Home  / 
Tim Pegasus Polrestabes Medan Bekuk Seorang IRT Diduga Pembunuh Berencana Terhadap Suami
Kamis, 20 September 2018 | 14:16:15
SIB/Roy Surya Damanik
INTEROGASI TERSANGKA PEMBUNUH: Kapolrestabes Pol Dr Dadang Hartanto SH SIK MSi didampingi Kasat Reskrim AKBP Putu Yudha Prawira, Kanit Pidum AKP Rafles Marpaung dan Panit VC Iptu H Manullang, menginterogasi tersangka IRT bersinisial CKD yang merencanakan pembunuhan terhadap suaminya sendiri, M Yusuf, di Mapolrestabes, Rabu (19/9).
Medan (SIB)- Seorang ibu rumah tangga (IRT) berinisial CKD (25) warga Dusun XI Ulu Brayun Desa Ara Condong, Kecamatan Stabat, Langkat dibekuk Tim Penanganan Gangguan Khusus (Pegasus) Unit Pidum Sat Reskrim Polrestabes Medan karena diduga melakukan pembunuhan berencana terhadap suaminya, M Yusuf (33) yang berprofesi sebagai guru SD dan juga Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dr Dadang Hartanto SH SIK MSi didampingi Kasat Reskrim AKBP Putu Yudha Prawira, Kanit Pidum AKP Rafles Marpaung dan Panit VC Iptu H Manullang dalam keterangan persnya di Mapolrestabes, Rabu (19/9) menerangkan, sebelum terungkapnya kasus pembunuhan terhadap M Yusuf, Jumat (14/9) pagi, warga dihebohkan dengan penemuan sosok mayat laki-laki korban pembunuhan di perladangan buah asam Jalan Jamin Ginting Dusun I Desa Sibolangit, Kecamatan Sibolangit, Deliserdang.

"Atas informasi tersebut, Tim Pegasus dan Inafis Polrestabes Medan datang ke lokasi guna melakukan cek TKP serta identifikasi terhadap mayat korban yang terdapat luka memar di leher dan luka lebam di mata sebelah kanan. Setelah itu mayat korban dievakuasi ke RS Bhayangkara Medan guna dilakukan otopsi. Petugaspun langsung melakukan penyelidikan dan berhasil mengungkap identitas korban," ujar Kapolrestabes.

Pada Sabtu (15/9) sekira pukul 16.00 WIB, sambungnya, Tim Pegasus menerima informasi istri korban, CKD dan seorang pria berinisial GW alias Gandrung (DPO) warga Jalan Bersama Lingkungan V, Kecamatan  Stabat, Langkat mengambil sepedamotor M Yusuf yang terparkir di Binjai Super Mall, Rabu (12/9). Petugas selanjutnya menuju ke lokasi dan memutar rekaman CCTV. Di rekaman terlihat jelas jika tersangka dan GW alias Gandrung mengambil sepedamotor korban.

"Tim Pegasus kemudian mendatangi rumah korban dan bertemu dengan tersangka. Saat diinterogasi sembari menunjukkan rekaman CCTV itu, tersangka mengaku pada Rabu lalu CKD sedang bersama korban dan GW alias Gandrung menumpangi mobil rental dari Medan menuju Aceh untuk menghadiri pesta keluarga tersangka. Dengan adanya keterangan CKD, Tim Pegasus melakukan pengembangan untuk mencari keberadaan GW alias Gandrung," terangnya.
Dadang menambahkan, petugas juga menemukan sejumlah barang bukti di antaranya sepedamotor Honda Supra warna hitam BK 6808 AQ, helm dan 2 HP milik korban. Selanjutnya pada Minggu (16/9) sore, tersangka berikut barang bukti diboyong ke Mapolrestabes Medan guna dilakukan pemeriksaan intensif.

"Dari pengakuan tersangka, ia dan GW alias Gandrung membunuh korban dengan cara leher di cekik dan wajah dipukuli saat berada di kawasan Bahorok tepatnya Pantai Katak, dimana sebelumnya tersangka berpura-pura mobil rental mogok dan kemudian menghabisi nyawa korban. Selanjutnya tersangka membuang mayat korban ke Jalan Jamin Ginting Dusun I Desa Sibolangit, Kecamatan Sibolangit, Deliserdang," ungkapnya.

Disebutkan Kapolrestabes, motif tersangka tega menghabisi korban lantaran sakit hati, sebab gaji almarhum tidak pernah diberikan. Dari pengakuan tersangka, korban juga mengancam hendak menceraikan CKD. Tersangka selanjutnya menceritakan hal itu kepada GW alias Gandrung yang merupakan mantan kekasihnya.

"Pada 4 September lalu pembunuhan terhadap korban sudah direncanakan di rumah GW alias Gandrung. Atas perbuatannya, tersangka dipersangkakan Pasal 340 Subsidi 338 KUHPidana dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup," tegasnya mengakhiri sembari menambahkan seorang tersangka lagi saat ini dalam pengejaran petugas.

Sementara itu, CKD yang diwawancarai mengaku sakit hati dengan korban, sebab selama 1 tahun berumah tangga korban tidak pernah memberikan gajinya dengan utuh.

"Setiap bulan saya hanya diberi uang belanja Rp 200 ribu. Ketika saya minta tambah, korban selalu mengancam akan menceraikan saya. Kalau korban pulang ke rumah selalu bawa 1 bungkus nasi untuk dimakannya sendiri. Makanya saya sakit hati," akunya. (A16/h)



Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Suami Palsukan Kematian, Istri dan Anak Bunuh Diri
Demi Sembuhkan Anak, Orangtua Beli Pulau Rp 2,2 Miliar
Lumpuh Setelah Jatuh dari Ranjang Saat Bercinta
Demi Balas Budi, Seorang Pria Bangun Vila Rp7 Miliar Buat Anjingnya
Studi: Ratusan Suplemen Diet Mengandung Obat Ilegal
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU