Hotel Tapian Nauli
Home  / 
Aneka Tradisi Leluhur dengan Suguhan Nasi Liwet
Minggu, 18 Juni 2017 | 12:51:11
Liwet yang merupakan salah satu proses memasak nasi khas Indonesia ternyata telah ada sejak zaman nenek moyang. Terbukti dengan tercatatnya nasi liwet dalam buku Serat Centhini (1814-1823).

Menurut Ahli Gastronomi Indonesia, Murdijati Gardjito, liwet adalah proses memasak yang sangatlah tua, dan termasuk yang sederhana.

"Proses memasak khas Indonesia ini sudah tersebar di Pulau Sumatera dan Jawa mulai nenek moyang, dan saat ini lahirlah nama-nama ragam kuliner di berbagai daerahnya hasil proses liwet itu," ujar Mudijati yang juga peneliti di Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gajah Mada (UGM).

Salah satu produknya ialah Nasi Liwet Solo, yang dalam selametan orang Jawa disebut nasi wuduk. Nasi wuduk sendiri kerap hadir dalam selametan seperti "dhahar rasulan" yang dilakukan untuk keperluan selametan atau hidangan saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

"Wuduk di dhahar rasulan, kelengkapan lauknya berbeda dengan nasi liwet Solo. Yaitu sambal pecel, sambal pencok, lalapan (mentimun, ketimun, kubis, tauge pendek, daun kemangi), krupuk kulit sapi, ingkung ayam jago," ujarnya.

Salah satu Profesor Sastra Jawa Universitas Indonesia, Parwatri, menambahkan bahwa nasi hasil liwetan juga biasa disajikan dalam upacara adat Jawa yaitu wilujengan Jawa. Seperti malam midodareni yang merupakan syukuran sebelum upacara pernikahan berlangsung.

"Juga pada malam midodareni. Jam 24 diadakan majemukan doa dengan sesaji ambengan nasi liwet lauknya opor ingkung, trancam (kol, kecambah mentah, bawang merah utuh, dan bumbu urap), pecel pitik (ayam panggang suwir bumbu pecel), dan krupuk kulit (rambak)," ujarnya.

Tradisi makan nasi liwet beramai-ramai ternyata telah ada sejak lama. Di beberapa daerah, tradisi ini memiliki nama khusus. Seperti megibung di Bali, bancakan di Sunda, dan lain-lain.

Saat ini tren tersebut kembali melanda masyarakat, bahkan kaum urban. Mengonsumsi nasi liwet dengan cara memanjang dan disantap bersama banyak orang, kian ramai dilakukan.

"Liwetan yang lagi trend sekarang adalah makan bersama-sama di meja panjang dan duduk di kursi atau lesehan, nasi dan lauknya disajikan di atas daun pisang," ujar Santhi Sherad, Founder Komunitas Aku Cinta Masakan Indonesia, Kamis (8/6).

Namun, dari manakah sebenarnya tradisi tersebut bermula?

Salah satu Dosen Sastra Jawa Universitas Indonesia, Prapto Yuono mengatakan kebiasaan tersebut dimulai dari tradisi dan pengaruh agama Islam di pesantren-pesantren dahulu.

"Soal kebiasaan makannya yang disusun memanjang ini kan varian atau variasinya slametan. Cara ini dimulai dari tradisi pengaruh agama Islam. Kelihatannya dimulai dari hampir semua pesantren di Jawa sejak dahulu," ujarnya, Jumat (9/6).

Hal senada dikatakan salah satu ahli kuliner Indonesia, William Wongso. Ia mengatakan tren tersebut hanya ingin menghadirkan kebiasaan sejak dulu di kelompok-kelompok masyarakat tertentu.

"Bancakan atau makan bareng semacamnya itu menghadirkan lagi memori kita sebenarnya kalu dulu sering di pesantren-pesantren Islam Jawa makan liwetan bareng-bareng. Kemudian di masyarakat Jawa Barat juga, biasanya sama keluarga," ujar William saat launching Web Series Kuliner Indonesia Kaya di Menteng, Jakarta, Rabu (7/6).

Prapto menyimpulkan bahwa tradisi tersebut memang bagus, karena menandakan kebersamaan dan memperkuat kekeluargaan. Seperti fungsi awalnya di pesantren-pesantren tersebut

LAUK ASLI
Kepopuleran nasi liwet kini memang sudah luar biasa. Anda bisa menemukan nasi liwet Solo maupun nasi liwet Sunda dengan berbagai campuran lauk.

Bahkan pada saat ini nasi liwet asal Garut sudah diproduksi sebagai nasi instan dengan berbagai cita rasa.

Semakin beragamnya varian penyajian nasi liwet menandakan masakan asli Indonesia ini semakin diterima di kalangan masyarakatnya. Namun, bagaimanakah penyajian semestinya yang diwariskan nenek moyang sejak dahulu?

Baik di Sunda maupun di Solo, nasi liwet tetap merupakan sebuah produk olahan nasi dengan cara masak diliwet yaitu mencampurkan air dan beberapa bahan lain bersama beras dalam satu tempat masak.

"Yang harus ada dalam liwet mana pun ialah garam, daun salam, dan santen. Kecuali (nasi liwet) Sunda tidak pakai santen, tapi di beberapa daerah Sumatera dan Jawa lazim pakai santen," ujar Murdijati Gardjito, peneliti di Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM.

Nasi liwet khas Sunda disajikan bersama lauk yang sudah bersatu dengan nasi.

Jika melihat awal kemunculannya, lauk yang disajikan seperti ikan peda merah, ikan kembung yang sudah dipindang, bisa juga ikan asin jambal roti. Tak lupa lalapan dan sambal terasi menjadi pasangan setia.

"Di Sunda, liwet memakai bumbu: garam, bawang merah, bawang putih, daun salam, sereh, lengkuas, cabe, santan, minyak kelapa dan ikan asin, bergantung selera. Dicampur langsung pas setengah matang," ujar Teddi Muhtadin, Dosen Sastra Sunda Universitas Padjajaran, Kamis (8/6).

Sedangkan nasi liwet Solo, lauk yang khas sejak dulu ialah sayur labu siam (jipang), telur pindang, ayam suwir dan areh. Selain itu masyarakat juga biasa menambahkan lauk sebagai pelengkap yaitu tahu tempe bacem, dan sambal goreng ati.

Menurut Murdijati, meski disajikan dengan macam-macam lauk, belum pernah ditemukan catatan filosofi yang memaknai di setiap lauknya. Ia menyebutkan kombinasi lauk tersebut sejak dahulu dipilih hanya karena kombinasi rasa yang pas.

"Komposisinya menghasilkan kombinasi rasa yang tepat, seperti sambal jipang itu menghasilkan pedas, gurih, dan hangat. Dari ayam opor dan telor itu juga kan sudah enak, ditambah areh yang merupakan gumpalan santan yang memperkaya rasa," ungkap Murdijati.

Sedangkan pemilihan lauk pada nasi liwet Sunda sendiri lebih ke tradisi masyarakat perkebunannya, yang identik suka dengan ikan asin, sambal, dan lalapan dari kebunnya langsung. (Kps.com/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Menperin Minta IKM Nasional Manfaatkan Pasar Online
Hyundai Gandeng Arta Graha Bangun Pabrik di Indonesia
Perintah Susi ke Pejabat KKP: Tolak Proyek Titipan dari Siapapun!
Sampai November 2017, Pemerintah Sudah Belanja Rp 1.619 Triliun
Batasan Gaji Bebas Pajak Ketinggian, Rasio Pajak RI Malah Merosot
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU