Home  / 
Jokowi Ucapkan Selamat Atas Deklarasi Prabowo-Sandiaga
Plus Minus Jokowi-Maruf Amin vs Prabowo-Sandiaga Uno
Sabtu, 11 Agustus 2018 | 11:46:22
Jakarta (SIB)- Joko Widodo (Jokowi) mengucapkan selamat atas deklarasi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagai capres-cawapres. Jokowi mengucapkan selamat atas deklarasi keduanya.

"Saya dengar semalam Bapak Prabowo Subianto sudah mendeklarasikan diri sebagai pasangan capres-cawapres. Kita ucapkan selamat kepada mereka dan pendukungnya," kata Jokowi di kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (10/8).

Jokowi menilai Prabowo-Sandiaga sebagai putra terbaik Indonesia. Dia mengatakan Prabowo-Sandiaga juga ingin berjuang bersama untuk membangun Tanah Air.

"Bapak Prabowo dan Sandiaga Uno adalah anak terbaik di negeri ini. Mereka ingin berjuang bersama di negara ini," ujar dia.

Sebagaimana diketahui, Prabowo telah mendeklarasikan diri sebagai capres pada Kamis (9/8) malam. Prabowo kemudian mengumumkan Sandiaga sebagai cawapresnya. Pasangan ini didukung Gerindra, PAN dan PKS.

Sementara itu, Jokowi mendeklarasikan diri pada Kamis (9/8) sore. Dia menunjuk Ketum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres.
Plus Minus

Jokowi-KH Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno telah mendaftarkan diri sebagai capres dan cawapres. Apa yang menjadi plus minus dari kedua pasangan ini?

Pengamat Politik CSIS Arya Fernandes menilai pasangan Prabowo-Sandiaga mempunyai keuntungan. Sandiaga dinilai elite politik dan generasi baru dari kalangan pengusaha.

"Plusnya saya kira, Sandi membawa suatu pembaharuan politik dan komposisi pasangan calon ini. Dia (Sandiaga) membawa generasi baru, elite politik Indonesia dari kalangan pengusaha profesional yang memilih masuk politik praktis, Wagub DKI," ucap Arya.

Selain itu, Arya menyebut Sandiaga mudah beradaptasi dengan pemilih milenial. Sandiaga juga dinilai mudah memahami karakter pemilih pemula.

"Kemudian karena memiliki elite politik yang baru, dia mudah beradaptasi dengan perubahan politik yang terjadi misal meningkatnya pemilih milenial. Jadi, karena dia lahir dari generasi baru, ia akan mudah beradaptasi dengan pemilih milenial. Kemudian dia juga memahami karakter pemilih muda," jelas Arya.
Lebih lanjut, ia menilai Prabowo akan mengubah narasi kampanye tanpa menyinggung keagamaan. Sebab, Jokowi mempunyai pasangan tokoh agama KH Ma'ruf Amin.

Selain itu, tiga koalisi pendukung Prabowo-Sandiaga mempunyai pengalaman di Pilkada serentak. Elite politik mereka di daerah sangat solid.

"Dukungan parpol 3 ini memiliki pengalaman dalam koalisi tingkat lokal misal Jawa Barat, Kalimantan dan lainnya. Mereka punya pengalaman dalam koalisi elite tingkat lokal sudah punya pengalaman melakukan kampanye, mereka soliditas tinggi," jelas Arya.

Minus Prabowo-Sandiaga, Arya menilai pasangan ini harus bisa mengubah narasi kampanye. Termasuk penamaan koalisi partai politik yang tidak menggunakan keagamaan.

"Kalau narasi masih tentang agama misalnya dimulai penamaan koalisi, tidak akan efektif. Karena Jokowi narasi agama lebih kuat, Pak Ma'ruf keagamaan lebih kuat," jelas Arya.

Terhadap pasangan Jokowi-Ma'ruf, Arya menilai ada kekhawatiran dalam isu keagamaan. Sehingga Jokowi memilih Ma'ruf dalam Pilpres 2019.

"Sebelum masa penetapan ini saya melihat ada kekhawatiran Pak Jokowi terkait isu keagamaan. Jadi Jokowi khawatir isu politik identitas akan menggerus suaranya, kekhawatiran itu kemudian diterjemahkan dengan pertemuan elite ormas Islam dan roadshow pesantren," ucap Arya.

Di sisi lain, Arya mengatakan Jokowi mempunyai kekhawatiran politik identitas sejak aksi 212. Adanya KH Ma'ruf Amin, maka Jokowi tidak mudah diserang dengan isu negatif atau politik identitas.

"Jokowi sejak aksi 212 khawatir adanya politik identitas makanya Pak Ma'ruf selain karena adanya usaha Jokowi akomodasi kepentingan parpol, ada parpol tidak sepakat Mahfud tapi cara Jokowi agar isu negatif berbasis politik identitas tidak ampuh bisa menyerang Jokowi," tutur Arya.

Minus terhadap Jokowi-Ma'ruf, Arya menjelaskan adanya tantangan baru pasangan ini jika Prabowo tidak menggunakan narasi agama. Apabila Prabowo mengubah narasi kampanye, maka Ketum MUI itu tidak diperhatikan pemilih.

"Kalau Prabowo merubah narasi kampanye, tentu posisi Ma'ruf kurang diperhatikan pemilih," kata Arya.

Selain itu, Arya menyebutkan partai politik Jokowi-Ma'ruf akan lebih fokus pemilu legislatif daripada Pilpres. Sedangkan partai politik pengusung Prabowo-Sandiaga akan fokus Pilpres karena mesin partainya sudah solid.

"Selain itu adalah mesin parpol karena ini diusung banyak parpol misal di PDIP, parpol akan fokus pemilu legislatif. Dari sisi Prabowo akan solid memenangkan Pilpres karena posisi elektoral masih jauh dan mesin parpol akan solid," tutur dia. (detikcom/q)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Sektor Swasta Diajak Dukung Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan Infrastruktur di Danau Toba Terbaik dan Paling Cepat
Peredaran Hoax Makin Memprihatinkan
Bagikan Buku, Kapoldasu: Generasi Penerus Bangsa Harus Cerdas
4 Tersangka Kasus Khashoggi Diduga Orang Dekat Putra Mahkota Saudi
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU