Home  / 
Senat AS Setujui UU Royalti untuk Lagu yang Diciptakan Sebelum Tahun 1972
Jumat, 21 September 2018 | 20:50:08
Washington DC (SIB) -Senat Amerika Serikat (AS) menjamin royalti untuk siaran digital lagu dari sebelum 1972 yang diajukan Music Modernization Act. Upaya itu menjadi perombakan terbesar yang pernah ada dalam memberikan kompensasi kepada musisi.

Rancangan undang-undang disetujui secara mutlak parlemen dan diajukan sejak April. Aturan hukum terbaru itu dipastikan menjadi undang-undang setelah kedua majelis menyelesaikan perbedaan.

Rencana itu muncul meski ada keberatan dari penyiar terkemuka SiriusXM yang mendorong ancaman boikot platform oleh nama besar musisi termasuk Paul McCartney dan Katy Perry.

Music Modernization Act memastikan streaming dan layanan digital lain akan membayar kompensasi untuk lagu yang ditulis dari sebelum 1972 atau lagu oldies, setelah undang-undang hak cipta diberlakukan. Hingga saat ini, musisi dari sebelum 1972 tidak berhak mendapat royalti penyiaran digital yang dimainkan. 
"Sebagai penulis, saya tahu secara langsung betapa tidak efisiennya pasar musik saat ini," kata Senator Orrin Hatch seperti disiarkan HarNas.co, Kamis (19/9). "Langkah itu akan menguntungkan semua musisi," tambah politisi dari Utah tersebut.

SiriusXM tengah mencari reformasi untuk menentang kompensasi pra-1972 itu termasuk perubahan yang akan menyingkirkan standar royalti lama. Perwakilan penyiaran itu mengatakan, reformasi menciptakan kesenjangan yang lebih besar dengan stasiun radio konvensional yang memiliki kelonggaran pembayaran royalti.

Rancangan undang-undang itu memperbarui undang-undang hak cipta lama di dunia digital saat ini. MMA fokus menyelesaikan tiga persoalan utama yaitu memastikan pencipta lagu dan penyanyi menerima royalti untuk lagu dari sebelum 1972, mengalokasikan royalti untuk produser musik, dan memperbarui aturan lisensi dan royalti layanan streaming membayar pemegang hak agar lebih efisien. "Singkatnya, pencipta lagu dan musisi akan menerima lebih banyak uang," tulis media tersebut.

Kelompok dan eksekutif hak musik mendukung pemberitaan itu. CEO The Recording Academy Neil Portnow memuji bagian itu sebagai momen bersejarah. Sementara, Presiden National Music Publishers Association David Israelite menyebutnya sebagai langkah maju yang tepat untuk keadilan.

Pada Senin, (17/9), lebih dari 150 penulis lagu dan artis termasuk John Legend menandatangani surat yang mengutuk penolakan SiriusXM. "MMA menjadi anugerah bagi pencipta di industri musik," kata Hatch.

Namun, jalur panjang dan internal untuk membuat tiga perubahan sederhana terhadap aturan hak cipta belum banyak dilakukan. Para musisi berharap undang-undang segera disahkan dan pembayaran royalti segera terealisasi. (T/R10/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Pemprovsu Tak Bisa Bantu Keberangkatan Tim ke Pesparani Katolik di Ambon
Biaya Kampanye Politik di Indonesia Sangat Mahal
Kapolda: Terduga Teroris yang Tewas di Tanjungbalai Jaringan Syaiful
Pemilih Milenial Dinilai Cenderung Cuek Pada Politik
Arab Saudi Akui Jurnalis Khashoggi Terbunuh
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU