bandar Narkoba Antar Provinsi
13 Tahanan Unit Narkoba Polres Kepulauan Seribu Kabur
Miliki Sabu, Seorang Warga Sei Kepayang Ditangkap
Polres Simalungun Ungkap 10 Tersangka Jaringan Narkoba
Perdaya Emak-emak, Seorang Pria Diamankan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU