Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Trump atau Hillary? Kaum Muda AS Lebih Pilih Meteor Tabrak Bumi
* 6 Isu Penting Debat Capres Terakhir Hillary Vs Trump
Kamis, 20 Oktober 2016 | 12:36:51
Massachusetts (SIB)- Kaum muda di Amerika Serikat (AS) merasa tidak puas dengan pilihan capres dalam pilpres tahun ini. Setidaknya satu dari empat pemuda AS lebih memilih meteor raksasa menghancurkan Bumi daripada melihat Donald Trump maupun Hillary Clinton duduk di Gedung Putih. Direktur Pusat Opini Publik pada University of Massachussetts Lowell (UMass Lowell), Joshua Dyck, menyebut pertanyaan tidak serius itu dimaksudkan untuk menaksir ketidakpuasan kaum muda AS terhadap capres tahun ini. Polling digelar oleh UMass Lowell bersama Odyssey Millennials, semacam platform media sosial AS.


Polling dilakukan terhadap 1.247 responden dengan batasan usia 18 tahun hingga 35 tahun. Tagar #GiantMeteor2016 muncul di Twitter sebagai bagian dari polling ini, merujuk pada ekspresi frustrasi terhadap pilihan capres untuk pilpres 8 November mendatang.

Seperti dilansir Reuters, Rabu (19/10), hasil polling itu menunjukkan sebanyak 53 persen responden lebih memilih untuk melihat meteor menghancurkan Bumi daripada melihat capres Partai Republik Donald Trump menjadi Presiden AS. Sedangkan 34 persen responden lebih memilih meteor menghancurkan Bumi daripada melihat capres Partai Demokrat Hillary Clinton memenangi pilpres.

Kemudian dalam kategori lain, sekitar 39 persen responden mengaku lebih memilih Barack Obama menjadi Presiden AS seumur hidupnya, daripada menyerahkan jabatannya kepada Hillary maupun Trump. Sedangkan sebanyak 26 persen responden menyatakan, AS akan lebih baik memilih pemimpin selanjutnya lewat undian acak. Secara keseluruhan, sekitar 23 persen responden atau sekitar satu dibanding empat, lebih memilih meteor raksasa daripada Trump maupun Hillary.

"Jelas, kami pikir mereka (responden) tidak serius. Fakta bahwa satu di antara empat anak muda kita memilih 'Meteor Raksasa', cukup menunjukkan kepada Anda soal ketidakpuasan politik yang dirasakan kalangan muda Amerika," ucap Dyck dalam wawancara via telepon. Hasil berbeda terjadi saat Obama memenangkan pilpres AS tahun 2008, dengan melonjaknya partisipasi golongan muda di AS.

Masih dalam polling yang sama, dengan pertanyaan lebih serius, soal capres yang akan dipilih dalam pilpres nantinya, sebanyak 54 persen responden memilih Hillary dan hanya 21 persen responden yang memilih Trump. Hasil itu untuk pertarungan dua kandidat utama.

Sedangkan untuk pertarungan empat kandidat, dengan menyertakan kandidat alternatif Gary Johnson dari Partai Libertarian dan Jill Stein dari Partai Hijau, Hillary masih unggul dengan 48 persen suara melawan Trump dengan 20 persen, serta Johnson dengan 10 persen dan Stein dengan 4 persen. Polling ini dilakukan antara 10-13 Oktober, dan secara sengaja memasukkan sejumlah besar responden yang kemungkinan tidak akan memilih dalam pilpres mendatang. Hanya sekitar 680 responden, dari 1.247 responden yang menyatakan akan memilih. Margin of error polling ini sekitar 3,2 persen.

Sementara itu moderator Chris Wallace  mengumumkan topik-topik untuk debat capres AS terakhir, dan ia memilih topik yang lebih spesifik dibandingkan para pembawa acara sebelumnya. Wallace, yang akan memandu debat tanggal 19 Oktober (20 Oktober pagi WIB) di Universitas Nevada, Las Vegas, memilih beberapa subjek untuk debat ketiga antara Donald Trump dan Hillary Clinton.

Menurut rilis dari Komisi Debat Presiden Hillary dan Trump akan dihadapi soal utang dan bantuan pemerintah. Tak hanya itu, Wallace menganggap imigrasi masih menjadi isu penting. Ditengarai terkait dengan kampanye Trump tentang tembok Meksiko dan pelarangan muslim masuk AS.

Isu ekonomi juga menjadi hal fundamental bagi Wallace. Demikian pula dengan pemilihan jaksa agung AS. Dua isu lainnya adalah wilayah 'panas' di luar negeri. Tak dijelaskan negara mana, tapi ada kemungkinan Suriah, Ukraina, Rusia dan Korea Utara. Isu yang terakhir adalah kelayakan Hillary dan Trump untuk jadi presiden AS. Komisi Debat menyatakan bahwa debat sepanjang 90 menit akan terdiri dari enam bagian, masing-masing 15 menit dan akan membahas isu-isu yang telah disebutkan di atas, meski mungkin urutannya tidak persis seperti itu.

Sebelum debat pertama tanggal 26 September di Hempstead, N.Y., moderator Lester Holt menyatakan bahwa ia akan menanyakan sejumlah pertanyaan yang menyangkut "Arah dan Tujuan Amerika," "Mencapai Kemakmuran," dan "Mengamankan Amerika."

Sebelum forum pertemuan balai kota di St. Louis pada 9 Oktober lalu, komisi mengumumkan bahwa pertanyaan yang diajukan akan berupa "topik-topik yang menarik perhatian masyarakat umum sebagaimana tergambarkan di media sosial dan sumber-sumber lain."

Debat Las Vegas mendatang sekaligus menjadi 'head-to-head' terakhir antara Hillary dan Trump, setidaknya di atas kertas, tampaknya lebih berorientasi pada kebijakan daripada pertarungan pribadi yang tajam seperti yang terjadi di St. Louis. Kendati demikian, segmen "kelayakan sebagai presiden" bisa jadi akan menjadi debat yang cukup sengit. (Detikcom/I)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pesawat Bertenaga Listrik Meluncur pada 2020?
Unik, RS di China Punya Robot Suster
Teknologi E-Voting Laris untuk Pemilihan Kepala Desa
Apple Bakal Tinggalkan Pembaca Sidik Jari Demi Sensor Wajah
OnePlus Ketahuan Koleksi Data Pengguna Tanpa Permisi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU