Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Melihat dari Dekat Tradisi Arak-arakan Pengantin Suku Using
Sabtu, 30 September 2017 | 14:28:45
Banyuwangi (SIB) -Masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, tetap memegang teguh budaya dan tradisi adat suku Using, suku asli Banyuwangi. Salah satunya adalah tradisi arak-arakan pengantin.

Pasangan muda Desa Kemiren, Haidy Bung Slamet (35) dan Milla (21) melangsungkan pernikahan. Mereka diarak keliling kampung dengan mengendarai kereta, Selasa (19/9) lalu.

Mereka berangkat dari rumah kerabat tempat mereka berdandan menuju pelaminan di rumah pengantin pria dan menempuh jarak sekitar 2 kilometer. Arak-arakan pengantin tersebut melibatkan banyak orang.

Di bagian depan Barong khas Kemiren, sebagai pembuka jalan dalam arak-arakan itu. Ada juga rekan-rekan pengantin yang membawa umbul-umbul dari dedaunan yang dihiasi dengan kain warna-warni serta kue-kue tradisional yang digantung.

Di belakangnya terdapat dua kereta kuda yang membawa dayang-dayang, yakni anak-anak kecil yang berhias layaknya bidadari.

Selanjutnya, rombongan keluarga yang membawa perlengkapan rumah tangga, alat-alat dapur, polo gemantung (buah-buahan), bantal kloso (bantal dan tikar), kendi suwung, petek ngerem (ayam petelur) dan picis mupu (uang) turut mengikuti prosesi ini.

Barulah raja dan ratu sehari, Haidy dan Milla, yang berdiri gagah dan anggun di atas kereta yang didorong oleh para remaja Kemiren.

Arak-arakan tersebut ditutup dengan rombongan musik tradisional yang diikuti puluhan kerabat serta tetangga kedua mempelai.

Yang menjadi heboh, hampir semua warga yang rumahnya dilewati iring-iringan pengantin akan ikut serta ke dalam rombongan. Mereka berbaur menjadi satu dengan kerabat, handai taulan, dari kedua mempelai pengantin.

Bahkan, di setiap perempatan desa, rombongan paling depan berhenti dan bersorak sorai. "Surak... surak... surak... hoooooiiii....," teriak mereka diikuti oleh para warga.

"Arak-arakan pengantin Using ini dilakukan secara bersama oleh masyarakat. Mereka menjadi saksi jika perkawinan antara dua pasangan ini sudah digelar.
Makanya masyarakat langsung turun langsung meramaikan arak-arakan. Setiap rumah pasti keluar untuk ikut arak-arakan," ujar Aekanu Haryono, salah satu budayawan Using Banyuwangi.

Setelah sampai di rumah pengantin, mereka dipertemukan kembali dengan upacara temu manten. Namun sebelumnya, digelar acara ritual 'Ngosek Ponjen' yang dilakukan oleh keluarga kedua mempelai.

Ritual ini sebagai bentuk prosesi seremoni mengantarkan anak kemunjilan (anak terakhir) ke dalam kehidupan berumah tangga dengan kegiatan yakni ngosek ponjen (mengusap sari) sari dalam bahasa Osing adalah uang di dalam tampah yang dilakukan oleh seluruh ahli waris anak kemunjilan.

"Kebiasaan di sini pengantin dipertemukan di pelaminan saat 'samar wulu' menjelang magrib dan lanjut dengan resepsi. Karena masyarakat Using kebanyakan adalah masyarakat agraris, mereka melakukan resepsi pernikahan setelah pulang dari sawah," tambah Aekanu.

Untuk hiburan, mempelai mengundang kesenian-kesenian khas Banyuwangi seperti Kuntulan, Gandrung dan masih banyak lagi. Masyarakat pun ikut serta mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, setelah menyantap makanan yang disajikan di meja-meja panjang di tempat resepsi. (detikcom/q)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Jelang Tengah Malam, Mahasiswa Masih Bertahan di Depan Istana
Bertemu 4 GM PLN Sumut, Gubsu Optimis Tol Listrik Sumbagut-Sumsel Selesai Akhir 2017
Kini Ganti Paspor Cukup Bawa e-KTP dan Paspor Lama
Kasus e-KTP, Andi Narogong Disebut Gonta-ganti Mobil hingga 23 Kali
RI Promosi Investasi Danau Toba Senilai Rp 21 Miliar di Inggris
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU