Home  / 
KPK Telusuri Aliran Duit Rp46 Miliar ke Bupati Labuhanbatu
* Adik Andi Narogong Ditanya Soal Aset Pabrik Kelapa Sawit Pangonal Harahap
Selasa, 18 September 2018 | 12:03:52
Jakarta (SIB)- KPK mendalami dugaan adanya aliran duit suap lainnya ke Bupati Labuhanbatu nonaktif Pangonal Harahap. Dalam perkembangannya, KPK mengidentifikasi adanya penerimaan uang hingga Rp 46 miliar.

"Dari bukti transaksi sekitar Rp 500 juta yang diamankan saat tangkap tangan, saat ini telah teridentifikasi dugaan penerimaan hingga Rp 46 miliar yang diduga merupakan fee proyek-proyek di Labuhanbatu dari tahun 2016-2018," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah, dalam keterangannya, Senin (17/9).

Saat ini KPK sedang melakukan penelusuran aset Pangonal. Lebih lanjut, KPK menelusuri ada atau tidaknya aset yang dijual Pangonal pada pihak lain.

"Untuk memaksimalkan pengembalian aset atau asset recovery dalam kasus ini, maka KPK juga melakukan pemetaan aset di daerah Sumatera Utara, termasuk adanya indikasi upaya penjualan aset PHH pada pihak lain," ujar Febri.

Ia mengimbau pada pihak yang ditawari membeli aset Pangonal untuk berhati-hati. Sebab bisa saja aset tersebut disita penyidik.

"Sekali lagi kami ingatkan pada pihak-pihak yang ditawarkan aset oleh pihak PHH agar berhati-hati karena aset yang diduga terkait tindak pidana korupsi," ujarnya.

Dalam perkara ini, KPK menetapkan Pangonal sebagai tersangka suap. Selain Pangonal, KPK menetapkan orang kepercayaannya, Umar Ritonga dan pengusaha Effendy Sahputra.

ASET PABRIK SAWIT
Sementara itu, pengusaha Vidi Gunawan diperiksa KPK terkait kasus dugaan suap Bupati Labuhanbatu nonaktif Pangonal Harahap. KPK menanyakan aset Pangonal berupa pabrik pengolahan kelapa sawit yang dijual kepada kakak Vidi, Andi Agustinus alias Andi Narogong.

"(aset) Sawit aja," kata Vidi, usai diperiksa penyidik di gedung KPK Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan.

Vidi yang mengenakan batik merah itu tak banyak menjelaskan terkait aset Pangonal yang dibeli kakaknya. Sedangkan Kabiro Humas KPK Febri Diansyah mengatakan Vidi ditanya penyidik tentang penjualan aset Pangonal ke Andi Narogong.

"Saksi Vidi didalami terkait penjualan aset PHH (Pangonal) pada Andi Narogong berupa pabrik kelapa sawit di Sumatera Utara," kata Febri.

Menurut Febri, uang yang dibayarkan Andi Narogong kepada Vidi senilai Rp 10 miliar. Dari uang itu telah dipakai sebagian oleh Pangonal. Sedangkan sisanya disita penyidik untuk pemulihan keuangan negara.

"Pembayaran baru dilakukan Rp 10 miliar. Sebagian dari uang tersebut telah digunakan tersangka, dan sebagian lain sekitar Rp 3 miliar yang berada di bank telah diblokir oleh penyidik untuk kepentingan asset recovery," ujar Febri.

Pangonal Harahap ditetapkan KPK sebagai tersangka bersama orang kepercayaannya Umar Ritonga, dan pengusaha Effendy Sahputra.

Effendy disebut mengeluarkan cek senilai Rp 576 juta yang dicairkan di BPD Sumut oleh orang kepercayaannya berinisial AT. Duit pencairan cek ini kemudian dititipkan kepada petugas bank, lalu diambil Umar.

Sekitar pukul 18.15 WIB, Umar datang ke bank mengambil uang Rp 500 juta dalam tas keresek yang dititipkan kepada petugas Bank Sumut. Tapi Umar kabur saat akan ditangkap. KPK sudah mengirimkan surat kepada Polri untuk memasukkan Umar dalam daftar pencarian orang (DPO). (detikcom/h)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Melamar Wanita yang Sama, 2 Pria Berkelahi di Tempat Umum
Suami Palsukan Kematian, Istri dan Anak Bunuh Diri
Demi Sembuhkan Anak, Orangtua Beli Pulau Rp 2,2 Miliar
Lumpuh Setelah Jatuh dari Ranjang Saat Bercinta
Demi Balas Budi, Seorang Pria Bangun Vila Rp7 Miliar Buat Anjingnya
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU