Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Kuliner sebagai Media Diplomasi
Minggu, 27 November 2016 | 14:33:31
SIB/Ant/Setpres
MAKAN BERSAMA: Presiden Joko Widodo makan bersama mantan Presiden Megawati Soekarnoputeri, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (21/11). Presiden Jokowi juga melakukan pertemuan empat mata dengan Presiden RI periode 2001-2004 tersebut di teras belakang Istana Merdeka.
Lewat jamuan makan, banyak hal baik bisa terjadi. Layaknya senandung pada bayi, perpaduan sajian dan pembicaraan dapat mengajak para penikmatnya hanyut dalam tenang.

Bangsa Indonesia sudah mengenal budaya makan bersama sejak zaman baheula. Bancakan di Sunda, megibung di Bali, bedulang di Belitung, makan bajamba di Sumatera Barat dan masih banyak lagi. Semua menunjukkan bahwa makan bersama dapat menjadi wadah silaturahmi hingga penyelesaian masalah.

Presiden Jokowi adalah salah satu yang paham betul bagaimana menggunakan kekuatan halusnya, berdiplomasi lewat sajian dan makan bersama. Sejak menjabat sebagai wali kota di Solo, ia sudah mempraktikkan diplomasi lewat makan bersama.

Kebiasaan ini kemudian ia adopsi saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, hingga kini jadi orang nomor satu di negeri ini. Menurut Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya, gaya lobi makan bersama adalah teknik diplomasi tingkat tinggi. "Ini membuat Jokowi terkesan lebih humanis, beda dengan pemimpin lain," ujarnya.

Lewat diplomasi makan bersama, ujar Yunarto, perasaan berjarak yang biasanya dimiliki pemimpin langsung cair dengan sendirinya. Yunarto menambahkan, diplomasi makan bersama sebenarnya sudah ada sejak zaman kerajaan kuni di Indonesia, juga dunia. Ia benar, sejarah mencatatnya.

Sebagai contoh, secang dan beer Jawa adalah minuman diplomasi para raja Jawa kala kedatangan tamu asing. Jika tetamu menenggak anggur atau bir, maka para raja Jawa bersulang dengan secang yang berwarna merah sebagai pengganti anggur merah. Ada pula beer Jawa-secang dengan jeruk nipis-yang menggantikan anggur putih atau bir.

Keduanya adalah minuman kesukaan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Demikian tertulis dalam buku Warisan Kuliner Keraton Yogyakarta tulisan BRAy Nuraida Joyokusumo, menantu Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Makanan seperti musik adalah media yang universal. Efektif untuk membina hubungan di berbagai kalangan, dari rakyat jelata sampai antarpejabat dan tokoh bangsa.

Makanan merupakan salah satu sarana yang dapat memperkuat hubungan antarnegara. Karena dalam jamuan makan kenegaraan, biasanya terjadi negosiasi dengan cara halus. Begitu diungkap Profesor Joseph S Nye dari Institut for Cultural Diplomacy, Berlin.

Banyak negara mempraktikkan hal serupa, dari Amerika Serikat sampai Jepang dan negara-negara di Eropa. Dalam perkembangannya, muncul istilah baru. Istilah ini membedakan pelaku dan sasaran gelaran makan bersama. Diplomasi kuliner (culinary diplomacy) lebih bersifat antarpemerintah (government to government), sementara gastrodiplomacy bersifat dari pemerintah untuk publik.

Ahli gastronomi Paul Rockower lah yang memperkenalkan istilah baru tersebut. Gastrodiplomacy, punya sasaran dan tujuan lebih luas yakni memperkenalkan kuliner suatu negara pada negara lain. Bicara gastrodiplomacy, Andre Notohamijoyo, dari Badan Ekonomi Kreatif menulis opininya di Kontan.co.id.

"Kesinambungan kerja sama banyak pihak perlu dilakukan untuk meraih kesuksesan gastrodiplomacy. Tanpa kesinambungan itu, kuliner Indonesia hanya seperti rendang yang dinobatkan sebagai makanan terlezat di dunia versi poling CNN tahun 2011 namun tanpa arti di pasar global." (beritaagar.id/ r)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
2 Heli BNPB Dikerahkan Padamkan 69 Hektare Lahan Terbakar di Aceh
Menhan Ingatkan Purnawirawan Pegang Teguh Sumpah Prajurit
Polisi Canangkan Bulan Tertib Trotoar pada Agustus 2017
Dirjen Bina Marga: Tol Darurat Berdebu, Kami Perbaiki di 2018
Tolak Reklamasi, Aliansi Nelayan Gelar Demo di Gedung DPRD DKI
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU