Home  / 
Kasus Jual Beli Lahan Hutan di Desa Simorangkir Julu Terkesan Ada Pembiaran
Rabu, 7 November 2018 | 10:07:37
SIB/Bongsu Batara Sitompul
DIRAMBAH: Inilah kawasan hutan Pea Tolong Desa Simorangkir Julu yang sudah rusak akibat dirambah oknum yang tidak bertanggung jawab. Foto dipetik, Kamis (1/11).
Taput (SIB) - Kasus jual beli lahan  hutan di Pea Tolong Desa Simorangkir Julu Kecamatan Siatas Barita, Kabupaten Tapanuli Utara,  hingga saat ini tidak dilaporkan UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH)  4 Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara  ke Polres Taput.  Sehingga dinilai ada pembiaran.

Hal itu bertentangan dengan UU 18 Tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan Pasal 105 huruf g, yang isinya menyatakan,  dengan sengaja melakukan pembiaran dalam melaksanakan tugas sehingga terjadi tindak pidana pembalakan liar dan atau penggunaan kawasan hutan secara tidak sah. Ancaman hukuman pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 10 tahun penjara. 

Pantauan SIB di lapangan,  Kamis (1/11), belasan hektare  lahan hutan di Pea Tolong Desa Simorangkir Julu, sudah terjadi pembalakan liar untuk dijadikan kebun orang tertentu.

Ribuan batang kayu di kawasan hutan itu sudah ditebang dan akarnya dikorek pakai alat berat. Papan larangan yang menyatakan lahan tersebut kawasan hutan tidak ada sama sekali.  Lokasi - lokasi yang dirambah sebagian sudah menjadi kebun jeruk. 

Plt Kepala UPT KPH 4 Janly Frediko Bancin ketika dikonfirmasi SIB via telepon selulernya, Kamis (1/11), menyatakan, pihaknya sedang mendata dan bila sudah  lengkap baru dipanggil pihak - pihak yang menjual dan membeli lahan tersebut.  "Saat ini kita sudah menyurati pihak - pihak yang terlibat dalam masalah itu.  Beda kehutanan yang dulu dengan kehutanan yang sekarang. Kalau sekarang,  perambah hutan tidak main tangkap tetapi dilakukan pembinaan", katanya. 
Saat ditanya apakah tidak berlaku UU Nomor 18 Tahun  2013 untuk penindakan masalah tersebut,  ia mengatakan  bukan tidak berlaku namun bila terjadi perlawanan baru dilakukan proses secara hukum. 

Terkait luas lahan hutan di Pea Tolong Desa Simorangkir Julu ia mengaku tidak mengetahuinya secara pasti luas kawasan hutan tersebut. Pihaknya selama dua hari baru selesai melakukan pendataan. 

Begitu juga saat ditanya terkait pemilik kebun di kawasan itu diduga orang penting mantan Ketua DPRD Taput OS, ia mengatakan, pihaknya tidak perduli tentang hal itu karena pihaknya menjalankan aturan sesuai  Undang - Undang. 

Saat ditanya kenapa tidak dilakukan penindakan berdasarkan UU No 18 Tahun 2018, ia mengaku pihaknya  masih melakukan tindakan persuasif. "Bila ada perlawanan baru dilaporkan. Tidak main lapor lagi sekarang", katanya. 

Begitu juga saat ditanya tidak ada tindakan persuasif sampai terjadi perambahan hutan dan terkesan ada pembiaran, ia membantah melakukan pembiaran. " Baru dua hari kami melakukan pendataan.  Nanti dicari tahu siapa pemilik kebun dan berapa luasnya. Begitu juga untuk papan larangan, kami akan segera membuat papan larangan, " ujarnya . 
Menurutnya,  terjadinya transaksi jual beli lahan tersebut, karena Kades tidak berkoordinasi dengan pihak Kehutanan saat mengeluarkan surat keterangan jual beli. 
 Kapolres Taput AKBP Horas Marasi Silaen ketika dikonfirmasi SIB,  Jumat (2/11), menyatakan,  saat ini pihaknya masih terus memeriksa saksi - saksi terkait penjualan lahan  hutan tersebut. 

" Kalau pihak yang menjual,  saat ini belum ada kita periksa. Kita masih fokus keterangan saksi - saksi dan bila sudah lengkap, kemungkinan  berlanjut diproses kepada saksi - saksi yang lain , " ujarnya. 

Dia mengatakan untuk mengusut unsur pidana, kasus ini sedang ditangani  Unit Tipiter.(G03/c) 


Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Ilmuwan Ingin Menggunakan Laser untuk Memandu Alien ke Bumi
Studi Ungkap Wanita Nigeria Kembangkan Bisnis dengan WhatsApp
Audio High Resolution Picu Peningkatan Speaker Wireless
Mirip Manusia, Robot Berteknologi AI Gantikan News Anchor
BPPT Kurangi Dosis Teknologi Asing untuk Perkapalan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU