Home  / 
Dokumen Boeing Indikasikan Kerusakan Pesawat Lion Air JT 610
* Pilot dan Pesawat Lion Air yang Tabrak Tiang Lampu di Bengkulu Digrounded
Jumat, 9 November 2018 | 09:55:33
Jakarta (SIB) -Menyusul kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX 8 Lion Air penerbangan JT 610, Boeing dan otoritas penerbangan AS, Federal Aviation Administration (FAA), menerbitkan buletin keamanan untuk semua maskapai di dunia yang memakai pesawat sejenis.

Rekomendasi keamanan ini bisa jadi indikasi seperti apa kerusakan pesawat B737 MAX 8 Lion Air registrasi PK-LQP itu, sebelum jatuh di perairan Tanjung Karawang, Senin (29/10).

Buletin panduan operasional untuk kru 737 MAX 8 ini diterbitkan oleh Boeing dan FAA, berdasarkan fakta awal yang ditemukan oleh KNKT dalam penyelidikan jatuhnya pesawat Lion Air JT 610. 

Menurut KNKT, Lion Air JT610 mengalami pembacaan data Angle of Attack (AoA) yang berubah-ubah (mengacau) sesaat sebelum jatuh.

Dalam buletin bernomor TBC-19 tanggal 6 November 2018, Boeing memberi judul Uncommanded Nose Down Stabilizer Trim Due to Erroneous Angle of Attack (AoA) During Manual Flight Only. 

Atau kalau diterjemahkan kurang lebih artinya adalah mekanisme stabilizer trim yang membuat hidung pesawat turun sendiri, akibat pembacaan sensor Angle of Attack (AoA) yang kacau, hanya saat terbang manual.

Secara sederhana, Angle of Attack adalah sudut yang dibentuk dari naik-turunnya bodi (moncong) pesawat dengan arah gerak pesawat. 

Misalnya saat fase mendarat, pesawat membutuhkan Angle of Attack tinggi, hidung naik ke atas sembari terbang menurunkan ketinggian.

Data dari sensor yang membaca AoA ini salah satunya digunakan untuk mencegah pesawat masuk ke kondisi stall (kehilangan daya angkat).

Jika sensor AoA membaca sudutnya terlalu besar, maka komputer di pesawat 737 MAX 8 akan memerintahkan stabilizer trim berputar, sehingga hidung pesawat menjadi turun, mengurangi AoA, sehingga airspeed akan bertambah dan pesawat keluar dari kondisi stall.

Stabilizer trim bisa digunakan untuk membuat horizontal stabilizer pesawat (sayap kecil di ekor) berputar. Arah perputaran horizontal stabilizer ini (naik atau turun) bisa mengubah hidung pesawat naik atau turun.

Menurut temuan awal KNKT, berdasarkan catatan kerusakan di pesawat 737 MAX 8 PK-LQP sebelum-sebelumnya, sensor yang tidak bekerja sebagaimana mestinya ini menyebabkan sejumlah indikator kerusakan pesawat di kokpit menyala.

Jenis indikator kerusakan yang bisa menyala, menurut buletin dari Boeing, antara lain indikator kecepatan yang berbeda-beda (IAS DISAGREE), ketinggian yang berbeda (ALT DISAGREE), dan tekanan diferensial hidrolik yang berlebihan di komputer elevator (FEEL DIFF PRESS).

Karena temuan itu, Boeing merilis buletin operasi manual 737 MAX 8, tentang cara mengatasi situasi jika hidung pesawat tiba-tiba turun dengan sendirinya, karena kesalahan data dari sensor AoA.

Menurut Boeing, kesalahan input data dari sensor AoA ini bisa membuat sistem komputer pesawat memutar horizontal stabilizer secara perlahan selama 10 detik, sehingga hidung pesawat turun.

Pergerakan trim stabilizer yang membuat hidung pesawat turun itu bisa dihentikan dan dibalik arahnya, menggunakan kenop stabilizer trim elektrik yang ada di yoke (alat kemudi) pesawat.

Kejadian trim stabilizer berputar pelan 10 detik yang membuat hidung pesawat turun ini akan berulang dalam 5 detik setelah kenop stabilizer trim elektrik di yoke dilepas. Siklus hidung pesawat turun tanpa diperintah ini (runaway stabilizer) akan terus berulang, kecuali sistem stabilizer trim dinon-aktifkan lewat kedua switch STAB TRIM CUTOUT yang ada di pedestal pesawat.

Kru pesawat yang menerbangkan B737 MAX diminta untuk melakukan Non-Normal Checklist (NNC) tentang runaway stabilizer dan memastikan bahwa switch STAB TRIM CUTOUT disetel pada posisi CUTOUT dan tetap dalam kondisi itu selama penerbangan.

Rekomendasi yang dikeluarkan oleh FAA kurang lebih juga sama. Jika mengalami runaway stabilizer saat terbang manual, pilot diminta mengontrol sudut pesawat dengan yoke dan menggunakan trim elektrik jika dibutuhkan.

Jika melepas yoke pesawat membuat stabilizer trim bergerak sendiri (membuat hidung turun), maka pasang switch stabilizer trim ke posisi CUTOUT.

Apabila peristiwa runaway terus berlanjut, tahan roda trim stabilizer yang ada di samping throttle pesawat, dan putar secara manual (menggunakan engkol).

Dokumen imbauan keamanan dari FAA bisa diunduh melalui tautan berikut ini. Perlu diingat, rekomendasi yang dikeluarkan Boeing dan FAA ini hanya menunjukan indikasi masalah yang dialami oleh PK-LQP dalam penerbangan JT 610, dan tidak bisa disebut sebagai penyebab jatuhnya pesawat.

Masih ada data yang belum ditemukan, seperti Cockpit Voice Recorder (CVR) yang bisa membantu menyingkap tabir kelam penerbangan JT610. 

Pilot dan Pesawat LION aIR yANG tabrak tiang lampu DI bengkulu Digrounded
Sementara itu, Tugas Direktur Jenderal Perhubungan Udara M Pramintohadi Sukarno mengatakan pihaknya akan segera melakukan investigasi menyusul insiden pesawat Lion Air yang menabrak tiang lampu di Bandara Fatmawati Bengkulu.

Pesawat Lion Air jenis Boeing 737-900 ER, registrasi PK-LGY dengan nomor penerbangan JT 633 yang akan berangkat dari Bandara Fatmawati Bengkulu menuju Bandara Soekarno Hatta di Banten pada sekitar pukul 18.20 WIB menabrak tiang ketika akan menuju landasan pacu. 

"Kami telah menerima laporan awal (insiden tersebut) dari Kepala Bandara Fatmawati Bengkulu," ujar Pramintohadi dikutip dari keterangan resminya, Rabu (7/11).
Dia menegaskan, untuk kejadian ini akan dilakukan investigasi oleh Inspektur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara, Inspektur Bandar Udara dan Inspektur Navigasi Penerbangan. Investigasi dilakukan  guna melihat penyebab kejadian dan langkah tindak lanjut yang tepat. 

Lebih lanjut menurut dia, saat ini pesawat dan pilot telah digrounded untuk keperluan investigasi.  

"Kami telah menginstruksikan kepada Kabandara untuk memastikan maskapai penerbangan memenuhi kewajiban sesuai ketentuan dengan memberikan kompensasi atas keterlambatan penerbangan kepada penumpang," tambahnya. 

Petugas AMC Diperiksa
Di bagian lain, Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro menjelaskan insiden yang dialami pesawat Lion Air JT 633.

Danang mengatakan, pesawat itu menabrak tiang saat bergerak menuju landas pacu (runway).

Namun, saat melaju ternyata ujung sayap menyenggol tiang lampu koordinat landas parkir (apron) bandar udara, sehingga mengalami kerusakan.

"Ketika pesawat bergerak menuju landas pacu ternyata ujung sayap menyenggol tiang lampu koordinat landas parkir (apron) bandar udara, sehingga mengalami kerusakan. Pesawat digerakkan oleh pilot dengan panduan dan petunjuk serta tanda yang diberikan oleh petugas AMC (Aircraft Movement Control)," ujar Danang dalam keterangan tertulis yang diterima, Kamis (8/11).

Inilah fakta-fakta terkait insiden Lion Air yang menabrak tiang lampu koordinat.

Sayap Pesawat Robek
Akibat bersenggolan dengan tiang koordinat, sayap pesawat dilaporkan mengalami robek.

Hal ini turut dilaporkan oleh penumpang Batik Air yang juga saksi mata pada insiden tersebut, Romidi Karnawan.

Kala itu, pesawat Batik yang ia tumpangi tak mendapatkan landasan pacu sehingga pesawatnya mengalami delay.

Ia bersama penumpang lainnya turun dan melihat insiden tersebut.

"Penumpang batik turun, maka terlihatlah Lion Air berada di bagian depan pesawat Batik kami. Terlihat sayap kiri pesawat Lion robek, (karena) menabrak tiang di bandara," ujar Romidi, Rabu (7/11).

Petugas AMC
Atas insiden tersebut, Petugas AMC Bandara Fatmawati Bengkulu diperiksa. Hal ini dikarenakan kekeliruan panduan dan petunjuk dari petugas tersebut. 
Sementara petugas AMC merupakan personel dari pengelola Bandar Udara.

"Petugas AMC tersebut merupakan personel dari pengelola bandar udara dan sedang diperiksa oleh pihak terkait," ujar Danang dalam keterangan tertulisnya, Kamis (8/11).

Kondisi Penumpang
Lion Air JT 633 dijadwalkan lepas landas dari Bengkulu pada pukul 18.20 WIB. Serta mendarat di Soekarno-Hatta pada pukul 22.48.

Pesawat yang mengangkut 143 penumpang ini harus menunggu hingga 4 jam untuk terbang.

Setelah menunggu 4 jam, para penumpang diberangkatkan menggunakan pesawat pengganti JT 632.

Lion Air JT 632 pesawat pengganti JT 633 yang menabrak tiang titik koordinat berangkat membawa penumpang yang menunggu selama 4 jam

Pihak Lion Air Minta Maaf
Atas insiden yang dialami Lion Air, pihaknya memberikan permintaan maaf pada seluruh penumpang.

Dikarenakan penumpang telah menunggu delay yang lama untuk memperoleh pesawat pengganti.

"Lion Air menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh penumpang atas ketidaknyamanan yang timbul," kata Danang Mandala Prihantoro. (Viva/Kps/TribunWow/f/l)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Ilmuwan Ingin Menggunakan Laser untuk Memandu Alien ke Bumi
Studi Ungkap Wanita Nigeria Kembangkan Bisnis dengan WhatsApp
Audio High Resolution Picu Peningkatan Speaker Wireless
Mirip Manusia, Robot Berteknologi AI Gantikan News Anchor
BPPT Kurangi Dosis Teknologi Asing untuk Perkapalan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU