Hotel Tapian Nauli
Home  / 
Balita Bermain Gadget Berisiko Speech Delay
Minggu, 19 November 2017 | 14:45:07
Medan (SIB) -Era canggih sekarang ini gawai (gadget) atau perangkat elektronik canggih seperti ponsel, tablet, laptop dan lainnya sangat banyak digunakan anak-anak. Dampak gadget berisiko menyebabkan anak lambat bicara (speech delay). Hal itu dikarenakan, saat bermain gadget, anak hanya fokus pada monitor, tidak ada interaksi, tidak ada pertanyaan dan tidak ada diskusi dua arah.

"Oleh karena itu, pada usia balita jangan biarkan anak asyik sendiri dengan gawai," kata dokter spesialis anak, dr Rita Evalina Rusli MKed (Ped) SpA (K) kepada wartawan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik, Rabu (15/11). Idealnya, anak usia dua tahun sudah bisa berbicara dan setidaknya mempunyai 100 kosakata.

"Bicara adalah proses belajar seperti berinteraksi dan berkomunikasi dua arah. Banyak orangtua yang memberikan anak mereka gadget sejak dini. Padahal, untuk anak usia di bawah dua tahun, gawai tak ada gunanya," katanya.

Ia mengatakan, proses perkembangan bagian otak yang berperan pada fungsi bicara adalah sampai usia 36 bulan dan tercepat di usia 18-24 bulan. Bila penyebab keterlambatan bicara itu karena kondisi keterlambatan kematangan otak, intervensi bisa ditunggu sampai usia 18 bulan. Tetapi bila ada gangguan lain, tidak bisa ditunggu dan harus segera ditangani.

"Pada usia Balita, jangan biarkan anak asyik sendiri dengan gawai. Gunakanlah seperti layaknya buku. Orangtua mendampingi anak bermain gadget sambil bercerita atau menjelaskan mengenai gambar yang ada di layar. Berinteraksilah bersama anak," terangnya.

Untuk mencegah pengaruh gadget yang negatif, ia mengimbau agar orangtua menentukan durasi pemakaian gadget yang konsisten. Pastikan penggunaan gadget tidak mengganggu waktu tidur, waktu bermain atau beraktivitas fisik dan kegiatan lainnya yang penting untuk kesehatan.

Bila ingin mengenalkan media digital pada anak usia 18-24 bulan, sambungnya, sebaiknya dilakukan dengan menonton tayangan edukatif. Pada anak usia dua hingga lima tahun, orangtua dapat membiarkan anak untuk menggunakan gadget maksimal satu jam per hari.

"Untuk anak usia enam tahun ke atas, kita tidak perlu selalu berada di sisi anak ketika menggunakan gadget. Namun, harus sadar bahwa ada banyak media pembelajaran lainnya di luar sana. Misalnya pergi ke kebun binatang atau tempat rekreasi lainnya yang bisa membuat anak lebih aktif bergerak dan berinteraksi dibandingkan menggunakan gadget," pesannya.

Ia menyebutkan, bicara melibatkan beberapa faktor, seperti pendengaran, penglihatan dan perabaan baik serta alat ucap yang baik yaitu bibir, lidah, langit-langit dan susunan saraf pusat yang baik. Perkembangan bicara anak terbagi dalam beberapa tahapan. Pada usia 1-6 bulan anak bisa merespon dengan suara namun tidak bermakna. Lalu, usia 6-9 bulan sudah mulai mengoceh (bubbling). Usia 10-12 bulan sudah bisa mengucapkan dua hingga tiga kata seperti mama, papa atau tata. Pada 13-15 bulan, semakin meningkat empat hingga tujuh kata dan kurang dari 20 persen dimengerti oleh orang yang mendengarkannya.

Kemudian, pada usia 16-18 bulan sudah bisa mengucapkan 10 kata dan dalam bentuk kalimat. Sebanyak 20 hingga 50 persen dapat dimengerti oleh orang yang mendengarkan. Usia 19-21 bulan bisa berbicara 20 kata dan 50 persen dapat dimengerti. Lalu, usia 22-24 bulan sudah lebih banyak mencapai 50 hingga 100 kata dan 60-70 persen dapat dimengerti.

"Keterlambatan bicara akan berisiko terjadinya kesulitan belajar, membaca, menulis dan pencapaian akademis yang kurang secara menyeluruh. Jika sudah terjadi speech delay, Untuk tatalaksana perlu kita ketahui dulu penyebab pastinya. Karena ada banyak faktor penyebab dan juga terapi yang dilakukan berbeda-beda," terangnya.

Speech delay, sambungnya, adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Ia menyebutkan, belum ada angka nasional untuk masalah ini. Namun, Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, pada 2006 sebanyak 10,13 anak mengalami keterlambatan bicara.

"Tetapi bukan sama sekali anak tidak boleh pegang gadget, karena ada juga peran edukasi yang bisa kita ambil dari gadget jika menggunakannya sesuai aturan," pungkasnya. (A17/q)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Drainase Nagori Pinang Ratus Butuh Pengerukan
Jalan Nasional Jurusan Medan-Kuta Cane Berlubang dan Rawan Kecelakaan
Dianggap Melanggar Perjanjian, Warga Perdagangan Akan Lakukan Demo Tangkahan Pasir
Ketua DPRD Hadiri Peringatan Hari Jadi Desa Sukamulia Secanggang
Pemkab Karo Sosialisasi Tata Cara Pemberian Tambahan Penghasilan PNS
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU