Hotel Tapian Nauli
US XII
Home  / 
Spirit Kaldera Toba Merambah ke Tokoh Gereja dan Masyarakat di Jakarta
Penetapan Geo Park Momen Tepat Menyelamatkan Danau Toba
Rabu, 8 Oktober 2014 | 09:05:06
SIB/Jamida PH
FOTO BERSAMA: Drs Inget Sembiring, Pdt Dr Martin Lukito Sinaga, Dr Maruarar Siahaan SH (Rektor UKI), Pdt Dr Richard Daulay, Togap Simangunsong Asisten Deputy Urusan Iklim Kementerian Kordinator Kesejahteraan Sosial (Menkokesra) Jansen Sinamo, Pdt Gomar Gultom MTh (Sekum PGI), Prof Dr Payaman J Simanjuntak (Wakil Ketua Dewan Pembina Yayasan Pecinta Danau Toba-YPDT) dan Baltasar Tarigan SE (Ketua Panitia) foto bersama usai diskusi.
Jakarta (SIB)- Pemerintah pusat dan daerah, lembaga masyarakat, gereja-gereja, pemuka agama, masyarakat luas, khususnya  masyarakat setempat serta tokoh adat dan budaya harus berperan aktif menyelamatkan Danau Toba dari “kehancuran”, baik dari segi lingkungan hidup, historis, geologi maupun keindahannya.

Sedangkan pengusulan kawasan Danau Toba sebagai kawasan taman geologi dunia (geo park) ke UNESCO merupakan momen yang tepat menggerakkan  semua stakeholder untuk bertindak cepat dan tepat.

Hal ini mengemuka  dalam diskusi/pertemuan tokoh gereja dan masyarakat asal kawasan Danau Toba yang tinggal di wilayah Jabodetabek di Graha William Suryajaya, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cawang Jakarta Timur, Senin (6/10).

Pertemuan yang digelar Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) bekerjasama dengan UKI tersebut: “Revolusi Mental Menyongsong Satu Abad ( 2015-2115) Pembangunan Kawasan Danau Toba Menuju Kota Berkat di Atas Bukit.

Hadir sekitar 400 orang, meliputi tokoh masyarakat, pemuka agama dan tokoh gereja, pengurus yayasan, mahasiswa, generasi muda, budayawan Prof  Dr Payaman J.Simanjuntak (Wakil Ketua Dewan Pembina YPDT), Drs Inget Sembiring (tokoh masyarakat Karo), Dr Maruarar Siahaan SH (Rektor UKI), Prof Dr Ing K Tunggul Sirait, Drs Jerry Rudolf  Sirait, Hisar Gurning, Nicolas Simanjuntak SH, Liasta Karo-Karo dan lainnya.

Sedangkan narasumber adalah Pdt Dr Richard Daulay, Pdt Gomar Gultom MTh, Dr Maruarar Siahaan dan Jansen H Sinamo.

Ketua Panitia Baltasar Tarigan SE menyatakan, tujuan utama diskusi adalah mempertemukan para tokoh gereja dengan masyarakat yang berasal dari kawasan Danau Toba, sekaligus menghimpun dan menyelaraskan pemikiran untuk pembangunan kawasan Danau Toba yang menyeluruh, terintegrasi dan lestari. Selain itu, juga mendorong pengorganisasian partisipasi pembangunan Kawasan Danau Toba yang hijau, indah dan  lestari.

Wakil Ketua Dewan Pembina YPDT Prof Dr Payaman J Simanjuntak mengemukakan, dalam satu abad ke depan  (tahun 2015-2115) ada keinginan atau cita-cita untuk mewujudkan kawasan Danau Toba sebagai kawasan world wonder city, sebagai taman geologi dunia dan sebagai kawasan yang dirindukan (promise land), sebagai kota di atas bukit yang diberkati Tuhan dan sebagai kota dengan masyarakat yang diberkati.

Saat ini, kondisi dan perkembangan kawasan Danau Toba kurang terarah, terfragmentasi dengan kepentingan-kepentingan ekonomi jangka pendek, egosektoral dan lain sebagainya.

Perubahan masyarakat juga terus berjalan cepat, baik karena faktor internal maupun eksternal,  pembangunan ekonomi dan globalisasi. Padahal,  tantangan -tantangan perubahan lingkungan, pengaturan tata ruang baru, perubahan sosial, ekonomi lokal dan global, akan semakin intensif pada masa mendatang.

“Tantangan tersebut perlu direspon semua pihak yang peduli kawasan Danau Toba dengan semangat baru, untuk kerjasama dan partisipasi untuk mewujudkan kawasan Danau Toba yang indah, lestari dan diberkati,” kata Payaman Simanjuntak.

Pdt  Gomar Gultom MTh, yang juga Sekum PGI mengemukakan, sekarang ini Danau Toba dan kawasannya  sedang  menghadapi  masalah besar, bahkan bisa disebut sedang krisis. 

Di balik keindahan dan kebanggaannya, kini keadaan Danau Toba dan alam sekitarnya tidak seindah dulu lagi, sehingga membuat hati menangis. Airnya tercemar, sampah tampak di sana-sini, enceng gondok tumbuh semakin subur, pohon-pohon ditebang sembarangan, bukit-bukit longsor dan kesuburan tanah terdegradasi. 

Dampaknya, arus wisatawan yang datang berkunjung ke Danau Toba semakin berkurang dari waktu ke waktu, sehingga menggambarkan suatu masalah sosial yang serius dan membutuhkan perhatian yang mendesak.

Mantan Sekum PGI  Pdt Dr Richard Daulay menyatakan, tidaknya ada tiga penyebab utama mengapa Danau Toba semakin sepi dari para turis nasional maupun mancanegara.

Pertama, para turis merasa kurang aman dan nyaman. Bahkan, tidak jarang para turis merasa ditipu, kalau membeli barang di kawasan wisata, baik dari segi harga maupun kualitas. 

Kedua, infrastruktur yang kurang mendukung, sehingga jarak tempuh perjalanan dari Bandara Kuala Namu ke Danau Toba  memakan waktu 4 s/d 5  jam.
Ketiga, kondisi Danau Toba yang belakangan dijadikan sebagai “kolam ikan”, akibat banyaknya kerambah dan enceng gondok.

Richard Daulay mengkhawatirkan apabila tidak dilakukan langkah konkrit, Danau Toba akan menjadi “Kubangan Raksasa”, namun kurang bermanfaat bagi daerah dan masyarakatnya.

Menurutnya, pemerintah memang yang paling bertanggung jawab untuk pelestarian Danau Toba. Tetapi, pimpinan HKBP, GKPS, GBKP, GKPPD, dan gereja-gereja lainnya, perlu mengambil inisiatif untuk menerbitkan kumpulan khotbah yang berisi pesan tentang pelestarian Danau Toba.

Dr Maruarar Siahaan mengemukakan, kawasan Danau Toba yang kini sangat kritis, diakibatkan pola penggunaan lahan yang kurang mengindahkan prinsip konversi dan perambahan hutan secara illegal oleh masyarakat maupun pengusaha.

Polusi timbul sebagai akibat kegiatan yang beragam, limbah tidak terawasi dari pemukiman penduduk, hotel, restaurant, peternakan ikan dan lain sebagainya.
Menurut Maruarar Siahaan, pemulihan ekosistem kawasan Danau dan upaya untuk menjaga serta mempertahankan, bahkan mengembangkannya menjadi kawasan yang hijau, bersih dan modern, membutuhkan upaya tulus dari seluruh stakeholder, warga Batak yang telah berdiaspra, warga di sekitar danau, pemerintah daerah di 5 Kabupaten, para seniman dan lain sebagainya. 

“Di samping merangkul pemimpin jemaat dan gereja, juga tokoh adat dan pemimpin marga-marga,” ujar Maruarar Siahaan.

Jansen H Sinamo mengatakan, secara garis besar, ada tiga problem utama yang menggerogoti kualitas lingkungan Danau Toba, yakni penggundulan hutan di seluruh wilayah tangkapan airnya, pencemaran air oleh aktifitas perhotelan, perikanan berkeramba, transportasi danau serta penggunaan pestisida dan pupuk kimia yang berlebihan. (G1/f)



Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
No Bra Day, Momen Buat Deteksi Dini Kanker Payudara
Pemerintah Pusat Mulai Susun Master Plan Geopark Kaldera Toba
Terungkap, Angelina Jolie dan George Clooney Hendak Direkrut Jadi Agen Rahasia untuk Tangkap Penjahat Perang Uganda
Wagubsu Minta Instansi Kompak Dukung Geopark Kaldera Toba Masuk GGN Unesco
Ditagih Parkir, Mantan Dokter RSPAD Lepaskan Tembakan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU