Home  / 
KPK Putar Rekaman Sadapan
Idrus Minta USD 2,5 Juta untuk Jadi Ketum Golkar
* Eni Saragih Kembalikan Rp1,3 M
Rabu, 7 November 2018 | 10:04:28
SIB/Ant/Reno Esnir
PEMERIKSAAN IDRUS MARHAM: Tersangka mantan Menteri Sosial Idrus Marham berada dalam mobil tahanan seusai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa (6/ 11). Idrus Marham diperiksa sebagai tersangka dalam kasus suap kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1.
Jakarta (SIB)- KPK memastikan bukti yang kuat berkaitan dengan penyidikan Idrus Marham dalam pusaran perkara suap terkait PLTU Riau-1. Selain itu, menurut KPK, fakta-fakta persidangan serta kesaksian Idrus dalam sidang terdakwa lain semakin meyakinkan penyidikan.

"Penyidikan untuk IM (Idrus Marham) masih berjalan. Kami tentu sudah punya bukti yang meyakinkan untuk memproses ke penyidikan kemarin dan semakin kuat dalam rangkaian proses penyidikan ini," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah, Selasa (6/11).

"Silakan saja bantah, KPK sering mendapat bantahan seperti itu. Tapi kami akan ajukan bukti yang relevan nanti di persidangan," imbuh Febri.

Idrus memang sempat menjadi saksi dalam sidang lanjutan terdakwa Johanes B Kotjo pada Kamis, 1 November, lalu. Kotjo didakwa memberikan suap kepada Idrus dan Eni Maulani Saragih, yang merupakan politikus Partai Golkar serta anggota DPR Komisi VII.

Dalam persidangan tersebut, jaksa KPK memutarkan sadapan antara Idrus dan Eni. Berikut ini potongan komunikasi dalam sadapan yang diperdengarkan dalam sidang yang digelar terbuka untuk umum tersebut:

Idrus: Tapi Kotjo diberitahu dulu ini kita butuh operasional
Eni: Bang, Senin sampai Rabu jangan ganggu dulu, Bang. Ini kan saya besok asistensi dengan PLN. Senin Selasa Rabu udah jangan dulu, Bang

Idrus: Ah iya

Eni: Karena dia saya ingetin untuk suruh tanda tangan. Begitu tanda tangan ini seminggu kemudian udah, Bang. Minimal ya tiga puluh empat puluh juga dia punyalah. Saya tinggal kemarin saya cuma di .. Mungkin abang paling dikasih satu juta

Idrus: Oh jangan, bilangin Kotjo itu jangan

Eni: Nah makanya makanya kita bilang, 'Tarik dulu dong besok kita ganti,' gitu lho Bang dengan yang lain

Idrus: Bilangin bilangin ngambil itu jangan, ngambil lagi bilangin Kotjo

Eni: Nanti Bang nanti

Idrus: Bilang aja Bang Idrus itu karena dia lagi ini, dia minta sendiri 2,5 gitu, bilang aja

Eni: Oke oke nanti saya ngomong

Idrus: Bilang aja minta 2,5 sendiri karena dia ini lho ini operasional

Jaksa kemudian menanyakan kepada Idrus apakah komunikasi itu benar antara dirinya dan Eni. Idrus mengiyakan meski lupa kapan itu terjadi. Jaksa lalu bertanya tentang Munaslub Partai Golkar.

"Masalah Munaslub tadi ada pembicaraan karena begitu Pak Setya Novanto sudah masuk di situ, masuk di praperadilan, sudah sebagian besar dari elite-elite Golkar memproyeksikan ditolak," ujar Idrus.

"Tapi begini saya ingin cerita sedikit tentang sikap saya. Sebagian besar kader Golkar ini memang menginginkan saya," imbuh Idrus.
"Jadi?" tanya jaksa.

"Jadi ketum (Golkar)," jawab Idrus.

Idrus lalu menceritakan banyak kader Golkar yang mendorongnya sebagai Ketua Umum Partai Golkar jauh sebelum Novanto menjabat. Namun Idrus mengaku ingin bersaing secara kualitas.

"Saya ingin perdebatan kualitas, ini sejarahnya lalu uang itu susah," ujar Idrus.

"Uang untuk?" tanya jaksa lagi.

"Perdebatan persaingan uang itu tidak memberikan manfaat kepada partai, tapi perdebatan kualitas yang kita inginkan. Lalu kemudian elite (Golkar) lagi cerita, 'Bang, secerdas-cerdasnya orang, kecerdasan itu juga perlu biaya perlu operasional.' Lalu saya bilang pada Bu Eni dan teman-teman, 'Oke, tetapi saya tidak 
ingin tersandera oleh siapa pun kalau saya menjadi ketum.' Nah setelah itu Eni mengambil inisiatif memang. Lalu kemudian Eni menemui temannya, Pak Kotjo. Itulah alur cerita," ucap Idrus.

Namun Idrus mengaku tidak tahu apabila setelah itu Eni menemui Kotjo. Idrus mengaku tahu tentang itu belakangan.

"Setelah selesai pembicaraan, dengan konsisten saya dari awal, meskipun 500 turun 200...," kata Idrus, yang kemudian dipotong jaksa, "Itu maksudnya apa?" tanya jaksa.

"Itu kan tadi ada biaya, biasanya 500 miliar," ujar Idrus.

Idrus mengaku tidak ingin ada persaingan uang dalam pemilihan Ketua Umum Golkar karena ingin bersaing dengan kualitas. Namun, menurut Idrus, dorongan dari kader-kader yang disebutnya itu tidak jadi karena Novanto memenangi praperadilan.

"Tidak ada tindak lanjut, kenapa, karena pada saat itu Setya Novanto menang, memenangkan praperadilan itu," kata Idrus.

Namun jaksa tidak berhenti begitu saja. Jaksa masih menanyakan tentang USD 2,5 juta yang terdengar dalam salinan rekaman sadapan itu.

"Ini maksudnya 2,5?" tanya jaksa.

"Jadi maksudnya begini, saya kan sudah bilang jangan saya, tetapi karena ini masih mendesak, ini satu-satu, udahlah sekalian saja dua atau tiga juta, empat juta, kenapa tanggung satu," jawab Idrus.

"Dua setengah ini maksudnya?" tanya jaksa lagi.

"Dua setengah juta," jawab Idrus.

"USD?" tanya jaksa.

"Ya pastilah, saya nggak tahu itulah pembicaraan Eni. Setiap Eni yang mengajukan saya nggak setuju, lalu saya bilang sekalianlah. Kita larang jangan, masih berusaha, karena itu saya bilang ini sekalian," kata Idrus. 

Kembalikan Rp 1,3 M
Sementara itu, tersangka kasus dugaan suap PLTU Riau-1 Eni Maulani Saragih kembali mengembalikan uang ke KPK. Kali ini uang yang dikembalikan jumlahhya Rp 1,3 miliar.

"Tadi, ES (Eni Maulani Saragih) telah menyampaikan pengembalian uang Rp 1,3 miliar, tahap ke-4, yang telah disetor ke rekening bank penampungan KPK pada Senin, 5 November 2018 lalu," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah.

Eni sebelumnya telah mengembalikan duit secara bertahap. Total pengembalian Eni sebelumnya berjumlah Rp 2,25 miliar.

"Sebelumnya ES mengembalikan total Rp 2,25 miliar dalam 3 tahap. Pengembalian uang ini akan masuk dalam berkas perkara untuk kepentingan pembuktian di persidangan nanti," ucapnya.

"Kami akan mempertimbangkan sikap koperatif ini sebagai alasan yang meringankan sekaligus terkait permohonan JC yang diajukan oleh tersangka," sambung Febri.

Hingga saat ini, KPK telah menerima pengembalian uang dalam kasus ini senilai Rp 4,26 miliar. Rinciannya, pengembalian dari Eni Rp 3,55 miliar dan pengembalian dari panitia munaslub Golkar Rp 712 juta.

Dalam perkara ini, KPK menetapkan Eni selaku Wakil Ketua Komisi VII DPR sebagai tersangka. Dia diduga menerima suap dari seorang pengusaha bernama Johannes B Kotjo. Eni diduga menerima duit Rp 4,8 miliar dari Kotjo selaku pemegang saham Blackgold Natural Resources Ltd, yang merupakan salah satu konsorsium proyek PLTU Riau-1

Saat proses pengembangan penyidikan perkara, KPK menetapkan Idrus Marham sebagai tersangka. Dia diduga menerima janji yang sama dengan Eni, yakni USD 1,5 juta dari Kotjo bila proyek PLTU Riau-1 jadi dikerjakan perusahaan Kotjo. (detikcom/d)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Ilmuwan Ingin Menggunakan Laser untuk Memandu Alien ke Bumi
Studi Ungkap Wanita Nigeria Kembangkan Bisnis dengan WhatsApp
Audio High Resolution Picu Peningkatan Speaker Wireless
Mirip Manusia, Robot Berteknologi AI Gantikan News Anchor
BPPT Kurangi Dosis Teknologi Asing untuk Perkapalan
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU