Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Umat Budha Tionghoa Ikuti Ritual Penyelamatan Arwah di TDS Angsapura Tanjungmorawa
Senin, 18 September 2017 | 20:57:16
SIB/Relieve Pasaribu
RITUAL ULAMBANA: Sejumlah tokoh Tionghoa dan pengurus Yayasan Sosial Angsapura Medan dan Pengurus TDS Angsapura Tanjungmorawa, antusias mengikuti Ritual Sembahyang Ulambana yang dipusatkan di Vihara Taman Damai Sejahtera Tanjung Morawa, Minggu (17/9).
Medan (SIB) -Untuk kali pertama sejak diresmikan pada (20/9/2016) tahun lalu, Vihara Taman Damai Sejahtera (TDS) Angsapura Tanjungmorawa, Minggu (17/9/2017) melaksanakan ritual sembahyang ulambana atau penyelematan arwah dan pembacaan surat pertobatan yang dimulai pukul 08.30-16.30 WIB. Ritual Ulambana itu dilaksanakan bertepatan bulan ke-7 hari ke-15 penanggalan Imlek.

Pelaksanaan ritual ulambana tersebut diikuti sejumlah jajaran pengurus Angsapura, di antaranya Ketua Umum Angsapura Medan Tony Harsono, Wakil Ketua Pembina Hakim Tanjung, Ketua Bidang Sosial Effendi Simin SE, Ketua Membidangi TDS Angsapura Tanjungmorawa Tirta Salim serta puluhan keluarga masyarakat Tionghoa yang abu jenazahnya leluhurnya disimpan di Crematorium TDS Angsapura Tanjung Morawa serta umat Budha di seputar vihara lainnya.

Ritual Ulambana yang dipimpin dua orang Biksu tersebut, ditandai pembacaan doa suci untuk mengundang arwah orangtua/leluhur. Sementara masakan serta buah-buahan disediakan sebagai sesaji untuk para arwah dengan nama para leluhur atau arwah yang didoakan.

Menurut Ketum Yayasan Sosial Angsapura Tony Harsono, sembahyang Ulambana merupakan sembahyang untuk melimpahkan jasa atau kebaikan pada para leluhur yang telah meninggal dunia. "Kegiatan pelimpahan jasa kepada makhluk hidup di tiga alam sengsara dengan harapan mendapat berkah kebajikan, kebahagiaan, terbebas dari penderitaan dan terlahir di alam yang lebih berbahagia," kata Tony Harsono dalam siaran pers yang diterima di Medan, Minggu (17/9).

Ritual sembahyang Ulambana ini, katanya, berawal dari sebuah kisah yang terjadi pada zaman Sang Buddha. Saat itu Buddha memiliki seorang murid bernama Mogalana. Dengan kesucian, kesaktian, dan kekuatannya, Mogalana mencoba menolong ibunya yang berada pada alam penderitaan atau alam Niraya. Melihat hal itu, ia kemudian ingin memersembahkan makanan pada ibunya, akan tetapi tidak pernah berhasil, bahkan makanan tersebut berubah menjadi bara api.

"Demi menolong sang ibu, dia menyampaikan keinginan itu pada sang Buddha. Setelah mendengarkan keinginan itu, Buddha menyarankan kepada Mogalana untuk mengundang para bhikku untuk berdoa bersama-sama dan memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada mereka. Selanjutnya kebajikan itu dilimpahkannya kepada sang ibu. Akhirnya berkat kebajikan yang dilakukan Mogalana, sang ibu bisa terbebas dalam alam penderitaannya," Tony.

Tak berbeda dengan sembahyang yang digelar umat Buddha umumnya, sembahyang ulambana juga dilengkapi berbagai persembahan, di antaranya buah-buahan, makanan, minuman, bunga, begitupun beberapa perlengkapan sembahyang lain seperti kertas sembahyang dan hio (garu). Semua barang-barang yang dipersembahkan dalam ritual sembahyang memiliki makna atau simbol tersendiri.

"Berdasarkan tradisi dalam memberi persembahan harus disediakan buah-buahan yang bagus. Yang berarti, buah-buahan yang bagus pasti berasal dari pohon yang bagus pula atau terawat dengan baik. Ini memberikan simbol tentang kebijakan bahwa sesuatu yang baik juga akan menghasilkan yang baik pula.

Begitu pun bunga yang dipersembahkan pada ritual itu. Patut diingat, walaupun bunga telah layu, namun bunga tetap akan menyebarkan wangi yang semerbak.. Sama halnya dengan air, juga memberikan arti tentang kebijakan. Air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Ini mempunyai arti dalam hidup kita harus rendah diri," ujar Tony Harsono. (R15/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Jelang Tengah Malam, Mahasiswa Masih Bertahan di Depan Istana
Bertemu 4 GM PLN Sumut, Gubsu Optimis Tol Listrik Sumbagut-Sumsel Selesai Akhir 2017
Kini Ganti Paspor Cukup Bawa e-KTP dan Paspor Lama
Kasus e-KTP, Andi Narogong Disebut Gonta-ganti Mobil hingga 23 Kali
RI Promosi Investasi Danau Toba Senilai Rp 21 Miliar di Inggris
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU