Home  / 
KPK Cecar Dirut Pertamina Soal Pertemuan dengan Tersangka Suap
Selasa, 18 September 2018 | 12:05:27
Jakarta (SIB)- KPK memeriksa Dirut PT Pertamina Nicke Widyawati sebagai saksi kasus dugaan suap PLTU Riau-1. KPK memeriksa Nicke mengenai pertemuan dengan tersangka suap, Eni Maulani Saragih.

"Ada informasi yang kami klarifikasi juga terkait dengan apakah pernah bertemu dengan tersangka EMS, kapan, di mana, dan apa pembicaraannya," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (17/9).

Namun Febri tidak menjelaskan secara terperinci mengenai pertemuan tersebut karena masuk materi pokok perkara.

Febri mengatakan Nicke diperiksa dalam kapasitasnya sebagai Direktur Perencanaan PLN. Penyidik mendalami pengetahuan Nicke saat kasus terjadi.

"Tadi karena posisi saksi pada saat itu sebagai Direktur Perencanaan kan, jadi kami perlu gali apa yang dilakukan oleh saksi saat itu dan apa yang diketahui saksi saat itu. Pada saat konsorsium mungkin belum terbentuk ya, atau proyek ini belum berjalan. Jadi perencanaannya sebenarnya bagaimana saat itu," ujar Febri.

Dalam kasus ini, KPK juga memeriksa sejumlah direktur di PLN untuk menggali peristiwa sebelum tindak pidana terjadi.

"Memang ada beberapa direktur juga yang kami periksa direktur di PLN untuk mengidentifikasi saat proses penandatanganan sebelum proses penandatanganan PPA. Bagaimana proses internal yang terjadi di PLN tersebut. Apakah ada pembahasan-pembahasan proses dan alur persyaratannya bagaimana itu pendalaman," ujar Febri.

Sampaikan Semua
Sementara itu, Dirjen Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono juga diperiksa penyidik KPK terkait kasus dugaan suap PLTU Riau-1. Ia mengaku telah menyampaikan semua yang dia tahu ke penyidik.

"Saya sudah sampaikan semua kepada penyidik mengenai hubungannya dengan pengusahaan batubara-nya," kata Bambang, usai diperiksa.

Bambang mengaku tidak tahu mengenai penunjukan perusahaan Blackgold Natural Resources sebagai salah satu anggota konsorsium proyek PLTU Riau-1. Ia mengatakan bukan tugasnya menunjuk perusahaan tersebut dalam kasus ini.

"Enggak-enggak itu bukan saya (penunjukan Blackgold). Itu bukan tupoksi saya," kata Bambang.

Bambang diperiksa sejak sekitar 5,5 jam sebagai saksi untuk tersangka Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih. Kepada penyidik, dalam proyek ini ia mengaku bertugas sebagai pengadaan batubara.

"Tupoksi Anda apa di PLTU Riau-1?" tanya para pewarta.

"Pengusahaan batubaranya," jawab Bambang, sambil berjalan ke mobilnya.

KPK menetapkan tiga tersangka dalam kasus ini. Mereka adalah Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih, pengusaha Johannes B Kotjo, dan mantan Menteri Sosial Idrus Marham.

Eni diduga menerima duit suap Rp 4,8 miliar dari Kotjo selaku pemegang saham Blackgold Natural Resources Ltd. Perusahaan tersebut merupakan salah satu bagian dari konsorsium proyek PLTU Riau-1.

Saat pengembangan, KPK menetapkan Idrus sebagai tersangka. Dia diduga menerima janji yang sama dengan Eni, yaitu senilai USD 1,5 juta dari Kotjo, jika perusahaannya berhasil memenangi proyek PLTU Riau-1. (detikcom/q)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Akademisi dan Politisi Apresisasi Niat Presiden Jokowi Kucurkan Dana Kelurahan
Rutan Labuhandeli Dituding Cemari Lingkungan
Gubsu Edy Rahmayadi Berharap Perbankan Tingkatkan Kredit Pertanian
Menyambut Wisatawan di Danau Toba
Seribuan Jamaah dari Tabagsel Doakan Kapoldasu
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU