Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Jong Bataks Arts Festival 4 Ketengahkan Seluruh Jenis Gong Nusantara
Kamis, 19 Oktober 2017 | 16:56:08
SIB/Dok
Satu penampil dalam Jong Bataks Arts Festival 4 di Medan.
Medan (SIB) -Jong Bataks Arts Festival akan kembali dihelat 25-28 Oktober 2017 mendatang di Taman Budaya Sumatera Utara di Jalan Perintis Kemerdekaan Medan. Kegiatan tahunan keempat (JBAF#4) tersebut kali ini bertema Gong. Sesuai taglinenya, maka hampir seluruh gong yang ada di Nusantara ditampilkan.

Direktur JBAF#4 M Andrian Manalu mengatakan, gong merupakan alat musik yang sangat terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur yang pada hakikatnya berfungsi sebagai penjaga untuk mengatur ritme dengan alat musik lainnya. Di JBAF#4, menurutnya, gong sabagai pengatur irama dan begitu juga harapannya dalam konteks berkesenian Sumut perlu adanya irama yang dibagun demi keberlangsungan kedepannya.

Mengingat pada tema tahun lalu yang mengangkat Topeng sebagai tema utama, Rumah Karya Indonesia selaku penggagas dan pelaksana kegiatan ingin kekayaan etnik Indonesia diketengahkan. "Jong Bataks Arts Festival bukanlah sebagai festival tontonan saja yang sifatnya hiburan semata, Jong Bataks Arts Festival menjadi sebuah edukasi dan penuntun bagi masyarakat luas terutama untuk kesenian tradisi," tulis seniman tersebut via emailnya, Rabu (18/10).

Kegiatan tahun 2017 melibatkan 36 Komunitas yang bukan hanya dari Sumut namun perwakilan dari provinsi lain sudah terlibat yakni dari Provinsi Sumatera Barat dan Riau. "Kegiatan ini juga bukan semata pertunjukan musik saja, namun dalam kegiatan Jong Batak Arts Festival menyelenggarakan diskusi terkait gong, di mana gong sebagai perekat bangsa," jelasnya.

Kegiatan dimaksud dilakukan atas dasar spirit yang sama bagaimana membangun identitas bangsa sebagai pemersatu bangsa, merealisir semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. "Namun kami menyadari selaku pelaksana kegiatan menyadari masih banyak kekurangan untuk itulah kami mengundang seniman, politisi dan masyarakat umum untuk datang mengapresiasi kegiatan ini, serta memberi sumbangsih positif terhadap kegiatan ini agar bisa lebih berguna dan lebih baik ke depan," tambah pria yang disapa Ojak Manalu.

Di tempat terpisah, pelaku dan perawat seni tradisi Sihol Sidabuke mengatakan, JBAF#4 adalah satu manifesto kecintaan anak muda dalam tanggung jawab melestarikan warisan leluhur. "Mengapresiasi kegiatan adalah bagian mulia dari tanggung jawab generasi muda," ujar pria yang penggiat pengangkat agama-agama tradisional nusantara tersebut.

Pelaku seni etnik Chrizty Yanti Manalu berharap, kegiatan diikuti anak-anak muda dari generasi milenial guna memahami tradisi warisan bangsanya. "Orang muda di dunia kan sudah kehilangan jati diri karena intervensi teknologi karena lebih kenal dengan budaya pop ketimbang warisan leluhur," ujarnya didampingi Laba Suprianto Simanjuntak dan Theodorus Situmorang dari Sipituama Music Perumnas Simalingkar Medan. "Saya berharap pada Bang Ojak Manalu untuk memberi akses lebih luas pada orang muda pelaku seni etnik untuk terlibat," tutup Chrizty Yanti Manalu yang baru menyelesaikan pergelaran taganing di Jawa hingga Papua tersebut. (T/R10/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
JK Pimpin Mediasi Perdamaian Afghanistan di Istana Wapres
Kesuksesan MTQ Provsu Tolok Ukur Keberhasilan MTQN 2018
Tahap Awal, 1.075 Ha Areal Sawit Rakyat di Sumut Peroleh Hibah Peremajaan
Pengusaha Senior Sumut Tak Berminat Maju Pimpin Kadin SU?
Jelang Hari-H Resepsi Putri Jokowi, Order Spanduk-Baliho di Medan Melonjak
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU