Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Su‘ Pinang Sori’, Nama dan Misi ‘Hidup Bersih’ dengan Tradisi Gulung Tikar Usai Pesta, Cuci Tangan Usai Makan dan Sendok Nasi Saat Makan
* Oleh Drs Ads Franse Sihombing, Wartawan SIB
Sabtu, 12 Agustus 2017 | 15:06:46
Wallahualam, kalau kata atau nama 'Pinang Sori' pada judul artikel ini, ada atau tak ada kaitannya dengan nama kampung atau kota kecil Pinang Sori yang ada di Tapanuli Tengah, yang populer dengan nama Bandara Pinang Sori, kini disebut Bandara FL Tobing Pinang Sori.

Tapi, nama ini jadi menarik, setidaknya bagi penulis, yang memang pernah tinggal dan 'magodang' beberapa tahun di Pinang Sori, ya dekat lokasi Bandara itu, pada tahun 1970-an, sebelum akhirnya mandah sebentar ke Desa Hutabalang. Bahwa, Pinang Sori yang oleh sebagian pihak diartikan 'serba bersih' karena belahan pinangnya saling bertemu sari, menjadi satu aspek budaya dan pedoman hidup manusia pada satu komunitas keluarga setempat dulunya.

"Konon, dulunya, ada satu komunitas keluarga yang disebut Keluarga Suwala-Sindun kelahiran Pinang Sori pada 1944, keturunannya yang kemudian menyebar merantau mulai daerah pesisir Sibolga dan pegunungan Toba bahkan kawasan perkebunan di Asahan (Lima Puluh, kini Batubara), mengabadikan nama Pinang Sori sebagai simbol kebersihan hidup mulai dari budaya bersih prilaku, bersih badan, bersih halaman (rumah) dan sebagainya. Salah satu tradisinya adalah cara melipat atau gulung tikar usai pesta atau dipakai acara apa saja, cara cuci tangan usai makan, dan cara menyendok nasi ketika tambuh saat makan," ujar Sya'ban Ali Imran Sihombing, putra sulung Mohammad Sindun Sihombing asal Pinang Sori Tapteng itu, kepada wartawan SIB Ads Franse Sihombing, pekan lalu.

Di sela-sela acara reuni komunitas keluarga keturunan Suwala-Sindun itu (Suwala, abang kandung Sindun--Red). Sya'ban mengungkapkan misi kebersihan prilaku dan kebersihan rumah dan halaman yang menjadi budaya keluarga ini antara lain dipraktekkan dengan cara melipat atau menggulung tikar. Bagi mereka, tidak boleh menggulung tikar dengan cara 'gulung pita' atau 'gulung karpet', melainkan harus dengan cara 'temu wajah' atau 'jumpa tapak'.

Tikar atau ambal atau karpet yang menjadi alas duduk bersama, harus terlebih dulu dilipat dua pada sisi atau permukaan yang sama, baru kemudian dilipat atau digulung lanjut hingga bentuk yang gampang dibawa atau disimpan. Tujuannya adalah, agar sisi atau bagian tikar yang kotor akan berkurang kotornya, dan yang bersih akan tetap terjaga bersihnya. Sementara, tradisi orang melipat atau menggulung tikar selama ini adalah cara gulung bebas sehingga bagian yang bersih akan menjadi kotor dan bagian kotor tetap atau bahkan tambah kotor.

Komunitas keluarga yang gemar silaturahmi halaman (makan-minum santai di halaman atau tepi pantai di atas tikar) sebagai salah satu budaya warga pesisir ini, juga menjaga kebersihan prilaku atau barang dengan tradisi cuci tangan. Aksi cuci tangan usai makan tidak boleh dengan mencelupkan langsung tangan makan (yang berselemak nasi-lauk) ke dalam mangkok air cuci tangan, melainkan harus terlebih dulu menyiram tangan makan itu dengan air cuci tangan di atas piring nasi. Setelah agak bersih, barulah tangan dibersihkan ke mangkok cuci tangan sambil menyiram atau basuh sedikit dengan air minum yang ada di gelas.

Tujuannya? (1). Agar air cuci tangan itu tampak relatif tetap bersih sehingga orang lain atau teman makan tidak enggan ikut cuci tangan dengan cara yang sama. (2). Agar mangkok cuci tangan jangan sampai berfungsi ganda menjadi tempat 'sampah' atau sisa makanan yang tersisa pada tangan, melainkan bisa terkumpul di piring nasi, karena pencucian tangan diartikan tempat pembersihan, bukan menjadi 'tong sampah kecil'.

Demikian juga tradisi menyendok nasi dari panci atau bakul ketika akan tambuh pada saat makan. Komunitas ini sangat memantangkan menyentuh sendok nasi dengan tangan kanan, terutama ketika makan dengan tangan (bukan pakai sendok). Pada saat menyendok nasi harus menggunakan tangan kiri agar sendok nasi tidak kotor berselemak nasi atau lauk yang melekat pada tangan kanan.

"Perhatikanlah bagaimana joroknya sendok nasi di panci itu kalau dipegang oleh tangan kanan yang digunakan menyuap nasi lauk ke mulut. Orang banyak merasa enggan (baca: risih, jijik) tapi segan bilang dan menegurnya. Tapi kalau dengan tangan kiri, tampak sendok itu tetap bersih, makan pun jadi nyaman dan nikmat, tanpa tersadar bahwa kita juga bisa memuliakan tangan kiri pada saat tertentu. Memang banyak orang buat tradisi mencuci tangan dulu ketika akan menggenggam sendok nasi ketika tambuh, tapi ini justru membuat kekotoran ganda, sendok nasi jadi basah dan mangkok cuci tangan juga kotor sebelum usai makan bersama. Ini memang praktek sederhana, tapi makna dan dampaknya cukup rawan jadi perhatian anak-cucu," ujar Sya'ban serius.

Selain tradisi lipat tikar, cuci tangan dan sendok nasi dalam praktek misi hidup bersih dengan prinsip atau 'falsafah' pinang sori itu, Sya'ban juga menyebutkan beberapa tradisi lain yang diberlakukan komunitas keluarga itu turun temurun. Misalnya, jangan menutup pintu sebelum tamu yang akan pulang belum hilang dari pandangan, harus memutar posisi sepatu atau sandal ke arah keluar rumah setiap tiba di pintu rumah, jangan membuang air bekas akhir cucian kain atau piring, dan sebagainya.

Air bekas akhir cucian kain atau piring itu, akan lebih efisien digunakan untuk menyiram kotoran atau limbah setiap kali usai buang air besar atau kecil, atau menyiram halaman rumah mengurangi debu di hari kemarau. Soalnya, selama ini kita lebih sering menyiram kotoran dengan air bersih yang langsung dari bak atau kran air, sementara untuk cuci tangan ketika makan justru menggunakan air bekas cucian tangan orang lain, yang sama sekali tak bersih atau jernih lagi.

"Kapan-kapan boleh tinjau ke rumah keluarga ini. Rumahnya sepintas pun tampak seperti hutan kecil karena pohon-pohon yang ada di sekitar halaman nyaris tak boleh ditebang sampai-sampai pernah bertengkar dengan petugas PLN. Mereka juga tak boleh membuang sampah ke luar halaman rumah apalagi kalau ke halaman orang lain atau ke pinggir jalan. Mereka membuat wadah sampah sendiri yang akhirnya bisa digunakan untuk pupuk bunga, alat biopori, bahkan habitat hewan-hewan kecil sehingga berbagai jenis burung singgah di rumpun pepohonan sekitar rumah itu," katanya. (A04/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
PDBI Medan Juara Umum Kejurda Piala Gubsu
PSMS Siap Jaga Marwah Stadion Teladan
Atlet Wushu Sumut Raih Medali Emas di SEA Games 2017 Kuala Lumpur
KONI Binjai Lepas Lifter Besi ikut Kejurda
Perolehan Sementara Medali SEA Games 2017
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU