Home  / 
Menhan: Terorisme Bukan Islam, Kita Harus Berantas
* Dari 31.500 Pejuang ISIS, 700 Orang Indonesia
Jumat, 9 November 2018 | 09:56:48
Jakarta (SIB) -Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu memberi sambutan di acara seminar Indo Defence bertajuk 

"Ensuring Regional Stability Through Cooperation on Counter Terrorism" di JIExpo Kemayoran Jakarta Pusat, Kamis (8/11). Menhan menyoroti aksi-aksi dari para kelompok terorisme.

"Sekali lagi, (teroris) mereka bukan Islam. Saya malu kita jadi dicurigai karena Islam. Kita harus berantas teroris itu," kata Ryamizard, Kamis (8/11).

Ryamizard menyampaikan ada dua ancaman yang dihadapi negara-negara saat ini termasuk negara Indonesia. Dua ancaman itu yakni ancaman nyata dan ancaman belum nyata. Ancaman belum nyata yakni perang antarnegara. Sementara ancaman nyata yaitu terorisme, bencana alam, hingga pemberontakan.

Ia menyebut sangat tidak suka dengan teroris dan pemberontakan. Untuk menghadapi teroris disebutnya harus dengan kekuatan seluruh masyarakat Indonesia.
"Yang nyata sekali adalah teroris. Teroris yang kita hadapi sekarang adalah teroris generasi ketiga. Pertama adalah Al-Qaeda dia menghantam ke barat. Kedua ini seluruhnya dia ngaku-ngaku Islam dan merusak Islam. Sebenarnya teroris musuh Islam karena merusak nama Islam," kata Ryamizard.

"Generasi kedua itu ISIS, ketiga adalah pahlawan atau pejuang yang pulang dari Suriah, Afghanistan nah itu generasi ketiga," sambungnya.

Ia menyoroti kelompok teroris ISIS. Ia menyebut ISIS lahir akibat konflik politik di Irak dan Suriah. ISIS tidak ada kaitannya dengan Islam.

"ISIS pada mulainya hanyalah kekuatan di Irak. Di sini perlu kita garis bawahi bahwa ISIS hanyalah buah dari konflik politik Irak-Suriah yang nggak ada kaitannya dengan agama. Dia biar keren ngaku Islam biar semua dunia bantu dia, (padahal) dia merusak Islam," kata Ryamizard.

Kelompok teroris itu sering mengubah strateginya agar tidak terlacak oleh pihak keamanan. Untuk itu, Ryamizard menyebut Polri-TNI dan seluruh masyarakat Indonesia harus bekerja sama menghadapi musuh semua negara itu.

"Bahwa operasi terus berubah agar tidak mudah dideteksi oleh aparat keamanan, seperti yang terjadi di Indonesia kelompok ISIS gunakan modus baru dengan satu keluarga yang terjadi di Surabaya," kata Ryamizard.

700 Orang Indonesia
Dalam kesempatan itu, Ryacudu menyebut ada 700 WN Indonesia yang bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak.

"Berdasarkan data intelijen, ada sekitar 31.500 pejuang ISIS asing yang bergabung di Suriah dan Irak. Dari jumlah tersebut, 800 berasal dari Asia Tenggara serta 700 dari Indonesia," kata Ryamizard.

Ia menyebut ada 700 orang bodoh dari Indonesia yang bergabung dengan ISIS. Baru-baru ini ada sekitar 70 personel ISIS asal Indonesia yang ditangkap di Filipina.
"Kemarin kalau nggak salah ada 70 orang Indonesia yang ditangkap di Filipina," kata Ryamizard.

Cegah Aliran Dana
Sementara itu, kejahatan pendanaan teroris menjadi pembahasan di acara The 4th Annual Counter-Terrorism Financing Summit 2018. Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan negara di kawasan Asia dan Australia harus bekerja sama untuk mengatasi kejahatan itu.

"Kerjasama antarnegara dalam penanganan dan penanggulangan kejahatan aliran dana kelompok teroris, berupa peningkatan kerjasama, sharing informasi dan pengembangan kapasitas di antara penegak hukum termasuk financial intelligence unit khususnya di kawasan regional Asia dan Australia," kata Tito dalam keterangan tertulis, Rabu (7/11).

The 4th Annual Counter-Terrorism Financing Summit 2018 berlangsung di Royal Orchid Sheraton Hotel, Bangkok selama tiga hari, sejak 6 hingga 8 November 2018. Sebagai pembicara, Tito mengupas segala hal terkait perkembangan kejahatan terorisme.

"Membahas tentang tantangan dalam praktik counter terrorism financing. Tentang perkembangan terkini tindak pidana terorisme yang terjadi di Indonesia, trend pendanaan terorisme, perubahan modus operandi, beserta beberapa contoh kasus penanganan aliran dana teroris yang ditangani oleh Indonesia," ujar Tito.

Tito juga menyebutkan beberapa kasus yang telah berhasil diungkap Polri antara lain pada kasus Bom Bali I, Teror Bom Thamrin dan terkini yakni Teror Bom Gereja Surabaya.

"Peran signifikan dari Financial Intelligence Unit di berbagai negara, guna memutus aliran dana dan logistik bagi para kelompok teror," ucap dia. (detikcom/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Ilmuwan Ingin Menggunakan Laser untuk Memandu Alien ke Bumi
Studi Ungkap Wanita Nigeria Kembangkan Bisnis dengan WhatsApp
Audio High Resolution Picu Peningkatan Speaker Wireless
Mirip Manusia, Robot Berteknologi AI Gantikan News Anchor
BPPT Kurangi Dosis Teknologi Asing untuk Perkapalan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU