Home  / 
Virus Rubella Menjadi Momok Mengerikan
Minggu, 29 Juli 2018 | 13:03:49
Medan (SIB) -Ancaman terhadap penyakit rubella tak banyak orangtua yang tahu, entah kapan munculnya dan dari mana datangnya. Yang pasti, virus ini menjadi momok mengerikan. Menyerang mulai dari janin tanpa diketahui yang menyebabkan bayi lahir dengan sejumlah kecacatan akibat kerusakan organ-organ tubuhnya.

Kementerian Kesehatan RI hingga 2020 berkomitmen untuk mengeliminasi campak dan melakukan pengendalian penyakit rubella/kecacatan yang disebabkan oleh infeksi rubella saat kehamilan (Cogenital Rubella Syndrome).

Setidaknya keperihan mendalam tampak tergambar di wajah Kusuma Ramadan, orangtua Iftiyah, bayi berusia 2 tahun yang sejumlah organ tubuhnya dirusak virus mematikan ini. Anaknya kini mengalami keterlambatan pertumbuhan, kerusakan pendengaran, mata dan kesulitan berdiri.

"Rubella itu monster. Kenapa saya bilang begitu, karena virus ini menyerang seorang bayi yang tidak tahu apa-apa dan tanpa diketahui sejak janin," kata Kusuma saat dihadirkan dalam pertemuan Sosialisasi dan Edukasi Dalam Rangka Sinergitas Dengan Media yang diinisiasi Unicef bersama Dinkes Sumut di salah satu kafe Jalan Wahid Hasyim Medan, Jumat (27/7).

Awalnya, dia mengaku tidak mengetahui apa yang terjadi terhadap putri keduanya itu. Saat lahir ke dunia, kondisi si anak sangat kecil, lemah dan berwarna kuning. Tak banyak yang mengetahui, bahkan dokter yang membantu persalinan anaknya. "Begitu lahir, dokter melihat mata Iftiyah seperti katarak. Kemudian anak saya dirujuk ke dokter spesialis mata, karena janggal rasanya seorang bayi baru lahir mengalami katarak," sebutnya.

Sedih, hancur entah bagaimana dia menggambarkan perasaan hatinya kala itu. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, dokter memvonis kerusakan penglihatan, pendengaran anak tercintanya itu karena serangan virus rubella. "Siapa yang tidak sedih, ternyata anak yang saya gendong, adzankan (qomad) tidak mendengar suara saya. Hancur perasaan ini. Air mata tidak habis-habisnya menetes. Tapi ya mau bagaimana lagi, inilah titipan Allah yang harus kami terima, dia itu anak yang istimewa. Dan kecacatan itu semua tidak bisa diperbaiki," ungkapnya.

Informasi soal virus rubella saat itu sangat minim. Bahkan di dunia medis, tak banyak yang tahu menurutnya. Hanya segelintir dokter spesialis menurutnya mengerti akan keberadaan penyakit ini. Pasca kejadian itu bermunculan kabar terhadap anak-anak dengan kasus serupa bertanya terhadap dirinya. Masalahnya sama, tidak memiliki informasi terkait penyakit ini sama sekali.

Di usia dua tahun ini, katanya Iftiyah hanya mampu berguling-guling. Tumbuh kembangnya tidak seperti anak kebanyakan. Beberapa indranya telah rusak. Terapi-terapi yang terus dilakukan Iftiyah tidak berefek begitu besar membantu pertumbuhannya.

Terkait rencana pemerintah melakukan imunisasi Measles dan Rubella (MR), baginya pilihan terbaik agar perkembangan virus ini bisa dikendalikan. "Jadi kalau ada orangtua yang tidak mau dengan segala macam alasan agama, haram imunisasi dan sejumlah asumsi karena propaganda negatifnya, ya mungkin dia belum merasakan bagaimana anaknya terkena virus Rubella," pungkasnya.

Sementara itu, terkait program Imunisasi MR Fase I sebelumnya dilakukan di Pulau Jawa yang mencakup 35 juta anak pada tahun lalu. Di tahun 2018 ini, Unicef akan melakukan imunisasi MR Fase II di luar Pulau Jawa, yakni Pulau Sumatera termasuk Sumut.

Rizky Ika Syafitri sebagai Communication for Development Specialiat Unicef mengatakan di Sumut ada empat juta anak yang akan diberikan imunisasi secara gratis. "Dan kita mentargetkan 95 persen anak dapat imunisasi MR," katanya.

Dia membeberkan penyakit campak (measles) menyebabkan Radang Paru (Pneumonia), Radang Otak (Ensefalitis), kebutaan, diare dan gizi buruk. Sementara rubella bisa menyebabkan kelainan jantung, kelainan mata, tuli, keterlambatan perkembangan dan kerusakan jaringan otak.

Sasarannya adalah anak usia sembilan bulan dan di bawah 15 tahun. Imunisasi ini diberikan tanpa melihat status imunisasi maupun riwayat penyakit campak dan rubella sebelumnya. "Untuk itu kita butuh dukungan pemerintah. Di Pulau Jawa, imunisasi MR Fase I berhasil dan melampau target. Harapan kita, media massa bisa mendukung imunisasi ini sukses di Sumut," ungkapnya.

Penyakit campak dan rubella merupakan penyakit infeksi menular melalui udara. Gejala anak yang terkena campak adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit disertai dengan batuk, pilek dan mata merah. Sementara itu, gejala penyakit rubella tidak spesifik, bahkan bisa tanpa gejala. "Tidak ada pengobatan untuk penyakit campak dan rubella. Namun, penyakit ini dapat dicegah. imunisasi MR adalah salah satu pencegah terbaik saat ini," katanya.

Dalam pertemuan itu dia membahas soal pro kontra imunisasi MR. Menurutnya, salah satu tantangan akan imunisasi ini adalah terkait halal haramnya anak mendapat imunisasi. Dia menekankan, sudah ada Fatwa MUI soal hal ini. "Fatwa MUI No 14 tahun 2016 membolehkan imunisasi," sebutnya.

Rencananya pada Agustus ini imunisasi MR Fase II akan berlangsung di sekolah-sekolah. Sementara itu, pada September akan dilakukan di pusat pelayanan kesehatan pemerintah diantaranya Puskesmas. (A17/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
102 Ribu Napi Dapat Remisi 17 Agustus, 2.220 Orang Langsung Bebas
Mantan Sekjen PBB Kofi Annan Meninggal Dunia di Usia 80 Tahun
Bertengkar dengan Suami, Ibu di Bolivia Gantung 3 Anaknya
Malaysia Cabut Undang-undang Anti-hoax yang Kontroversial
5 Tahun Beraksi, Anggota Jaringan Selundupkan 500 Ekor Cenderawasih
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU