Home  / 
Banyak Duduk Tingkatkan Risiko 9 Jenis Kanker
Minggu, 25 Februari 2018 | 12:12:41
Jakarta (SIB) -Sekali lagi seorang peneliti membuktikan bahwa selain pola makan, kebiasaan duduk dikaitkan dengan munculnya risiko kanker. Bahkan yang terbaru menyebut, duduk selama berjam-jam bisa memicu 9 jenis kanker.

Adalah Charles E Matthews, ahli epidemiologi dari National Cancer Institute yang mengatakan bahwa satu jam duduk diam tak hanya dapat meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker usus, tetapi juga 9 jenis kanker lain, termasuk kanker paru-paru serta kanker di kepala dan leher.

Itu artinya, lanjut Charles, yang dibutuhkan tidak hanya menambah aktivitas fisik, tetapi juga mengurangi lama duduk.

Ini karena dari studi yang dilakukan Charles, mereka yang rutin berolahraga di malam hari dan akhir pekan masih harus mengurangi lama duduk mereka sehari-hari jika ingin terhindar dari gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kebiasaan tersebut. Demikian dikutip dari Dailymail.

Kendati demikian, Charles mengatakan aktivitas fisik yang dipilih sebenarnya tak perlu yang berat-berat. Aktivitas fisik ringan seperti jalan-jalan atau mengerjakan pekerjaan rumah dianggap cukup oleh Charles.

"Apapun kegiatannya asal bukan duduk adalah bagus," tegasnya saat berbicara di konferensi American Association for the Advancement of Science di Texas baru-baru ini.

Namun memang lebih baik untuk melakukan aktivitas fisik berintensitas sedang atau tinggi selama satu jam dan yang pasti mengurangi duduk ditambah dengan aktivitas fisik ringan tadi untuk mendapatkan manfaat optimal.

MAKANAN OLAHAN
Sementara pemicu kanker lainnya yang paling kuat adalah makanan, utamanya makanan olahan. Dalam laporan penelitian yang dipublikasikan BMJ, peneliti menyebut makanan olahan yang dimaksud adalah ultra-processed food.

Menurut definisi Dr Carlos Monteiro dari University of Sao Paulo, Brazil, ultra-processed food adalah produk makanan yang menggunakan bahan-bahan yang sudah diolah terlebih dahulu seperti permen dan kripik.

Sebagian besar dari ultra-processed food menggunakan bahan tambahan seperti pemanis, pengawet, pewarna dan perasa makanan. Meski sudah melalui proses tertentu untuk memastikan keamanannya saat dikonsumsi, konsekuensi jangka panjang dari mengonsumsi makanan seperti ini masih diperdebatkan.

Sayangnya ultra-processed food ini begitu populer karena praktis dimakan, mudah ditemukan di mana saja dan murah. Di samping itu kandungan energi atau kalorinya tinggi.

Penelitian kemudian dilakukan terhadap 105.000 orang dewasa yang diamati pola makannya selama 24 jam. Hasil akhirnya ditemukan bahwa peningkatan 10 persen dari proporsi ultra-processed food pada makanan dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, seperti kanker payudara, hingga 10 persen.

"Saus dan lemak yang diolah berulang kali, produk berpemanis seperti minuman dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai kanker, termasuk kanker payudara," ungkap peneliti seperti dilaporkan CNN.

Di samping itu, orang yang cenderung mengonsumsi lebih banyak ultra-processed food juga cenderung lebih sering merokok dan kurang berolahraga dibandingkan yang jarang makan makanan seperti itu. Namun ketika peneliti mengesampingkan kedua faktor tersebut, risiko kanker dari makanannya saja tetap mengkhawatirkan.

"Pesan yang ingin disampaikan studi ini adalah untuk melihat pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan, bukan hanya pada makanan tertentu," ungkap Marji McCullough dari American Cancer Society.

Salah satu peneliti, Mathilde Touvier juga mengungkapkan bahwa studinya hanya bersifat observasional, sedangkan timnya tidak benar-benar tahu apa penyebab meningkatnya risiko kanker di masyarakat.

McCullough mengingatkan jika ultra-processed food tercatat sebagai salah satu bagian dari pola makan dunia, yaitu mencapai 50-60 persen. Sebuah studi menyebut 60 persen kalori yang diasup rerata orang Amerika berasal dari makanan seperti ini. Begitu juga dengan 50 persen kalori dari pola makan orang Inggris dan sekitarnya.

McCullough menambahkan, ada kemungkinan orang yang makan terlalu banyak ultra-processed food cenderung mengurangi asupan makanan sehatnya, padahal ini bisa jadi membantu mencegah kanker tumbuh dalam tubuhnya.

Untuk itu pola makan terbaik adalah yang bervariasi, semisal gandum utuh, buah-buahan dan sayuran. "Makan makanan yang riil dan cobalah batasi ultra-processed food," pesan Touvier. (detikHealth/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Dirjen Pajak Gelar Diskusi dan Dialog dengan Pelaku UMKM di Kawasan Danau Toba
Bawas Mahkamah Agung RI Kunker ke PN Simalungun
Rekruitmen Calon Direksi PD PHJ dan PD PAUS P Siantar Sesuai Permendagri
21.266 Anak PAUD/SAB/SD Negeri di P Siantar Dapat Makanan Tambahan dan Vitamin
21.266 Anak PAUD/SAB/SD Negeri di P Siantar Dapat Makanan Tambahan dan Vitamin
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU