Hotel Tapian Nauli
Home  / 
Tren “Kodokushi”, Mati Dalam Kesendirian Terus Tumbuh di Jepang
Sabtu, 2 Desember 2017 | 18:56:34
SIB/Arada Photography/Thinkstock
“Kodokushi” atau mati dalam kesendirian, menjadi sebuah tren yang terus bertumbuh menimpa kalangan lansia di Jepang.
Bau busuk tercium saat petugas kebersihan, Hidemitsu Ohshima, masuk ke satu apartemen kecil di Tokyo, di mana seorang pria terbaring dan membusuk selama tiga pekan.

Dilansir dari AFP, Kamis (30/11), pria yang diyakini berusia 50 tahun itu meninggal sendirian di kota dengan penduduk lebih dari 10 juta orang, tanpa seorang pun tahu dia telah meninggal dunia.

Dia menjadi korban dari "Kodokushi" atau mati dalam kesendirian, sebuah tren yang terus bertumbuh menimpa kalangan lansia di Jepang.

Dengan baju pelindung lengkap dan sarung tangan karet, Oshima mengangkat kasur pria itu yang sudah dipenuhi belatung dan serangga hitam.

"Ugh, ini sangat serius. Anda mengenakan baju pelindung untuk mencegah serangga yang mungkin membawa penyakit," katanya.

Kodokushi menjadi masalah yang terus berkembang di Jepang, di mana 27,7 persen dari populasi yang berusia lebih dari 65 tahun, dan banyak orang menyerah untuk mencari pasangan hidup di usia paruh baya.

Para ahli menyatakan kombinasi antara budaya Jepang yang unik, sosial, dan faktor demografi bergabung menjadi masalah serius.

Tak ada angka resmi terkait kodokushi, namun kebanyakan ahli meyakini sebanyak 30.000 orang mati dalam kesendirian per tahunnya.

Masyarakat modern Jepang mengalami perubahan budaya dan ekonomi dalam beberapa dekade terakhir.

Pakar demografi mengatakan jaring pengaman sosial negara tersebut telah gagal mengimbangi beban keluarga untuk merawat orangtua.

"Di Jepang, keluarga menjadi fondasi dukungan sosial," kata Kasuhiko Fujimori, kepala riset di Institut Informasi dan Penelitian Mizuho.

"Namun, kondisi itu telah berubah dengan peningkatan orang yang memilih hidup sendiri, dan jumlah keluarga makin mengecil," tambahnya.

Dalam tiga dekade terakhir, Jepang menghadapi pangsa rumah tangga penghuni tunggal tumbuh lebih dari dua kali lipat menjadi 14,5 persen dari total populasi, kenaikan tersebut terutama didorong oleh pria berusia 50-an dan wanita berusia 80-an atau lebih.

Tingkat pernikahan juga menurun. Para pakar meyakini banyak pria khawatir pekerjaan mereka terlalu genting untuk menetap dan memulai sebuah keluarga.
Selain itu, lebih banyak wanita memasuki dunia kerja merasa tidak membutuhkan suami untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Satu dari empat pria Jepang berusia 50 tahun tidak pernah menikah. Pada 2030, angka tersebut diperkirakan naik menjadi satu dari tiga pria.

Sebanyak 15 persen lansia di Jepang hidup dalam kesendirian, mereka bahkan hanya berbincang satu kali dalam sepekan. Angka itu lebih tinggi dari jumlah lansia yang hidup sendiri di Swedia, Amerika Serikat, dan Jerman yang berkisar 6-8 persen.

Artikel ini sudah pernah tayang di Kompas.com dengan judul "Kodokushi", Mati Dalam Kesendirian Jadi Masalah Serius di Jepang. (nationalgeographic.co.id/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bupati Samosir Serahkan Alat-alat Kebersihan
Dinas PP dan PA Tapsel Gelar Seminar Etika Perempuan dalam Organisasi
Tim Penilai Kecamatan Terbaik Turun ke Marancar Tapsel
BPJS Ketenagakerjaan Sibolga Keluhkan Pembayaran Iuran Jasa Konstruksi di Tapteng
Sedang Dikerjakan, Aspal Jalan Lahusa-Gomo Sudah Rusak
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU