Home  / 
Into The Light, Komunitas Peduli Pencegahan Bunuh Diri
Senin, 15 Januari 2018 | 22:47:29
Jakarta (SIB)- Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebut ada 100 ribu penduduk Indonesia bunuh diri setiap tahunnya. Itu berarti setiap satu jam, satu nyawa manusia di Indonesia melayang sia-sia.

Melansir laman dokterindonesiaonline, bunuh diri seringkali dilakukan akibat putus asa. Salah satu penyebabnya adalah stres dan depresi. Tekanan hidup berakibat gelap mata hingga akhirnya tak lagi melihat indahnya dunia dengan memilih mengakhiri hidup dengan berbagai cara.

Kondisi itu, membuat Benny Prawira bersama teman-temannya tergugah untuk membuat sebuah gerakan peduli kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri di Indonesia bernama Into The Light.

Komunitas Into The Light yang didirikan sejak 2013, berupaya untuk memberikan edukasi dan memberikan pendampingan bagi orang-orang yang putus asa.

"Di sekitar saya ada orang-orang yang pernah bunuh diri atau mencoba bunuh diri. Kami sebagai komunitas memang memiliki concern di isu pencegahan bunuh diri secara spesifik. Karena kami sadar ini belum dilihat secara masif," ungkap Benny seperti diwartakan.

Lewat media sosial, seminar, keliling sekolah dan kampus-kampus Benny dan komunitasnya berkampanye untuk peduli kesehatan jiwa. Mereka juga mendampingi secara gratis orang orang yang terjerat depresi hingga berupaya bunuh diri.

"Kami selama ini patungan kalau memang benar-benar tidak bisa cari tempat gratis. Fasilitator kami menggunakan orang dalam sendiri," ungkap Benny.
Menyoal pria yang gantung diri dengan menyiarkan secara langsung aksi bunuh dirinya lewat fecbook, komunitas Into the Light mengimbau untuk tidak menyebarkan video tersebut dikarenakan takut dapat memicu pemikiran serupa kepada orang yang memiliki kondisi kejiwaan serupa.

Menurut Komunitas Into the Light, hal itu disebut sebagai werther effect yang dapat berpotensi bunuh diri imitasi.

"Mohon juga untuk tidak berkomentar negatif dan membuat asumsi yang merendahkan apalagi menghakimi orang yang bunuh diri. Hinaan, hujatan, penghakiman dan komentar negatif lainnya ini tidak hanya berhenti kepada orang yang meninggal karena bunuh diri, tapi dapat dibaca oleh orang lain yang mungkin memiliki kondisi kejiwaan serupa. Orang dengan kecenderungan bunuh diri yang membaca komentar menghakimi/negatif tentang bunuh diri dapat membuat mereka semakin enggan mencari bantuan, padahal kondisi mereka sangat dapat dibantu dengan perawatan yang tepat. Mari kita lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial untuk menjaga kehidupan bersama," tulis komunitas Into the Light Indonesia di facebook. (Bintang.com/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Dua Bulan Berjuang, Bocah Penderita Gizi Buruk di Tanjungbalai Meninggal
Ketua Ardindo Suyono RW: Masyarakat Asahan Harus Bijak Menggunakan Medsos
Santuni Anak Yatim Warnai Reses Jainal Samosir di Simandulang
PLN Bantu Pembangunan Jalan Menuju Lokasi Wisata Air Terjun Simonang-monang
Akibat Dahsyatnya Erupsi Sinabung, Tanaman Rusak Petani Menjerit
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU