Home  / 
Marga Simargolang Bentuk Perkumpulan di Tanjungbalai
Kerajaan Margolang Dulunya Memiliki Wilayah Kekuasaan di Asahan-Labuhanbatu
Senin, 1 Oktober 2018 | 21:41:02
SIB/Regen Silaban
FOTO BERSAMA : Persadaan Keluarga Besar Raja Simargolang Tanjungbalai-Asahan foto bersama dalam acara silaturahmi akbar sekaligus pembentukan kembali perkumpulan marga Simargolang, Minggu (16/9) di halaman Pesantren Al Washliyah Tanjungbalai.
Tanjungbalai (SIB)  -Persadaan (perkumpulan-red)  Marga Simargolang kembali membentuk perkumpulan sekaligus pengukuhan  kepengurusan setelah beberapa tahun vakum di Kota Tanjungbalai. Pembentukan itu dilaksanaan dalam acara silaturahmi akbar Keluarga Besar Raja Simargolang Tanjungbalai-Asahan, Minggu (16/9) di halaman Pesantren Al Washliyah Tanjungbalai.

"Saya terkenang dan sedih, beberapa tahun yang lalu kita pernah membentuk perkumpulan marga Simargolang ini. Tetapi kenapa bisa hilang begitu saja sejarah Simargolang ini. Oleh karena itu mari kita sama-sama kembali bergandengan tangan membesarkan perkumpulan marga Simargolang ini, " ujar Ketua Panitia Silaturahmi, Meri Simargolang dalam sambutannya.

Semetara itu, Al-Ustazd Buya Gustami dalam sambutannya mengatakan, salah satu marga tertua dan terkenal dan berpengaruh di Asahan ialah marga Simargolang yang berasal dari Raja Simargolang salah seorang putra dari Ompu Sahang Mataniari. Diceritakannya, kerajaan Margolang dahulu kala berpusat di Pulau Raja dengan wilayah kekuasaan Asahan-Labuhanbatu. Raja terakhir adalah Raja Marlau, pada saat itu Indonesia telah dijajah Belanda. 

"Kepada Raja Marlau, Belanda menawarkan untuk membangun perkebunan kelapa sawit dan pabrik di tanah kekuasaannya. Namun tawaran itu ditolak Raja Marlau dengan alasan, jika tanah dijadikan kebun kelapa sawit oleh Belanda maka rakyatnya nanti akan menjadi budak Belanda, hal ini tidak dikehendaki oleh raja, "tutur Buya Gustami.

Pada saat itu sambungnya, lalulintas komunikasi ke luar kerajaan dilakukan melalui pelabuhan di Tanjungbalai. Sebagai petugas penghubung kerajaan, ditetapkanlah seseorang yang dapat dipercaya sekaligus untuk mengurus administrasi kerajaan. Pada suatu ketika petugas penghubung itu menghadap raja dan memberitahukan bahwa saat itu banyak kesibukan yang memerlukan legalisasi kerajaan, sementara jarak antara Pulau Raja dan Tanjungbalai cukup jauh.

Untuk memudahkan tugasnya, penghubung kerajaan itu meminta agar raja memberikan kepercayaan kepadanya untuk membawa cap atau stempel kerajaan, dengan alasan agar tidak perlu pulang pergi hanya menyangkut administrasi. Dengan alasan itu maka raja memberikan cap tersebut dan ternyata kepercayaan itu dimanfaatkan Belanda untuk melegalisasi izin membangun kebun sawit dengan menggunakan cap kerajaan dan melakukan perjanjian atas nama raja untuk membangun kebun kelapa sawit di Pulau Raja Asahan. 

"Untuk itu, mari kita kembali menyampaikan kepada anak cucu keturunan Raja Simargolang bahwa Raja Simargolang tidak pernah berkhianat kepada negara ini dan tidak pernah mau berkompromi dengan Belanda," pesannya. 

Hal senada dikatakan Safril Margolang selaku Penasehat Perkumpulan Marga Simargolang tersebut. "Dengan dibentuknya kembali perkumpulan marga Simargolang ini diharapkan anak cucu kita nanti  bisa mengetahui dan mengenal sejarah lahirnya Simargolang, "ujar Safril.

Usai pembentukan, kegiatan itu juga diisi acara silaturahmi dan saling bertukar cerita tentang sejarah marga Simargolang. Kemudian berakhir dengan makan bersama serta foto bersama seluruh marga Simargolang yang hadir dalam kegiatan itu. (E09/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bamsoet Pastikan Kasus Penembakan di DPR Bukan Teror, Tapi Peluru Nyasar
Panitia Nasional Tinjau Venue Perayaan Natal 2018 di Medan
Korupsi Alat Kontrasepsi Rp 72 M, Pejabat BKKBN Dibui 2 Tahun
Gubsu Serahkan Tali Asih Rp 2,5 M kepada 10 Atlet Berprestasi di Asian Para Games 2018
Jokowi Beri Beasiswa kepada 5.144 Mahasiswa Korban Gempa Lombok
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU