Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Baru 8 Persen Pasien Depresi di Indonesia yang Tertangani
Minggu, 14 Mei 2017 | 21:05:05
Surabaya (SIB) -Secara pendapatan, Indonesia boleh saja tergolong middle income countries, namun dalam penanganan depresi, Indonesia tak lebih baik dari negara lain yang tingkat pendapatannya lebih rendah.

Tetapi bukan berarti negara maju juga lebih baik. "Di negara maju, hanya 29 persen orang depresi yang bisa mendapatkan akses pada pelayanan atau bisa dideteksi di pelayanan kesehatan, nggak banyak juga ternyata," ungkap dr Eka Viora, SpKJ dalam Seminar Media bertemakan Depresi: Yuk Curhat di RS Jiwa Menur Surabaya, Selasa (9/5).

Ironisnya, di Indonesia tercatat hanya 8 persen orang dengan gangguan depresi yang bisa terlayani. Sisanya, 92 persen pasien tidak mendapatkan pelayanan yang tepat dan dibutuhkan.

Sebabnya, keluhan-keluhan psikiatri atau kejiwaan lebih banyak dalam bentuk keluhan fisik seperti hilangnya nafsu makan, sering mual, atau sakit kepala (psikosomatis) atau penyakit-penyakit fisik yang biasanya mengikuti.

"Akibatnya penanganan misal obat yang diberikan menjadi kurang tepat karena hanya menyelesaikan gejala fisiknya saja dan biasanya juga tidak tuntas karena yang tahu mekanisme penyakit kejiwaan di balik itu hanya psikiater," tambahnya.

Di sisi lain, depresi atau gangguan mental lain hanya dianggap sebagai 'efek samping' dari penyakit fisik yang dialami si pasien, sehingga kerap terabaikan. dr Eka mengaku beberapa kali menemukan kasus di mana depresi pada pasien penyakit fisik yang tidak tertangani berujung pada kematian.

Bahkan bila ditotal, dr Eka mengatakan 30 persen kasus kematian akibat bunuh diri sebenarnya dipicu oleh depresi yang bisa dicegah dan tertangani.

"Misal pada pasien MDR-TB yang bunuh diri. Depresi ini mempengaruhi kepatuhan minum obat dari si pasien, yang kemudian menjadi resistensi lalu si pasien tak kunjung sembuh dan memutuskan bunuh diri," jelasnya.

Pada saat yang bersamaan, cost atau biaya yang dikeluarkan oleh si pasien karena resistensi pada pengobatannya juga bisa memicu depresi lalu bunuh diri.

Contoh lain pada wanita yang terserang depresi pasca melahirkan. Bila depresinya tidak disadari, kemudian tidak tertangani maka dampaknya bisa meluas. "Ibu yang depresi rentan melakukan abuse pada anak," ujar dr Eka. (detikhealth/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Amal Budhi Luhur Bagi 1.800 Paket Sembako kepada Masyarakat Kurang Mampu
Pedagang Takjil Ramaikan Jalanan di Medan Sekitarnya
Mayat MrX Ditemukan di Sungai Deli
Empat Sepeda Motor Diamankan Saat Penertiban Asmara Subuh di Medan
Harga Daging Sapi di Medan Rp 120.000 Per Kg
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU