Home  / 
Tayangan Erotis, Profesor Tari Bali Protes YouTube
Sabtu, 17 Februari 2018 | 18:27:58
Gianyar (SIB) -Budayawan dan penari Profesor Dr Wayan Dibia memrotes YouTube karena memuat tari asal Bali dari sisi erotis. Tarian yang belakangan marak di pura-pura di Kabupaten Gianyar, Bali dianggap merusak tradisi. Ia pun khawatir, bila secara masif disiarkan, UNESCO 'tergelitik' lalu mencabut status Tari Joged Bumbung Bali sebagai Warisan Budaya Tak Benda. "Joged jaruh [tarian yang dibawakan dengan cara porno] ini jika dibiarkan begitu saja, kami khawatirkan, status sembilan tarian Bali yang ditetapkan badan organisasi UNESCO, khususnya Joged, bisa dicabut," kata Dibia di Denpasar, Kamis (15/2).

Ia mengimbau agar ruang joget tradisional lebih diperbanyak. Apalagi Kabupaten Gianyar dikenal sebagai daerah seni. Seharusnya tari tradisional lebih menonjol di sana.

Guru Besar ISI Denpasar itu memrotes YouTube. "Caranya melibatkan mahasiswa, pelajar, untuk mengikuti peretasan upaya legal reporting (pelaporan) dan flagging (penandaan) secara serentak," ucapnya.

Menurutnya, jika banyak yang memrotes, YouTube bisa langsung menghapusnya.

Tari Joged Bumbung yang marak di YouTube belakangan memang berbeda dari akar tradisionalnya. Penari tunggal yang selalu berjenis kelamin perempuan, mengajak salah satu penonton laki-laki untuk berjoget di hadapan publik. Namun joget mereka mengarah ke porno.

Penari perempuan meliukkan tubuhnya terlalu dekat dengan lawannya. Penari mempraktikkan gerakan-gerakan tak senonoh yang bahkan mengarah ke seksual.
Atas fenomena itu, Ketua Majelis Utama Desa Pakraman Provinsi Bali Jero Gede Putus Suwena Upadesha mengatakan untuk menghentikan Joged jaruh diperlukan aksi atau tindakan nyata.

Dewa Megawasa dari Polda Bali menambahkan, untuk menuntaskan joged jaruh perlu sosialisasi hukum. Sebab menurutnya pembinaan saja tidak akan mempan.
Joget itu melanggar batas kesopanan, sehingga harus harus berhadapan dengan hukum secara formal. "Baik UU yang diatur dalam KUHP, ITE bahkan UU Kebudayaan dengan ancaman hukuman penjara hingga denda miliaran rupiah, " kata Dewa Megawasa. Saat ini, katanya, sudah ada kasus tarian porno yang ditangani kepolisian. Kini tugas ada di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Joged Bumbung  aslinya merupakan tari pergaulan masyarakat Bali. Konon, tarian itu sudah ada sejak 1940-an. Awalnya tari itu dibawakan di pedesaan-pedesaan saat para petani melepas lelah. Namun belakangan terjadi pergeseran dalam gerakannya. "Yang harusnya ngegolnya [bergoyangnya] hanya ke kiri dan ke kanan, kini malah maju ke depan dan ke belakang. Nah, hal inilah yang sangat kami sayangkan," ujar Koordinator Tim Kesenian Joged Banjar Antap yang kerap membawakan Joged Bumbung Putu Juniarta.

Dari akarnya, Joged Bumbung memang tarian yang bersifat partisipatif. Penarinya memang mengajak penonton menari bersama. Namun unsur hiburan dan kesopanan seharusnya dipertahankan, alih-alih unsur erotis yang mengarah ke pornoaksi. (Ant/T/R10/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Eks Pasar Saribudolok 4 Tahun Terlantar
Dirjen Pajak Gelar Diskusi dan Dialog dengan Pelaku UMKM di Kawasan Danau Toba
Bawas Mahkamah Agung RI Kunker ke PN Simalungun
Rekruitmen Calon Direksi PD PHJ dan PD PAUS P Siantar Sesuai Permendagri
21.266 Anak PAUD/SAB/SD Negeri di P Siantar Dapat Makanan Tambahan dan Vitamin
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU