Home  / 
Akhir Legenda Yeti, Makhluk Misterius Penghuni Himalaya
Sabtu, 23 Desember 2017 | 15:53:58
Kathmandu (SIB) -Tahun 1832 suatu jurnal menerbitkan laporan seorang penjelajah Inggris tentang seekor makhluk yang penuh bulu panjang dan gelap yang dilihatnya di Himalaya. Lalu legenda pun berkembang tentang makhluk misterius yang kemudian dijuluki Yeti.

Kini para ilmuwan memastikan bahwa mereka telah membuktikan, sekali dan untuk selamanya, bahwa Yeti, makhluk yang menyerupai seekor kera di Himalaya itu, tidak pernah ada.

Jadi jika Anda merencanakan perjalanan ke Nepal dan berupaya untuk menemukan makhluk salju yang mengerikan itu, Anda mungkin harus mengkaji ulang rencana liburan Anda.

Banyak orang mengira Yeti adalah makhluk primata dari jaman prasejarah itu mendiami belantara salju Himalaya di benua Asia.

Namun kajian baru menyimpulkan bahwa semua bukti fisik menunjukkan Yeti ini berasal dari jenis hewan beruang.

Profesor Denmark Dr Charlotte Lindqvist adalah pakar yang bertanggung jawab dalam menyudahi mitos berabad-abad yang diwariskan dari generasi ke generasi di Nepal.

"Temuan kami mengukuhkan bahwa dasar-dasar biologis legenda Yeti dapat ditemukan dalam beruang-beruang setempat," kata Charlotte, dari University of Buffalo, New York.

Charlotte dan timnya melihat sembilan sampel bukti Yeti yang bersejarah yang dikumpulkan oleh seorang kru yang membuat film tentang makhluk itu.

Tapi sayangnya (untuk para pembuat film) tes DNA membuktikan bahwa yang mereka temukan adalah sisa-sisa jasad beruang tua yang mati, yang membuat penampakan Yeti selama lebih dari satu abad ini jadi meragukan.

Orang-orang Inggris waktu itu melihat makhluk yang menyerupai kera berkeliaran di hamparan salju.

Catatan resmi pertama tentang sesuatu yang luar biasa mengemuka pada tahun 1832, ketika Journal of the Asiatic Society of Bengal menerbitkan laporan dari seorang penjelajah Inggris yaitu B. H. Hodgson.

Ia mengatakan melihat seekor makhluk yang penuh bulu panjang dan gelap yang menurutnya adalah seekor orangutan.

Jika demikian, maka orangutan itu berada di tempat yang jauhnya lebih dari 6.000 kilometer dari tempat asalnya di Sumatera dan mungkin kedinginan serta kebingungan.

Pada tahun 1925, fotografer N. A. Tombazi mencatat pengalamannya melihat Yeti, yang disebutkan sebagai sesosok makhluk tinggi dan telanjang yang menarik-narik tanaman rhododendron di ketinggian 4.500 meter.

Sesaat sebelum dimulainya Perang Dunia Kedua, kaum Nazi tertarik untuk meneliti sosok Yeti ini dan mengirim suatu ekspedisi ke Nepal untuk menyelidikinya.
Dan pada waktu itu pun, lebih dari 100 tahun yang lalu, penjelajah Ernst Schfer bahkan menyimpulkan bahwa Yeti hanyalah seekor beruang.

ikut terlibat
Surat kabar Daily Mail Inggris mengirim ekspedisi ke Nepal pada tahun 1953.

Mereka mencetak satu artikel setahun kemudian tentang penemuan kulit kepala Yeti. Tapi ketika melihat laporan mereka, Profesor Frederic Wood Jones menyimpulkan bahwa itu bukanlah kulit kepala, bukan pula berasal dari seekor berjenis kera.

Reinhard Reinhold Messner mengatakan bahwa ia menjumpai sosok Yeti, namun itu hanya jenis beruang langka (yang dia bunuh).

Pada tahun 1986, pendaki gunung asal Italia Reinhold Messner, mengklaim bahwa makhluk misterius itu adalah spesies beruang yang terancam punah - entah itu beruang coklat Himalaya atau beruang biru Tibet - yang bisa berjalan dengan kaki belakang mereka.

Ia mengatakan telah membunuh seekor 'Yeti' saat menjumpainya di Nepal, yang berarti salah satu dari spesies ini menjadi terancam punah lebih dalam lagi setelah berurusan dengan Reinhold.

Ekspedisi-ekspedisi terbaru juga tak banyak mengungkap.

Para penjelajah dan penggemar Yeti terus bergiat sampai saat ini, namun secara tidak mengejutkan, mereka tidak menemukan apapun sama sekali.

Namun bahkan temuan baru ini pun tidak mencegah orang-orang yang fanatik dan menganggap sosok Yeti yang sesungguhnya masih di luar sana.

"Saya pikir masih ada kemungkinan bahwa ada spesies primata atau yang lebih canggih dari primata yang belum dikenal, yang masih harus diselidiki keberadaannya di Asia Tengah," kata Jonathan Downes, direktur Center for Fortean Zoology, kepada Guardian. (detikcom/q)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Terima Kirab Obor Paskah Nasional, Bupati Karo Ajak Tingkatkan Kasih Persaudaraan
Pemkab Langkat Beri Bantuan Korban Kebakaran di Pangkalan Brandan
Kejaksaan Dairi Gelar Penyuluhan dan Penerangan Hukum di SMAN 2 Sidikalang
Dandim Tetap Pantau Kegiatan TMMD Imbangan 101 di Agara
KAHMI Langkat Gelar Musda III
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU