Home  / 
Prabowo Sebut 99% Rakyat Indonesia Hidup Sangat Pas-pasan
* Mengelola Negara Sama Seperti Mengelola Warung
Sabtu, 20 Oktober 2018 | 11:30:36
Denpasar (SIB)- Prabowo Subianto menyebut masih banyak ketimpangan ekonomi yang terjadi sejak 73 tahun Indonesia merdeka. Prabowo menyebut kekayaan Indonesia hanya dinikmati segelintir orang.

"Kita melihat sekarang adalah keadaan yang saya sebut keadaan paradoks. Keadaan janggal setelah 73 tahun merdeka yang kaya hanya segelintir saja, dan ini bukan saya karang, bukan angkanya Prabowo Subianto," kata Prabowo di hadapan relawan emak-emak dan Prabowo-Sandi di Inna Heritage Hotel, Denpasar, Bali, Jumat (19/10).

Ketum Gerindra itu pun menyebut fakta tersebut sudah diakui oleh Bank Dunia dan lembaga internasional lainnya. Mengutip data tersebut, Prabowo menyebut orang kaya di Indonesia tidak sampai 1 persen.

"Hasil ini adalah data, fakta yang diakui oleh Bank Dunia, oleh lembaga-lembaga internasional yang nikmati kekayaan Indonesia kurang dari 1 persen. Yang 99 persen mengalami hidup yang sangat pas-pasan, bahkan sangat sulit," sebut Prabowo.

Prabowo kemudian juga menyinggung soal krisis moneter yang terjadi pada 1998 lalu. Dia pun mengaku heran sebab kekayaan alam melimpah tapi Indonesia bisa mengalami krisis.

"Beberapa tahun yang lalu 1998-1999 saya mendapat pencerahan. Pada saat itu katanya kita krisis ekonomi, rupiah ambruk, ribuan perusahaan, bank banyak tutup, aneh, aneh. Katanya Indonesia hebat pertumbuhan sekian tahun tiba-tiba dalam 1 tahun ambruk. Kemudian saya merenung, saya baca satu laporan beberapa helai kertas. Di situ saya lihat angka-angka neraca perdagangan ekspor dan impor," paparnya.

Prabowo menambahkan sejak saat itulah dia mulai belajar ekonomi. Dia menyebut kala itu perdagangan Indonesia sebenarnya surplus.

"Saya bukan ahli ekonomi tapi saya terpaksa mau belajar, saya belajar ekonomi kenapa negara saya kaya tapi rakyatnya miskin. Ternyata saya dapat pencerahan tahun 1998 di saat ekonomi kita ambruk ternyata negara kita untung sebagai negara, sebagai bangsa. Ekspor kita lebih dari impor, jadi untung ya," terangnya.

Prabowo pun menyamakan mengelola negara sama seperti saat emak-emak mengelola rumah tangga maupun warung. Dia minta para relawan emak-emaknya berjuang dengan kesadaran ekonomi.

"Jadi mengelola negara ekonominya itu sama dengan mengelola rumah tangga, sama dengan mengelola warung. Kalau tiap bulan ibu-ibu, emak-emak ini menerima uang lebih dari yang emak-emak keluarkan berarti rumah tangga ibu-ibu dikatakan sehat. Sama dengan negara, kalau yang dikeluarkan oleh negara itu lebih sedikit dari yang diterima ekonomi negara itu kuat artinya rupiah menguat. Kalau ekonomi melemah rupiah melemah, dan kalau yang kita terima kurang dari yang kita hasilkan itu namanya rugi," urainya.

"Jadi ekonomi jangan dijadikan momok, sulit. Ini sangat penting emak-emak berjuang. Saya minta berjuang dengan kesadaran, dengan keyakinan. Saya mau datang, saya mau cerita perlu kesadaran bahwa kekayaan kita diambil dibawa ke luar negeri dan semua sendi ekonomi tidak tinggal di bangsa kita, termasuk di Bali ini. Tanya hotel-hotel yang besar paling hebat apa milik orang Bali, tanya aja. Tanya petani Bali, orange juice yang setiap hari diminum di hotel itu apa dari petani?" ucap Prabowo. (detikcom/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Bupati Indramayu Tepis Isu Mundur karena Masalah di KPK
Sandiaga Minta Maaf soal Langkahi Makam Pendiri NU
Diduga Tidak Terima Diputuskan, Pria Bakar Diri dan Kekasihnya di Medan
Menag: Kartu Nikah Bukan Pengganti Buku Nikah
Polisi Atensi Tuntaskan Kasus Pengancaman Wartawan SIB di Nisel
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU