Home  / 
Kurdistan Fashion Week, Bangkitnya Irak dari Keterpurukan
Kamis, 6 September 2018 | 20:47:20
SIB/Dok
KFW: Model berlenggok di Kurdistan Fashion Week (KFW) di Erbil, 2 - 4 September 2018.
Erbil (SIB) -Kurdistan Fashion Week (KFW) sukses digelar di Erbil, 2-4 September 2018. Debut pekan fesyen ini diadakan di Wilayah Regional Kurdi yang beribu kota di Erbil. 

Helaz, desainer sekaligus relawan KFW 2018, mengatakan, iven tersebut terbilang "mahal", baik dari segi ongkos maupun nilai, mengingat negeri itu tersandera konflik berkepanjangan sebab perang saudara yang pecah seabad silam. Perang memang telah berakhir 15 tahun lalu, tapi menyisakan gesekan yang bisa meletup kapan saja sehingga membuat suasana tidak kondusif.

Itulah alasan betapa pekan fesyen memiliki arti penting bagi semua, baik penyelenggara event, partisipan, maupun pemerintah daerah. Bahkan, gelaran ini secara khusus menandai kemajuan bangsa Kurdi. "Saya senang kami bisa menggelar pekan fesyen ini. Sebagian besar model dan desainer yang berpartisipasi adalah kalangan generasi muda. Mereka berasal dari seluruh wilayah Kurdistan dan sekitarnya," ujar perancang berusia 32 tahun itu.

KFW sejak awal dicanangkan sebagai tempat terbaik desainer, pembeli dan model berkumpul untuk menikmati beragam gaya busana tradisional dan sentuhan modernisasi di setiap rancangan. Jumlah peserta mencapai 6.000 orang, termasuk 35 desainer lokal dan beberapa desainer asing.

Dari sekitar 4.000 nama yang tercatat dalam daftar proyek ambisius-empat wilayah Kurdistan, juga Eropa dan Amerika Serikat (AS), panitia menyaring hanya 80 label yang bisa melenggang di catwalk. Para model berasal dari banyak negara.

Harman Zero dari tim seleksi mengaku sangat bangga melihat jumlah pendaftar yang mencapai ribuan. Padahal, kesempatan tampil yang diberikan tak lebih dari 40 orang. "Sebagian besar orang Kurdi. Ada pula yang dari Persia dan Turki," ujarnya seperti disiarkan HarNas.co, Rabu (5/9).

Para desainer, menurut Harman, menjahit sendiri koleksi busana mereka, dari kasual hingga formal, termasuk busana adat bangsa Kurdi. "Kami juga mengimbau mereka menggunakan bahan-bahan produksi lokal."

KFW sukses menjadi wadah kreativitas terbesar desainer muda Kurdi seperti Diva Horin asli Sulaimani. Juga alasan bagi Novin Barwari pulang kampung. Novin adalah warga Duhok yang kini menetap di AS.

KFW diadakan di Erbil, karena memiliki nilai historis. Selain sebagai kota terpadat di IRak utara pun karena merupakan bagian dari cikal bakal salah satu peradaban penting dunia, Mesopotamia. Sukses perhelatan itu pun menandai Irak bangkit dari keterpurukannya.

Saat pergelaran diadakan, seantero Kurdistan melebur bersama "pemain global" di Erbil. "Kurdistan akan terkenal dan punya pangsa pasar yang bagus di masa depan," ujar Angelina Makeich, satu dari delapan model profesional asal Ukraina.

Ia mengaku optimistis, Kurdistan akan menyandang nama besar karena keunikannya. "Mereka memiliki bukan hanya desainer dan orang-orang bertalenta, melainkan juga kemauan untuk terus belajar. Model-model lokal juga cantik, dengan aura yang khas dan tiada banding."

Keterbukaan masyarakat Kurdi zaman sekarang turut mengakomodasi perkembangan industri tersebut. "Dengan ekonomi berkembang, mereka sangat open minded, penasaran dengan hal-hal baru, dan betul-betul mendalami dunia fesyen," katanya.

Angelina tidak berlebihan. Diperlukan waktu sekitar satu tahun untuk menggelar event berdurasi hanya tiga hari tersebut. Ekshibisi menampilkan busana kasual, baju anak-anak, bahkan busana pengantin. "Kami memerlukan 40 model untuk proyek ini, tapi yang mendaftar sampai 2.000 orang," kata salah satu promotor, Paria Purmazafari.

Paria menegaskan, iven bukan untuk pamer kecantikan semata, baik makeup maupun busana. "Kami ingin mengenalkan talenta-talenta lokal dan seni yang berkembang di daerah ini. Bahwa seni hidup di Kurdistan dan negeri ini layak menjadi bagian dari kemajuan zaman."

Angelina bahkan mengajarkan cara berjalan di atas catwalk kepada model-model lokal. "Tapi, hanya bila mereka bertanya atau butuh bantuan. Kami tak segan memberi tips bagaimana berjalan agar tidak terpeleset atau tersangkut rok panjang," tuturnya.

Pengalaman Abdulaziz lain lagi. Model lelaki asal Duhok itu gembira melihat adanya platform tersendiri bagi model dan desainer Kurdi. Ini kali pertama dirinya menjajal catwalk. Namun, Abdulaziz sudah berkecimpung di dunia fesyen sejak 10 tahun terakhir.

Di mata desainer lokal, KFW seolah mimpi (tapi nyata). Menakar sukses saat ini, Sarezh Kdr Rasul dan saudaranya Hawzhin Ismail Hama dari Qaladza, kawasan di belahan utara Sulaimani, berharap pekan fesyen bisa digelar setiap tahun.

Konsul Jenderal Prancis Dominique Mas ikut menyaksikan fashion tersebut. "Senang bisa menjadi bagian dari mereka. Selamat untuk penyelenggara," kata Mas sambil mengatakan, selebrasi fesyen tersebut mewakili asa masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan situasi. Era baru menjadi semangat menyambut masa depan. "Sahabat kita bisa merasakan kehidupan normal seperti warga dunia lainnya, tentu kami sangat bahagia." (T/R10/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Diskusi Gugat Kongres, Mengurai Kusutnya Konstitusi IPPAT
Erry Nuradi dan Bobby Nasution Ramaikan Gerakan #2019 Kita Tetap Bersaudara dan Selamanya
Aksi Iriana Jokowi Gendong Bocah Papua di Punggung Curi Perhatian
Trump: Kesimpulan CIA Soal Pembunuhan Khashoggi Terlalu Prematur
Upacara Keagamaan di India Diguncang Bom, 3 Orang Tewas
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU