Hotel Tapian Nauli
Home  / 
Terus Dikecam Soal MH370, Malaysia Serang Balik Pemerintah dan Publik China
* Pemerintah China Didesak Selidiki Hilangnya MH370
Sabtu, 29 Maret 2014 | 14:23:38
Kuala Lumpur (SIB)- Malaysia tampaknya mulai dongkol dengan kecaman dan kritikan atas penanganan insiden pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370, terutama dari China. Setelah pejabat Malaysia melontarkan kekecewaannya, kini media dan publik ikut mengungkapkan kekesalannya. Selama ini, Malaysia terkesan menahan diri dan enggan terpancing. Terutama mengingat China yang merupakan negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia ini, adalah mitra perdagangan utama Malaysia.

Tapi pada akhirnya ketegangan mulai muncul. Media setempat ikut bergabung dalam mengkritik perlakuan publik dan media China terhadap Malaysia terkait MH370. Surat kabar Malay Mail yang dikontrol pemerintah, menampilkan halaman depan pada edisi Jumat (28/3) dengan judul "MH370 -- Malaysia under siege".

"Negara-negara yang kami anggap teman sekarang harus membuktikan lebih baik pertemanan mereka," demikian bunyi narasi Malay Mail seperti dilansir AFP, Jumat (28/3). Narasi tersebut ditujukan untuk pemerintah China.

"Pemerintah ini tampaknya senang membiarkan warganya untuk mengeluh dan bahkan menuding kami menyimpan informasi," imbuhnya. Editorial surat kabar tersebut juga mendorong Perdana Menteri Malaysia Najib Razak untuk menyerukan unjuk rasa besar-besaran bagi warga Malaysia demi membela kehormatan dan nama baik negara.

Dalam beberapa hari terakhir, kecaman terhadap Malaysia terus muncul. Selain dituding berbohong dan menyembunyikan informasi soal MH370, pemerintah Malaysia juga disebut 'pembunuh' oleh keluarga penumpang di Beijing, China.

Menanggapi hal ini, media pemerintah lainnya, New Straits Times pada editorialnya hari Kamis (27/3) kemarin menyebut bahwa: "Bahkan pihak yang juga mengalami penderitaan dan terhina tidak lepas dari tudingan pembunuhan."

Tidak hanya itu, editor dari media online independen di Malaysia, Malaysian Insider, Jahabar Sadiq juga ikut komentar. Dia menyebut kritikan dari China tidak adil, sambil menekankan bahwa China yang memiliki kemampuan udara dan laut lebih mumpuni dari Malaysia, juga tidak mampu menemukan MH370 hingga sekarang.

"Pencarian pesawat yang hilang ini menunjukkan keterbatasan teknologi mereka, kekuatan mereka. Itu menempatkan China pada posisinya. Dibutuhkan waktu cukup lama bagi mereka untuk mendapatkan penghormatan yang sama seperti yang didapatkan Amerika, Inggris atau Australia," ucapnya.

Serangan balik terhadap pemerintah dan publik China juga mencuat di media sosial Malaysia. Sarana ini dimanfaatkan publik Malaysia yang meradang untuk mengungkapkan kekesalannya terhadap China. "China menuntut kebenaran dan transparansi penuh tentang kecelakaan pesawat? Bagaimana jika mereka menyelesaikan dulu kasus Lapangan Tiananmen?" tulis seorang pengguna media sosial, merujuk pada aksi penindasan pemerintah China terhadap unjuk rasa pro-demokrasi pada tahun 1989 silam.

Sementara itu keluarga para penumpang MAS MH370 asal China mendesak pemerintahnya untuk melakukan penyelidikan sendiri atas hilangnya pesawat Boeing 777-200ER tersebut. Tuntutan tersebut disampaikan dalam surat keluarga penumpang. Keluarga penumpang juga mengecam penanganan pemerintah Malaysia atas hilangnya pesawat tersebut.

"Kami mempertanyakan motivasi Malaysia dalam menyesatkan dan menunda sehingga kehilangan momen terbaik untuk menemukan MH370," demikian bunyi surat tersebut. Sikap Kuala Lumpur disebut "tidak bertanggung jawab" dan "tidak manusiawi". "Kami sungguh-sungguh meminta agar China membuka kantor investigasi terhadap MH370," demikian bunyi surat tersebut.

Pemerintah China sebelumnya telah menyerukan Kuala Lumpur untuk memasukkan para pakar China dalam penyelidikannya. Namun sejauh ini, pemerintah China belum pernah menyinggung mengenai pembentukan tim penyidik China atas insiden hilangnya MH370.

Kerahkan Pesawat P8 Poseidon
Pencarian via udara terhadap puing pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370 dilanjutkan kembali. Amerika Serikat (AS) mengirimkan pesawat tambahan, yakni sebuah P8 Poseidon lainnya, untuk membantu pencarian ini. Dengan demikian, akan ada dua pesawat P8 Poseidon yang khusus memiliki kemampuan pengintaian maritim yang membantu pencarian MH370 di Samudera Hindia. Pesawat AS ini akan bekerja bersama dengan pesawat sejumlah negara lainnya dalam operasi pencarian MH370.

"Sangat kritis untuk melanjutkan pencarian puing sehinga kita bisa membalikkan ramalan arah angin, arus laut, dan kondisi laut sejak 8 Maret untuk menentukan posisi di mana kemungkinan MH370 jatuh ke dalam air," tutur ahli kelautan militer AS, US 7th Fleet, Commander Tom Moneymaker.

Selain mengerahkan pesawat militer, AS juga telah mengirimkan sebuah alat canggih yang mampu melacak sinyal kotak hitam pesawat di kedalaman laut hingga 6.000 meter. Pengerahan alat bernama Towed Pinger Locator 25 ini berpacu dengan waktu mengingat masa aktif kotak hitam hanya selama 30 hari setelah pesawat hilang kontak.

Pesawat yang dikerahkan antara lain, dua pesawat Royal Australian Air Force (RAAF) P3 Orions, satu pesawat jet milik Japanese Coast Guard, satu pesawat P3 Orion milik Jepang, sebuah pesawat P3 Orion milik Korsel, sebuah pesawat C130 Hercules milik Korsel, sebuah pesawat P3 Orion milik Selandia Baru, sebuah pesawat militer Ilyushin IL-76 milik China, sebuah pesawat P8 Poseidon milik AS, dan satu pesawat jet sipil sebagai penyambung komunikasi.

Satu pesawat RAAF P3 Orion lainnya disiagakan di Pangkalan Udara Pearce, Perth untuk menginvestigasi langsung ke lokasi begitu ada temuan puing mencurigakan di lautan. Sementara itu, pencarian ini juga melibatkan enam kapal, termasuk kapal militer HMAS Success milik Australia dan lima kapal China.

Terbang Lebih Cepat
Petunjuk baru lebih kredibel yang memicu pergeseran area pencarian pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370 didasarkan pada analisa data radar. Analisa tersebut menunjukkan MH370 terbang lebih cepat sehingga kemungkinan lokasi jatuhnya tidak sejauh lokasi pencarian sebelumnya. Area pencarian awal berjarak 2.500 kilometer barat daya Perth, Australia. Namun dengan adanya analisa data radar yang baru tersebut, area pencarian digeser ke lokasi berjarak 1.850 kilometer barat Perth.

"Informasi baru ini didasarkan atas analisa data radar yang berkelanjutan antara wilayah Laut China Selatan dan Selat Malaka sebelum menghilang dari kontak radar," terang Australian Maritime Safety Authority (AMSA) dalam keterangan persnya, Jumat (28/3). Berdasar analisa tersebut, lokasi jatuhnya pesawat diperkirakan lebih dekat ke daratan Perth. AMSA menuturkan, area pencarian digeser sejauh 1.100 kilometer ke arah timur laut, dari lokasi pencarian sebelumnya.

"(Analisa) Itu mengindikasikan bahwa pesawat terbang lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya, berdampak pada penggunaan bahan bakar yang lebih banyak dan mengurangi kemungkinan jarak pesawat tersebut terbang ke arah selatan di Samudera Hindia," jelas AMSA.

Informasi baru tersebut, menurut AMSA, telah diteliti dan dianalisa oleh Australian Transport Safety Bureau (ATSB), yang merupakan badan investigasi resmi Australia. Hasil analisa menunjukkan bahwa petunjuk baru tersebut paling kredibel sejauh ini untuk mencari puing MH30.

ATSB juga menyarankan bahwa informasi baru ini mampu menunjukkan jalur penerbangan MH370 paling potensial yang akan menjadi fokus penyelidikan, seiring tim investigasi internasional melanjutkan analisanya. AMSA menambahkan, Australian Geospatial-Intelligence Organisation kini tengah melakukan pencitraan satelit di lokasi pencarian yang baru. (Detikcom/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
19 TKA Asal China akan Dideportasi dari Pekanbaru
Angelina Jolie Ajari Anak Makan Kalajengking dan Tarantula
Sukses Dipamerkan di Malaysia, Kopi dan Kipas Humbahas, Ulos Tarutung ke Rusia
Kendalikan Inflasi, Pemerintah Jaga Harga Bahan Pokok
Pemerintah Serap Rp6 Triliun dari Lelang 5 Seri SBSN
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU