Home  / 
Polisi Sita Uang Tunai Rp 405 Miliar dan 400 Tas Mewah
Geledah Kediaman Mantan PM Najib Razak
Sabtu, 26 Mei 2018 | 15:31:44
Kuala Lumpur (SIB)- Kepolisian Malaysia secara total telah menyita lebih dari 400 tas mewah dan uang tunai yang mencapai hampir US$ 30 juta (sekitar Rp 400 miliar) dalam penggeledahan terkait penyelidikan skandal mega korupsi 1MDB yang menyeret mantan Perdana Menteri (PM) Najib Razak.

Uang dan tas-tas mewah, kebanyakan bermerek Hermes, serta perhiasan dan jam-jam tangan mewah, disita di dua apartemen di Kuala Lumpur. Total 12 lokasi, termasuk rumah Najib dan apartemen-apartemen anak-anaknya, digeledah polisi pekan lalu sebagai bagian dari penyelidikan skandal 1MDB.

"Dari uang tunai yang ditemukan, ada 26 jenis mata uang, jumlah totalnya hingga kemarin adalah 114 juta Ringgit," ujar Amar Singh, Kepala Divisi Kejahatan Komersial Kepolisian Malaysia dalam konferensi pers,  Jumat (25/5).

Amar Singh mengatakan pihaknya telah bekerja sama dengan pihak bank untuk menghitung jumlah uang tunai tersebut. "Untuk pemeriksaan kami telah meminta bantuan Bank Negara dan Bank Islam Malaysia untuk menghitung jumlahnya. Kami menggunakan 11 mesin untuk menghitung dan 21 pegawai bank membantu menghitung," ujarnya.

Uang tunai dalam jumlah fantastis tersebut ditemukan dalam 35 tas di sebuah apartemen, sedangkan 37 tas lainnya di lokasi yang sama, berisi perhiasan dan aneka jam tangan mewah. Total 284 kotak berisi tas-tas mewah juga ditemukan di apartemen tersebut. Polisi juga telah menyita sekitar 150 tas mewah dari unit apartemen lain di kompleks yang sama, tempat putri Najib tinggal.

Kebanyakan tas-tas tersebut adalah Hermes Birkin -- yang menjadi favorit istri Najib, Rosmah Mansor yang dikenal glamour. Singh mengatakan, foto tas-tas tersebut akan dikirimkan ke Hermes di Paris, Prancis untuk mendapatkan estimasi harganya.

Sementara itu, Singh memastikan bahwa 37 tas mewah lain yang turut dirampas dari properti Najib Razak berisi sejumlah perhiasan dan jam tangan mewah. Polisi belum berhasil menaksir nilai benda-benda itu. "Sebagian besar tas tampaknya bermerk Hermes. Kami telah berdiskusi dengan Hermes dan ahli lain untuk meminta mereka memverifikasi keaslian dan harga tas serta benda mewah lain," lanjut Singh.

Polisi menggerebek tiga apartemen yang terkait dengan Najib Razak di Pavilion Residences, Kuala Lumpur pada 18 Mei silam. Penggerebekan itu menandai babak baru proses penyelidikan aparat penegak hukum Malaysia atas skandal mega korupsi 1Malaysia Development Berhad atau 1MDB.

Di ketiga properti, polisi menyita 284 kotak yang berisi perhiasan, tas desainer, sepatu, jam tangan dan uang tunai. "Ashman (putra Najib) dan Nooryana Najwa (putri Najib) masing-masing tinggal di satu apartemen terpisah. Sementara apartemen ketiga tidak berpenghuni," kata Singh. "Apartemen ketiga bukan milik salah satu anggota keluarga Najib," lanjut Singh yang menolak untuk menyebutkan nama pemiliknya.

Di apartemen Nooryana, polisi menyita 150 tas mewah, berbagai sepatu, termasuk sepatu bayi. Singh tak menjelaskan apa yang polisi temukan di apartemen Ashman. Lebih lanjut, Singh juga memastikan telah menemukan setengah juta ringgit (dalam berbagai mata uang asing) di rumah pribadi Najib Razak. 

Selidiki Peran Jho Low
Kementerian Keuangan Malaysia dalam hal ini Kantor Pajak telah meminta Dewan Pendapatan Dalam Negeri (IRB) untuk menyelidiki pengusaha Jho Low terkait skandal mega korupsi 1Malaysia Development Berhad (1MDB). Tak hanya Jho Low, keluarganya juga akan diselidiki.

Menteri Keuangan Lim Guan Eng mengumumkan permintaan ke IRB tersebut melalui akun Twitternya. "Dewan Pendapatan Dalam Negeri (IRB) diminta untuk menginvestigasi Jho Low dan keluarganya terkait pengembalian atau apapun yang diterima dalam skandal 1MDB," ujar Lim Guan Eng.

Low yang merupakan orang dekat mantan PM Malaysia Najib Razak, hingga kini tidak diketahui keberadaannya. Sementara Najib yang kalah dalam pemilu 3 minggu lalu, telah dicekal untuk bepergian ke luar negeri. Pencekalan Najib bersamaan dengan penyelidikan baru yang dilakukan pemerintahan Mahathir terkait skandal 1MDB yang menghilangkan dana miliaran dolar.

Sebelumnya nama Jho Low kerap dikait-kaitkan dengan skandal 1MDB khususnya terkait penyitaan yacht mewah senilai Rp 3,5 triliun di Bali. Disebutkan bahwa yacht tersebut milik Jho Low. Perusahaan investasi 1MDB didirikan Najib Razak yang ditengarai ada praktik pencucian uang, salah satunya terkait yacht tersebut. Hakim praperadilan PN Jaksel telah memerintahkan Bareskrim Polri mengembalikan kapal yacht Rp 3,5 triliun ke pihak Equanimity (Cayman) Ltd Islands karena penyitaan yang dilakukan Polri dianggap tidak sah. 

Bertemu dengan FBI
Satuan tugas penyelidikan skandal 1Malaysia Development Berhad (1MDB) bertemu dengan perwakilan dari Biro Investigasi Federal (FBI) dan Kementerian Kehakiman Amerika Serikat untuk membahas kerja sama investigasi. "Hasil dari pertemuan ini adalah kedua belah pihak sepakat bekerja sama sepenuhnya untuk menyempurnakan penyelidikan yang dijalankan," demikian pernyataan resmi satgas tersebut melalui siaran pers.

Di awal pertemuan tersebut, pihak FBI mengajukan permohonan kerja sama yang sebenarnya sudah disampaikan melalui surat bertanggal 13 November 2016 kepada Ketua Komisi Anti-Korupsi Malaysia (MACC) yang saat itu dipimpin Duzlkifli Ahmad, tapi tak berbalas. 

Pihak Kementerian Kehakiman AS juga melayangkan surat serupa kepada Jaksa Agung Malaysia, Mohamed Apandi Ali, pada 22 September 2017 lalu. "Walau bagaimana pun, permohonan ini tidak dipenuhi dan ditangguhkan atas alasan akan mengganggu penyelidikan yang sedang dijalankan oleh pihak berkuasa di Malaysia," tulis satgas tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, pihak FBI dan Kementerian Kehakiman AS pun menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Malaysia atas kerja sama mereka, "setelah pemerintahan sebelum ini tak melakukan apa-apa terkait 1MDB." Mereka lantas membahas tujuan utama dan fokus penyelidikan bersama ini, juga hal-hal terkait pembekuan aset yang dilakukan oleh AS terkait skandal 1MDB. Namun, satgas itu tak merinci pembahasan tersebut.

Selama ini, sejumlah pihak, termasuk AS, menggelar penyelidikan khusus karena investor global dari 10 negara menduga ada miliaran dolar dijarah melalui 1MDB. Kasus ini menjadi perhatian luas setelah pada 2015 lalu Wall Street Journal melaporkan bahwa ada aliran dana sebesar US$681 juta dari 1MDB masuk ke rekening pribadi mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak.

Saat menjabat, Najib selalu membantah tudingan ini dengan menegaskan bahwa uang tersebut merupakan sumbangan dari anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi. Setelah Najib digulingkan oleh Mahathir Mohamad dalam pemilu bersejarah pada 9 Mei lalu, pemerintah Malaysia langsung melakukan penyelidikan besar-besaran.

Sejak saat itu, Najib sudah dua kali dipanggil ke markas MACC untuk memberikan keterangan terkait skandal 1MDB tersebut. Namun, MACC belum memutuskan untuk menahan Najib karena masih mengumpulkan bukti lebih lanjut. (Detikcom/CNNI/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Tidak Miliki Izin, Pembangunan Tower BTS Harus Segera Dihentikan
Kadis Perindag Dairi: Penjualan Pupuk Bersubsidi Harus Sesuai RDKK
Biaya Pendidikan di SMAN 1 Brandan Barat Langkat Dinilai Mahal
Persami Tingkatkan Kreatifitas Siswa SMP N 1 Raya
Cuaca Ekstrim, Masyarakat Diminta Waspadai Kebakaran
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU