Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Adu Bagong di Kabupaten Bandung Tradisi yang Bergeser Makna
Sabtu, 28 Oktober 2017 | 22:20:44
Kabupaten Bandung (SIB) -Warga menyebut adu bagong atau babi hutan dengan anjing di Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat sudah merupakan tradisi yang sudah berlangsung puluhan tahun. Adu bagong disebut juga ada di daerah lain di Jabar seperti Garut, Sumedang, dan Garut.

Salah satu warga yang hobi nonton adu bagong (dugong), Engkos (49) mengaku sudah sejak umur delapan tahun ia suka menonton dugong yang dihelat di dekat rumahnya di Kecamatan Dayeuhkolot. Pertarungan hewan yang dipenuhi dengan kebrutalan ini dianggapnya sebagai sarana untuk melepas stres.

"Kadang orang-orang elit kan berburu untuk menghilangkan stres, itu tak terjangkau oleh kami (biayanya), jadinya saya ke sini saja, melihat darah begini, jadi nggak stres," kata Engkos di arena dugong di Kampung Cisindang, Desa Cikawao, Kecamatan Pacet, Minggu (22/10).

Selain itu, tontonan ini dianggap sejumlah warga murah meriah. Hanya mengeluarkan kocek Rp 10 ribu untuk tiket, masyarakat sudah dapat menyaksikan pertarungan dua hewan omnivora di dalam satu arena.

Engkos mengungkapkan tradisi dugong ini sudah mengalami pergeseran makna. Jika dulu dugong sebagai ajang silaturahmi dan membasmi hama babi hutan yang kerap berkeliaran di kebun warga, kini dugong dijadikan sebagai ajang untuk meningkatkan harga jual anjing.

"Jika usianya dua-tiga tahun dan sudah terlatih (dalam arena dugong) harganya bisa mencapai belasan juta," ungkapnya.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Investigasi LSM Scorpion Marison Guciano. "Memang itu informasi yang kita terima banyak anjing-anjing dalam kontes dugong itu divideokan kemudian dijual ke Sumatera dengan harga yang cukup tinggi," kata Marison saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Marison menilai tradisi itu merupakan bentuk kekejaman terhadap satwa. Bentuk kekejaman satwa atas nama tradisi sudah tidak dapat dibenarkan, hal itu perlu dikoreksi.

"Tradisi baik boleh dilanjutkan, tapi tradisi buruk harus ditinggalkan," ujarnya.

Menyikapi hal tersebut, pemerintah harus turun tangan untuk melakukan penyadaran kepada masyarakat bahwa pemahaman mereka terhadap dugong adalah hal keliru.

"Tetap itu clear murni merupakan kekejaman terhadap satwa. Karena babi hutan itu diambil dari alam kemudian sebelum pertarungan disimpan di boks kecil, dari situ saja sudah clear kekejaman terhadap satwa," jelasnya.

Ia ingin seluruh pihak untuk bersepakat hal negatif dalam tradisi kita apalagi saat ini sudah ada pergeseran makna, harus dikoreksi dan segera ditinggalkan.

Saat disinggung terkait babi hutan merupakan hama bagi pertanian masyarakat, Marison menampik hal itu. Menurutnya manusia yang telah merusak ekosistem babi hutan, sehingga babi turun ke perkebunan warga untuk melangsungkan hidupnya.

"Menurut saya itu perilaku primitif. Saya imbau, kita masyarakat harus ariflah dalam memperlakukan babi hutan karena pada akhirnya ketidakseimbangan ekosistem akan berbalik bencana pada kita sendiri," pungkasnya.

Bak Pertarungan Gladiator
Jika pertarungan gladiator pada zaman romawi kuno diselenggarakan di dalam koloseum, dugong yang berada di Kecamatan Pacet ini diselenggarakan di dalam arena berukuran sekitar 30x10 meter yang dikelilingi menggunakan pagar bambu dan ram kawat setinggi 3 meter.

Saat anjing dan bagong itu beradu ratusan penonton yang memenuhi arena dugong itu bersorak sorai dan bertepuk tangan kegirangan.

Sebelum beradu puluhan ekor anjing mengantre menunggu giliran di pintu masuk arena, sedangkan bagong sudah dilepaskan dan bebas berkeliaran di dalam arena. Satu persatu anjing itu dimasukkan dan langsung menyergap bagong.

Kadang anjing itu mengigit bagong dan sebaliknya. Kadang anjing itu berlari karena ketakutan oleh bagong begitupun sebaliknya. Dengan sadis dan brutal anjing menerkam bagong, ataupun sebaliknya. Kadang satu lawan satu, namun terkadang dua anjing melawan satu bagong.

Anjing itu menggunakan giginya untuk menerkam bagong dan bagong menggunakan taringnya untuk mencabik-cabik tubuh anjing yang melawannya.

"Eleh anjingna, alus bagongna (kalah anjingnya, bagus bagongnya)," kata salah satu penonton yang menyaksikan pertarungan dugong itu.

Pertarungannya tidak sebanding. Sebab dalam satu kali pertandingan satu bagong bisa melawan 5 sampai 10 anjing. Meski bagong sudah mengeluarkan suara rintihan seperti kesakitan dan posisi bagong sudah tersungkur, pertandingan tetap dilanjutkan bila belum strike. Di mana saat kondisi anjing atau bagong menggigit tubuh lawannya dan tidak dapat dilepaskan.

Saat strike, ketika anjing menggigit telinga bagong atau bagong menggigit kaki anjing dan gigitannya tidak dapat dilepaskan. Sejumlah panitia pertandingan tersebut menggunakan sebilah kayu untuk melepaskan gigitan anjing atau bagong itu dengan cara mendongkel mulut kedua hewan itu.

Jika telah strike maka anjing akan langsung dikeluarkan di arena pertandingan dan tubuh bagong disiram seember air untuk menghilangkan lumpur di tubuhnya yang sebelumnya bertarung hebat dengan anjing. Sementara itu anjing-anjing yang ditarungkan berjenis pitbull, terrier dan anjing pitbull peranakan. (detikcom/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Coba Tabrak Petugas, Bandar Narkoba Bertato Ditembak Mati di Medan
Proyek Turap Jalan Cor Beton di Silau Laut Asahan Gunakan Batu Bata Lapuk
Korupsi Alat Tangkap dan Bibit Ikan, 2 Mantan Kadiskanla Madina Ditahan Kejaksaan
Ada Seminar Cara Dapat 4 Istri, PKS: Poligami Bukan untuk Diobral
Gerakan Radikalisme Jadi Atensi Presiden dan Kiyai
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU