Home  / 
Bodi Lion Air PK-LQP Terdeteksi, Kondisinya Rapuh
* Kemenhub Selidiki Penumpang Tak Masuk Manifes
Minggu, 4 November 2018 | 10:09:40
SIB/Ant/Indrianto Eko Suwarso
EVAKUASI PUING LION JT 610: Tim SAR gabungan mengevakuasi puing-puing pesawat Lion Air bernomor registrasi PKLQP dengan nomor penerbangan JT 610 dari kapal KN SAR Drupada ke Posko SAR Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu (3/11).
Karawang (SIB) -Bodi Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 yang jatuh di perairan Karawang sudah terdeteksi posisinya. Kondisi bodi diketahui rusak.

"Ini badan pesawatnya belum diangkat, tapi masih dikoordinasikan antarpenyelam karena katanya kondisinya sudah rapuh. Kalau diangkat, mungkin sudah tidak bisa utuh lagi sehingga sekarang ini masih dirapatkan di sana," kata Panglima Koarmada I Laksamana Muda TNI Yudo Margono kepada wartawan di Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, Sabtu (3/11).

Yudo menjelaskan bodi Lion Air tercecer di dasar laut. Tim penyelam sedang melakukan koordinasi untuk pengangkatan.

"Ini masih berupa semacam barang-barang yang sudah hancur. Sudah tercecer. Tapi posisinya sudah dideteksi, baik dari deteksinya kapal ini maupun secara riil oleh para penyelam, memang ngumpul di situ," sebut Yudo.

Bodi Lion Air PK-LQP terdeteksi dalam radius 50 meter. Spot bodi terletak 7,5 mil dari Tanjung Pakis.

"Radiusnya kurang-lebih 50 meter. Jadi ketinggian di atas, di bawah air tersebut ada yang satu meter, dua meter. Kemudian ada yang cuma setengah meter dalam radius itu," terang Yudo.

Sebelumnya, tim SAR menemukan mesin dan bodi pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610. Dua turbin dan roda ditemukan hari ini dan kemarin.

"Jadi sampai siang ini, walaupun saya belum dapat gambarnya, sudah ada temuan-temuan besar. Turbin sudah dua ditemukan. Artinya, dua engine sudah ditemukan. Kemudian kemarin roda yang lain juga sudah terlihat," ujar Kabasarnas Marsdya M Syaugi di Dermaga JICT 2, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, kemarin.

Residu Garam 
Sementara itu, KNKT menyebut kondisi memory card Flight Data Recorder (FDR) black box Lion Air PK-LQP dalam kondisi basah saat ditemukan. Memory card sudah dikeringkan dengan oven.

"Memory card kondisinya baik, hanya saja masih basah sehingga perlu untuk dikeringkan. Kemarin sudah kita oven untuk dikeringkan. Setelah dikeringkan, ternyata karena kondisi terpisah box, maka akan kami masukkan ke black box yang masih bagus sehingga datanya akan kami ambil," ujar Ketua Subkomite Kecelakaan Penerbangan KNKT Capt Nurcahyo Utomo, Sabtu (3/11).

Setelah dikeringkan, ternyata terdapat residu garam atau sisa kotoran dari air laut dalam memory card.

"Ternyata kita temukan ada residu garam. Yang di lingkar kuning ini ada residu garam. Hal ini sedang kita proses dibersihkan sehingga untuk transmisi dari memory untuk diambil data dapat berjalan baik," kata Cahyo.

Australia Bantu 
Di bagian lain Indonesia mendapat bantuan dari Australia untuk proses download data Flight Data Recorder black box Lion Air PK-LQP yang terjatuh di perairan Karawang. Investigator dari Australian Transport Safety Bureau (ATSB) tiba di Indonesia sore kemarin.

"Sore ini investigator ATSB akan datang untuk membantu proses download black box, baik FDR atau CVR. Dalam hal ini Indonesia butuh bantuan dari mereka, investigator kami selain download juga melakukan tugas lain sehingga kami khawatirkan kelelahan. Prosesnya banyak, ditangani 2-3 orang tidak cukup," ujar Ketua Subkomite Kecelakaan Penerbangan KNKT Capt Nurcahyo Utomo, Sabtu (3/11).

Selain Australia, Amerika Serikat (AS) mengirimkan wakilnya untuk menginvestigasi penyebab kecelakaan Lion Air PK-LQP. Sementara, Singapura membantu dalam pencarian CVR black box yang hingga saat ini belum ditemukan.

"National Transportation Safety Board adalah membantu investigasi KNKT. NTSB dibantu oleh advisor dari Boeing, dari General Electric selaku pembuat mesin dan Federal Aviation Administration, pimpinannya dari NTSB. Indonesia menerima bantuan, atau tawaran bantuan dari Singapura untuk membantu mencari black box," terang Cahyo.

Bantuan observer juga datang dari Arab Saudi. Namun observer Saudi tidak berhak menerima data kecelakaan karena bertugas belajar dalam penanganan kecelakaan.

"Saudi kirim observer, posisinya untuk belajar. Observer minta izin ikut belajar menangani proses kecelakaan. Statusnya observer dan tak boleh terima data," sebut Cahyo.

Sebelumnya FDR telah ditemukan pada Kamis (1/11) pagi. Namun FDR itu ditemukan dalam kondisi terbelah dua.

"Black box jenis FDR yang ditemukan dalam kondisi patah dan terpotong menjadi dua bagian," kata Wakil Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Haryo Satmiko.

Sementara itu, sinyal ping cokcpit voice recorder (CVR) black box Lion Air PK-LQP sudah terdengar meski lemah. Tim penyelam gabungan saat ini sedang berupaya mencari keberadaan CVR black box tersebut. 

Hasil Tes DNA 
Kepala Lab Pusdokkes Polri, Kombes Putut Cahyo mengatakan hasil tes DNA para korban Lion Air PK-LQP akan keluar Minggu siang. Sudah ada 306 sampel DNA post-mortem yang dikumpulkan hingga siang kemarin.

"Sabtu malam bisa diharapkan selesai (identifikasi DNA jenazah) pemeriksaannya. Minggu paginya atau Minggu siang, kita bisa nikmati hasilnya," kata Putut di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Sabtu (3/11).

"Besok baru proses rekonsiliasinya," sambungnya.

Dalam identifikasi jenazah korban, Putut menjelaskan setidaknya ada tiga cara yang dilakukan para tim DVI, yaitu dilihat dari sidik jari, gigi, hingga DNA dari keluarga inti korban.

"DNA untuk DVI ini berguna identifikasi, seperti rekan-rekan ketahui. Alat identifikasi ada di tim medis, untuk identifikasi bisa sidik jari, bisa gigi dan bisa DNA," jelasnya.

Dia menyebut proses identifikasi memakai DNA memiliki kelebihan dibanding melalui sidik jari. Menurutnya, korban juga bisa diidentifikasi dengan menggunakan barang pribadi korban seperti sisir, baju terakhir, hingga benda terakhir yang disentuhnya.

"Ada keuntungan kelebihan DNA dibanding sidik jari, kalau sidik jari referensinya harus dari individu, tapi kalau DNA selain dari sendiri bisa jadi family yang vertikal," tutur Putut.

"Dari diri sendiri bisa berasal dari baju yang belum dicuci, sisir, sikat gigi, diharapkan benda yang kita dapatkan itu masih ngandung sel-sel dirinya. Benda yang bersentuhan juga bisa menjadi sampel DNA, tetapi benda yang wujudnya pribadi," sambungnya. 

Tak Masuk Manifes 
Kementerian Perhubungan masih menyelidiki terkait kabar adanya penumpang yang naik ke pesawat Lion Air PK-LQP tapi tak ada di manifes. Proses penelusuran masih terus dilakukan untuk menemukan titik terang.

"Ini masih terus dilakukan identifikasi, penelusuran proses-prosesnya, baik dari proses ticketingnya dan pada saat masuk ke pesawat udara, kita terus berproses," ujar Plt Dirjen Perhubungan Udara, Pramintohadi Sukarno, di kantornya, di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Sabtu (3/11).

Pramintohadi mengungkapkan, saat ini pihaknya juga tengah meminta keterangan dengan pihak Lion Air. Klarifikasi dilakukan oleh tim hukum dari Dirhubud.

"Tim hukum kami sedang terus mendalami beberapa hal yang masih kita bisa klarifikasi secara detail. Nanti akan kita sampaikan pada kesempatan berikut. Mereka masih terus bekerja untuk melakukan pengecekan terhadap legal aspek," tuturnya.

Selanjutnya, kata Pramintohadi, hasil penyelidikan tersebut nantinya akan dijadikan dasar untuk menentukan langkah selanjutnya. Termasuk terkait santunan untuk korban.

"Jadi kita lihat hasilnya seperti apa, ini juga bagian yang merupakan hal yang akan dievaluasi oleh KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi)," kata Pramintohadi.

Kabar adanya satu penumpang yang tak masuk dalam manifes, mengemuka dari pengakuan salah satu keluarga korban asal Bogor, Jawa Barat. Keluarga meyakini Arif Yustian adalah salah satu penumpang yang ada di dalam pesawat tersebut. Arif menggantikan salah seorang rekannya yang bernama Krisma Wijaya dalam pesawat tersebut. 

Penuhi Standar 
Sementara itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah melakukan pemeriksaan kelaikan atau ramp check 11 unit pesawat Boeing 737 MAX 8. Hasilnya, seluruh pesawat memenuhi standar kelaikan udara.

"Hasil pemeriksaan seluruh pesawat sudah standar kelaikudaraan," ujar Plt Dirjen Perhubungan Udara Pramintohadi Sukarno.

Kegiatan ramp check tersebut dilakukan di sejumlah bandara di Indonesia, yakni Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta; Bandara Kualanamu, Medan; Bandara Ngurah Rai, Denpasar; serta Bandara Sam Ratulangi, Manado.

Selain terhadap 11 pesawat Boeing 737 MAX 8, Kemenhub melakukan aircract inspection terhadap 27 pesawat lain, di antaranya pesawat yang dioperasikan oleh Lion Air, Garuda Indonesia, Wings Air, dan AirAsia.

"Adapun hasil pemeriksaan, seluruh pesawat telah memenuhi standar kelaikudaraan," katanya.

Kementerian Perhubungan sebelumnya melakukan ramp check terhadap 11 unit pesawat Boeing 737 MAX 8. Pemeriksaan itu dilakukan berkaitan dengan kecelakaan pesawat serupa milik Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610. (detikcom/f)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Sekdaprovsu Buka Sosialisasi E-Formasi Pemprovsu, Sistem Transparan Lindungi Pegawai
Timses Jokowi Balas PAN: Narasi Ekonomi Prabowo-Sandi Cuma Jargon
Jaksa Kembalikan Berkas Nur Mahmudi ke Polisi
Kebakaran di Kementerian Pertahanan, 11 Mobil Pemadam Dikerahkan
3 Bulan Ditahan KPK, Idrus Marham Pamer Bikin Buku
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU