Home  / 
Tatiana Sitompul dan Rosiany Hutagalung ‘Nyinden’ Kidung Rohani
Jumat, 23 Februari 2018 | 21:36:47
SIB/Oki Lenore
‘NYINDEN’: Tatiana Sitompul dan Rosiany Hutagalung serta Ny Dr SB Sitompul usai ‘nyinden’ dengan syair kidung rohani di Medan, Selasa (20/1).
Medan (SIB) -Tatiana Sitompul dan Rosiany Hutagalung hadir di tengah seribuan warga yang ingin mengikuti silaturahim dua pasangan calon (Paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut (Gubsu dan Cagubsu) debat terbuka visi dan misi di Bagas Godang Kompleks Gereja Bethel Indonesia (GBI) Rumah Persembahan Jalan Jamin Ginting Km 11,5 Medan Selayang, Medan, Kamis (22/2). Mengisi kebaktian, keduanya berkidung rohani.

Rosiany Hutagalung sudah sangat biasa dengan aktivitas tersebut. "Yang unik, ketika melayani di perbatasan Indonesia - Malaysia di wilayah Kalimantan.
Mengikuti warga setempat, syairnya dialihbahasakan agar dipahami. Melodinya pun disejajarkan dengan apa yang biasa dibawakan warga Melayu di irisan daerah 'abu-abu' tersebut," ceritanya.

Perempuan enerjik itu melanjutkan pengembalaan ke daerah pedalaman lain. Mulai ujung atas Sumatera hingga Papua. Tetapi, pengalaman melayaniNya yang paling berkesan saat di Kepulauan Mentawai. "Waktu itu pasca gempa dan tsunami. Warga masih sibuk mengurusi fisik. Kami, tim pelayan, harus membantu tapi tetap berkidung pujian. Puji Tuhan, warga terobati dari luka batin," tambah Rosiany Hutagalung.

Perempuan yang jadi ibu asuh hampir seratus warga Papua dan Mentawai itu memastikan tetap akan melakukan pelayanan hingga Tuhan menggenapi.

Yang istimewa, Tatiana Sitompul. Perempuan kelahiran Medan dari pasangan Hareanta Sitompul (+) - Ny Theresia Manurung itu melayaniNya dengan 'menyinden'. "Bukan Macapat ya... tapi menyinden dengan Kromoinggil," urainya didampingi Ny Dr SB Sitompul.

Macapat adalah tembang yang berisi puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai gatra dan setiap gatra mempunyai guru wilangan tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. "Saya nyinden dengan kidung rohani," kenang ibu 3 anak yang menimba ilmu di sekolah Katolik di Medan dan melanjut ke Yogyakarta tersebut.

Saat di daerah khusus itulah Tatiana Sitompul mengenal tradisi dan budaya Jawa, lengkap dengan bahasa Kromoinggil. "Bahkan, ketika di TPU Nusukan, nyinden dengan Kromoinggil," ceritanya sambil mengatakan meski taman pemakamam umum (TPU) namun yang dimakamkan di lokasi tersebut dari ragam agama. "Di pemakaman di Jawa, tidak sedikit warga mendapat inspirasi tentang damainya dalam perbedaan, menggali filosofinya dan lain sebagainya," papar ibu dari Gihan Valentono Sihombing tersebut.

Dalam nyinden, ia selalu membawakan lagu bersyair  Hidup Ini Adalah Sementara. "Syair lagu itu mengingatkan manusia untuk berbuat terbaik karena hidup adalah sementara," urai perempuan yang terinspirasi dengan nats Matius 4:17. (T/R10/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Tim SAR Temukan 2 Titik Objek di Kedalaman 490 Meter Danau Toba
Kabar Terbaru: Posisi KM Sinar Bangun Berhasil Diidentifikasi
Pemerkosa Turis Prancis di Labuan Bajo Terancam 12 Tahun Penjara
Golok Menancap di Dada, Dadan Tewas Diduga Dibunuh
Saat Silaturahmi, Pencuri di Rumah Kosong Dibekuk
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU