Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Dinas Budpar Sumut Terbitkan Buku Kamus Budaya Batak Toba
* Selain Kamus Kata, Juga Kamus Gambar dan Simbol-Simbol Batak * Catatan Drs Ads Franse Sihombing, Wartawan Harian SIB
Sabtu, 6 Mei 2017 | 16:40:12
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumatera Utara, belum lama ini menerbitkan dan meluncurkan buku khusus berupa Kamus Budaya Batak Toba, yang ditulis oleh MA Marbun (almarhum) dan putranya Drs Lambers Marbun, yang tak lain adalah ayah dan abang kandung dari Elisa Marbun, Kepala Dinas Budpar Sumut sekarang ini.

Buku setebal 360 halaman dengan sampul bergambar ulos dan kitab kuno Batak plus judul di serambi dengan aksara Batak itu, memang tampil beda. Selain menyajikan kamus kata demi kata mulai dari alfabet A hingga U (kata dengan huruf awal W hingga Z memang nyaris tak ada dalam kamus Batak--Red), buku kamus ini juga menyajikan gambar-gambar dan simbol-simbol bahkan objek-objek baku di kalangan atau Tanah Batak, beserta arti dan historisnya.

"Selain untuk mengenal lebih dalam dan lebih jauh tentang spesifikasi adat dan budaya Batak yang tertuang melalui aksara atau kata-kata dan gambar (simbol Batak), kamus ini juga untuk memperkuat eksistensi masyarakat Batak khususnya, sebagai bagian dari kekayaan khasanah budaya bangsa Indonesia, juga sebagai referensi dan studi banding bagi para pemerhati budaya lain di dalam maupun luar negeri, karena adat dan budaya Batak juga sudah menjadi salah satu khasanah budaya besar di berbagai negara luar negeri, khususnya di Belanda dan Jerman," ujar Drs Elisa Marbun kepada SIB di ruang kerjanya.

Sembari memaparkan kronologi penyusunan hingga penerbitan buku itu, Elisa Marbun juga mengisahkan hubungan ayahnya MA Marbun (alm) dengan DR GM Panggabean (alm) pemimpin umum . pemimpin redaksi Harian SIB, selaku pemerhati dan tokoh peduli budaya melalui Lembaga Sisingamangaraja XII di era tahun 1980-an silam. Secara khusus Elisa Marbun menyebutkan edisi pertama buku Kamus Budaya Batak Toba itu dulunya sudah pernah diberikan kepada Bapak DR GM Panggabean dalam satu kesempatan acara seni budaya Batak di daerah ini.

Kamus Budaya Batak Toba, edisi revisi (2017) ini, diawali lembar-lembar khusus yang berisikan (12 halaman) halaman apresiasi dan introdaksi cara membaca kata-kata Batak yang relatif beda penyebutan dengan penulisannya. Misalnya kata atau tulisan 'jambar' yang dibaca atau disebut 'jabbar', gantang diucap 'gattang', 'dengke' dibilang (disebut) 'dekke', dan sebagainya.

Pada buku ini, kamus diawali dengan kata 'Abul' yang artinya ganti rugi atau nilai nyawa manusia. Secara ringkas, kata 'abul'  ini muncul bermula dari kasus pembunuhan atau tewasnya seseorang dalam pertarungan di zaman leluhur marga Naipospos. Abul itu meliputi semacam biaya ganti rugi atau santunan kematian yang meliputi sajian makanan di acara duka (boan), pengadaan peti jenazah (ruma-ruma) dan biaya penguburan.

Beda dengan kamus umum yang terdiri dari 26 abjad (A hingga Z), kamus Batak Toba ini berakhir pada abjad 'U' pada kata 'Uti Mutiraja' yang artinya sama dengan Raja Uti. Raja Uti dalam hikayatnya adalah keturunan Guru Tatea Bulan yang melantik Raja Sisingamangaraja I (pertama) yang juga menyerahkan tujuh macam harta pusaka Raja Batak dulunya.

Usai kamus kata-kata (A hingga U minus Q), sesi album gambar pada buku ini memuat kamus tentang gambar atau simbol-simbol Batak (halaman 286 hingga 360). Bagian ini diawali gambar 'adop-adop', yaitu gambar empat bulatan dengan 'titik khusus bulatan di tengahan' yang sepintas mirip buah dada wanita.
Berikutnya gambar cecak yang disebut 'boraspati'. Lalu gambar 'Danau Toba' dengan detil kompleks sekitar objek (sketsa) kampung Bakkara, yaitu: (1). Lumban Raja yang meliputi Istana Raja Sisingamangaraja, Batu Siungkapon, Partungkoan, dan makam. (2) Harangan Bolon (hutan keramat) Sulu-sulu. (3). Hundulan (tempat duduk raja). (4). Telaga Aek Sipangolu. (5). Homban Simanullang. (6). Homban Julu Banjarnahor. (7). Homban Solotannahor. (8). Aek Manuruk. (9). Pelabuhan Onan Lobu. (10). Huria (gereja). (11). Singkola (sekolah SMP), (12) jalan raya. (13) Sawah ladang (hauma).

Gambar-gambar lain plus artinya adalah Bindu Martoga swemacam grafis delapan penjuru mata angin. Lalu, Borotan berupa gambar kerbau yang ditambat di batang pohon dekat rumah adat Batak, Dalihan Na Tolu (tiga tungku batu), Desa Na Ualu (delapan penjuru mata angin), Garantung - Gordang (aneka alat musik tradisionil Batak), Gorga (aneka ukiran Batak), Jabu (rumah adat Batak) dengan 25 unsur dan ornamen plus makna masing-masing, mandera (bendera khas Kerajaan Sisingamangaraja), parhalaan (kalender khas Batak kuno),  pustaha (buku kuno Batak), raga-raga (guri-guri), tarombo (silsilah Sisingamangaraja I hingga XII yang bermula dari barisan Raja Sorbadibanua, Si Raja Oloan, Raja Toga Sinambela dan Raja Bonanion Sinambela (sebelum Raja Sisingamangaraja I).

Berikutnya adalah gambar 'Tulila' (kentongan), 'Tunggal Panaluan' (tongkat khas kebesaran Raja Batak) yang mengandung delapan level makna (mulai bagian kepala hingga tengah batang tongkat) yaitu: Si Aji Donda Hatahutan, Si Boru Tapi Nauasan, Datu Parmanuk Holing, Datu Malatang Maliting, Boru Sibaso Bolon, Datu Horbo Marpaung,. Jolma Sobegu dan Datu Parpansa Ginjang.

Setelah gambar sketsa 'Tutur' yang meliputi arti sillisah lintas keluarga dan keturunan (partuturon). Isi kamus Budaya Batak Toba ini diakhiri dengan gambar sejumlah ulos, yaitu kain selempang tenunan khas tradisional Batak, misalnya Ulos Bintang Maratur, Ulos Bintang Parompa, Ulos Bunga Ambasong, Ulos Jogia Nasopipot, Ulos Mangiring, Ulos Pinunsaan, Ulos Runjat Marisi, Ulos Ragi Angkola, Ulos Ragi Hotang, Ulos Ragi Idup, Ulos Ragi Pakko, Ulos Ragi Uluan, Ulos Sarisuri, Ulos Sibolang Resta, Ulos Sitolutuho, Ulos Talitali, Ulos Ulutorus dan lainnya.]

"Untuk melestarikan simbol Batak sebagai profil budaya Batak itu, pada sampul belakang buku atau kamus ini ditampilkan gambar cap atau stempel Raja Sisingamangaraja XII yang terdiri dari aksara Batak dan aksara Arab, yang telah diakui dunia sebagai simbol pluralisme pahlawan Sisingamangaraja XII selama hidupnya," ujar Elisa Marbun, kepada SIB.

Sebagai apresiasi atas penerbitan dan peluncuran buku ini, turut memberikan kata sambutan antara lain, Gubernur Sumut Ir HT Erry Nuradi Msi, Bupati Humbang Hasundutan Dosmar Banjarnahor, Kadis Pendidikan Propinsi Sumut Drs Arsyad MM, Kepala Balai Bahasa Kemdikbud Sumut DR T Syafrina MHum, dan Kadis Budpar Sumut sendiri, Drs Elisa Marbun. (l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pedagang Minta Hentikan Eksekusi dan Beri Izin Pendirian Pasar SRO di Pangururan
HUT ke-62, Sat Lantas Polres Asahan Berbagi dengan Warga Kurang Mampu
Bupati Resmikan Pojok Edukasi Sampah di Komplek Stadion Bina Raga Rantauprapat
Anggota DPRD Tegal Kunker ke Tebingtinggi Terkait Perpustakaan dan Arsip
Boy Simangunsong Perjuangkan Aspirasi Masyarakat Laguboti
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU