Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Keumamah Keras dan Nikmat dari Serambi Mekkah
Minggu, 19 Maret 2017 | 15:46:32
Kerasnya tekstur membuat sajian ini kerap disebut ikan kayu. Meski keras, hasil proses masak yang cukup panjang membuatnya jadi masakan favorit Aceh yang tak diragukan lagi kelezatannya.

Biasanya masyarakat Aceh menggunakan ikan tongkol atau ikan tuna hasil tangkapan nelayan setempat untuk meracik keumamah. Keumamah banyak diproduksi masyarakat Kutaraja, Gampung Lampulo, Banda Aceh.

Proses pembuatan keumamah cukup makan waktu. Pertama, ikan tongkol atau tuna segar--belum diberi bahan pengawet--direbus hingga matang, kemudian ikan dibersihkan dari duri, tulang, kepalanya juga dihilangkan.

Setelah itu ikan dibelah empat dan dijemur di bawah terik matahari selama beberapa hari. "Jika semakin lama dijemur, maka kadar airnya akan semakin berkurang dan daging ikannya akan semakin keras, persis seperti kayu," jelas pemilik pengolahan ikan di perkampungan nelayan Pusong Lhoseumawe, Tgk Rusli.
Setelah dijemur dua sampai tiga hari, keumamah diberi taburan garam dapur dan tepung sebagai pengawet alami. Setelah ikan mengeras layaknya kayu, mereka memasaknya dengan mengiris tipis-tipis ikan, lalu direndam sebentar agar tidak terlalu keras dagingnya baru dimasak.

Proses pengawetan ikan hingga jadi keumamah ini rupanya berasal dari para pejuang Aceh zaman baheula. Pada masa penjajahan, mereka harus bergerilya di hutan dalam waktu lama. Itu mengapa makanan yang dapat bertahan lama--dan lezat--juga termasuk dalam amunisi para pejuang.
"Maka dari itu muncul keumamah," ujar pemerhati sejarah Aceh, Tengku Matang di Lhokseumawe. Tak hanya praktis, gurihnya keumamah juga mampu meningkatkan selera makan.

Kepraktisan keumamah juga membuatnya jadi menu andalan jemaah haji Aceh yang hendak bertolak ke Tanah Suci dengan menumpang kapal layar. Waktu perjalanan yang lama tak jadi masalah karena mereka punya bekal keumamah untuk makan di perjalanan.

Di Aceh, produksi keumamah merupakan wujud kreativitas masyarakat setempat untuk menambah penghasilan, selain dari profesi sehari-hari mereka sebagai nelayan. Di Aceh, keumamah biasanya dijual per kilogram harganya sekitar Rp50 ribu sampai Rp60 ribu. Biasanya, masyarakat Aceh membelinya menjelang hari besar atau saat ada perayaan.

Salah satu produsen keumamah adalah Fauziah Basyariah (48), warga Desa Lampulo. Janda korban tsunami ini merintis usaha sejak 2006.

Kreativitasnya melahirkan produk ikan kayu--nama lain keumamah--kemasan yang dilengkapi bumbu dan cara memasak. Selain itu Fauziah juga membuat varian baru, ikan kayu crispy siap goreng.

Produknya diberi nama ikan kayu cap kapal tsunami, mulai diperdagangkan sejak 2012 di Gallery Balee Inong. Lokasinya di depan situs tsunami, yakni tempat wisata perahu di atas rumah.

Jika ingin mencoba mengolah keumamah di dapur sendiri, simaklah apa kata Yuna, pemilik warung makan khas Aceh di Lhokseumawe. Bumbu dasar keumamah terdiri dari cabai rawit, cabai merah, bawang merah, bawang putih, kunyit, ketumbar dan asam sunti.

Ada pula yang menumis keumamah--yang sudah disuwir--dengan cabai hijau, santan, dan beberapa rempah lain sehingga teksturnya agak basah meski ikannya tetap padat.

Resep berikut juga bisa Anda jadikan panduan. Pastikan Anda menyediakan bahan santan, asam sunti, sala koja, cabai hijau, belimbing wuluh, cabai rawit merah, bawang putih, ketumbar, kunyit, merica, jeruk nipis, dan garam. (Beritagar.Id/d)


Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Penikaman di Finlandia dan Rusia, 2 Orang Tewas 14 Terluka
Balita Tewas “Dikeroyok” 30 Tawon
Trump Pecat Penasihat Senior Steve Bannon yang Kontroversial
Sama-sama Tidak Populer, Putin Dinilai Lebih Baik dari Trump
Kebakaran Besar di Portugal, Ribuan Warga Desa Terperangkap
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU