Home  / 
Catatan Kelam Kehilangan Warisan Leluhur Indonesia
Sabtu, 23 Desember 2017 | 15:56:40
SIB/Dok.Wikipedia
Museum Nasional tercatat sudah lima kali mengalami kehilangan dalam 50 tahun terakhir.
Jakarta (SIB) -Kejadian kehilangan, baik berupa pencurian maupun penjarahan barang warisan leluhur di Indonesia sudah berulang kali terjadi. Aksi semacam itu bisa ditemukan di situs bersejarah maupun museum.

Banyak kehilangan terjadi disebabkan lalainya pengawasan keamanan barang warisan leluhur tersebut. Namun, ada pula yang terjadi karena ketidakpahaman masyarakat akan pentingnya temuan kuno tersebut.

Berikut beberapa kejadian kehilangan warisan leluhur yang pernah diberitakan. Itu pun belum termasuk kejadian perusakan seperti vandalisme yang juga kerap terjadi.

1961
Lebih dari setengah abad lalu, tepatnya pada 31 Mei 1961, Museum Nasional yang dikenal juga sebagai Museum Gajah mengalami pencurian fenomenal yang dilakukan oleh Kusni Kadut alias Kancil.

Ironisnya, Kusni Kadut merupakan mantan prajurit Perang Kemerdekaan pada 1945 hingga 1949. Ia sempat bergabung dengan Tentara Pelajar dan bertarung melawan Belanda. Namun ia menjadi perampok untuk menyambung hidup sejak 1953.

Ia melakukan pencurian di Museum Nasional dengan menyamar sebagai polisi. Tak tanggung-tanggung, Kancil mengambil 11 butir berlian dan membunuh satu petugas. Karenanya, ia divonis mati dan dieksekusi pada 16 Februari 1980.

1979
Museum Nasional kembali jatuh ke lubang yang sama. Pada 1979, museum terbesar di Indonesia itu mengalami kehilangan koleksi uang logam oleh orang yang tak dikenal.

Pun, di tahun dan lokasi yang sama, koleksi keramik senilai Rp1,5 miliar lenyap tanpa diketahui jejaknya hingga kini.

1996
Masih terjadi di Museum Nasional. Kali ini yang menjadi sasaran adalah lukisan mahakarya seniman Indonesia. Tak tanggung-tanggung, koleksi karya Basoeki Abdullah, Raden Saleh, dan Affandi digondol maling.

Namun lukisan yang beberapa di antaranya berusia ratusan tahun itu telah kembali ke Indonesia setelah ditemukan dilelang di balai lelang Christie's, Singapura.

2007
Lima patung purbakala koleksi Museum Radya Pustaka Solo, Jawa Tengah, diketahui lenyap pada 2007. Anehnya, kasus ini tidak ada yang menyadari, sampai tim Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Departemen Budaya dan Pariwisata Jawa Tengah melakukan penelitian pada patung itu.

Tim Balit Purbakala kaget ketika akan meneliti patung tersebut ternyata hanyalah imitasi dan tak diketahui keberadaan koleksi aslinya. Bukan cuma arca, melainkan koleksi lain seperti lampu hias dan piring kuno juga sukses ditilap.

2010
Museum Sonobudoyo Yogyakarta geger pada Agustus 2010 ketika 75 koleksi berharga yang disimpan dalam museum itu lenyap tak berjejak. Bahkan, hingga bertahun-tahun, tak ditemukan bukti yang mengarahkan pelaku pencurian.

Pelaku pencurian berhasil menggondol koleksi mahakarya topeng emas, gerabah, perhiasan, dan pernak-pernik emas peninggalan era Kerajaan Mataram hingga Majapahit, atau dari abad ke-9 hingga ke-16.

2013
Museum Nasional kembali kecurian dan menjadi sorotan berbagai pihak. Pada 11 September 2013, empat koleksi artefak emas peninggalan Mataram Kuno pada abad ke-10 Masehi lenyap tak berbekas.

Koleksi artefak emas tersebut ditemukan oleh Belanda pada abad ke-18 Masehi dan ditaksir bernilai puluhan miliar rupiah. Keempatnya hilang setelah orang tak dikenal membobol lemari kaca tempat artefak itu disimpan.

Pihak kepolisian hanya menemukan sidik jari di lemari kaca, tanpa ada bukti lainnya. Pun, kamera pengawas atau CCTV sudah tak berguna lantaran rusak sejak dua bulan sebelum kejadian.

Petugas keamanan museum pun seolah tak berfungsi lantaran penjagaan setiap ruangan tidak mampu menjaga artefak tersebut. Kasus itu sendiri diduga terjadi sebelumnya, namun baru disadari pada 11 September.

2017
Pada 20 Maret 2017, Polresta Pekanbaru Riau mendapatkan laporan kehilangan koleksi yang terjadi di Museum Sang Nila Utama milik Pemerintah Provinsi Riau.

Koleksi yang dilaporkan hilang adalah tiga keris khas Melayu, satu pedang Melayu Sondang, satu piring celadon emas, satu kendi peninggalan era VOC, dan satu kendi janggut.

Akibat pencurian ini, museum menaksir kerugian hingga lebih dari Rp54,4 juta. Namun pihak Asosiasi Museum Indonesia menyebut nilai benda dapat melebihi jumlah tersebut mengingat koleksi yang hilang adalah khasanah bangsa.

Meski baru melapor pada 20 Maret, diketahui kejadian penemuan kehilangan itu terjadi pada 13 Maret.

Sebulan setelah kehilangan koleksi bersejarah di Riau, situs purbakala peninggalan Majapahit di Kumitir, Mojokerto mengalami penjarahan.

Sejumlah bata kuno di situs purbakala tersebut diduga dijarah oleh pemilik lahan tempat ditemukannya peninggalan leluhur tersebut. Kasus tersebut diketahui setelah foto pengangkutan bata peninggalan Mataram Kuno tersebar di media sosial pada 8 April.

Foto tersebut masih menunjukkan bangunan kuno berbentuk tembok. Namun ketika tim penyidik mendatangi lokasi, struktur tersebut sudah hampir habis.
Diperkirakan, sudah sepekan terjadi penjarahan bata kuno.

Bahkan, penjarahan itu bukanlah yang pertama. Di kawasan tersebut, disebut Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur sudah terjadi penjarahan bata kuno puluhan tahun. (CNNI/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Terima Kirab Obor Paskah Nasional, Bupati Karo Ajak Tingkatkan Kasih Persaudaraan
Pemkab Langkat Beri Bantuan Korban Kebakaran di Pangkalan Brandan
Kejaksaan Dairi Gelar Penyuluhan dan Penerangan Hukum di SMAN 2 Sidikalang
Dandim Tetap Pantau Kegiatan TMMD Imbangan 101 di Agara
KAHMI Langkat Gelar Musda III
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU