Home  / 
Jokowi Sindir Politikus Kompor yang Beraksi Jelang Pemilu
Senin, 16 Juli 2018 | 10:36:37
Jakarta (SIB) -Presiden Jokowi mengingatkan agar masyarakat tak terprovokasi di tahun politik. Jokowi lantas menyindir politikus yang sengaja memanaskan situasi politik.

Dia mengingatkan agar masyarakat tidak terprovokasi oleh para politikus. Menurutnya, ada pihak-pihak yang ingin memanaskan situasi bangsa di tahun politik.
"Sering kan kalau mendekati pemilihan bupati, wali kota, gubernur, pemilihan presiden, dikompori. Yang ngompori siapa? Ya para politikus," kata Jokowi, Sabtu (14/7).

Dia berbicara dalam kunjungannya ke Pondok Pesantren (Ponpes) An-Najah, Gondang, Sragen, Jawa Tengah. Jokowi mengajak masyarakat pintar memilih pemimpin. Salah satunya dengan melihat rekam jejak calon pemimpin itu.

"Lihat rekam jejaknya, lihat track recordnya, pernah jadi apa, prestasinya apa, kinerjanya seperti apa. Harus dilihat. Jangan gampang percaya," kata dia.

Presiden berpesan agar masyarakat tetap menjaga persatuan meskipun berbeda pilihan dalam pemilu. Hal tersebut menjadi kedewasaan masyarakat dalam berpolitik.

"Tantangan besar kita apa? Banyak sekali, perang dagang antarnegara sekarang, radikalisme, revolusi industri. Kita bersatu saja belum tentu memenangkan kompetisi ini kok, apalagi tidak bersatu," ujar Jokowi.

Sabar Ada Batasnya
Kerap kali dikritik bahkan dengan kata-kata yang tak pantas oleh sejumlah pihak, Jokowi mengungkapkan dirinya bersabar saat menerima kritikan tersebut.

"Karena kadang kita lupa, kita kan bebas berekspresi, berpendapat, berkumpul, ya boleh, tapi di Indonesia kita punya etika sopan santun tata krama. Masak menyampaikan kritik seperti itu. Tidak bisa membedakan kritik dengan mencela, kritik dengan mencemooh, kritik dengan menjelek-jelekkan," kata Jokowi.

Soal kritikan hingga cemoohan itu, Jokowi mengungkapkan dirinya hanya bisa bersabar. Namun dia meminta agar masyarakat jangan sampai mengkritik orang dengan kata tak pantas karena dapat merusak persatuan dan silaturahmi.

"Kalau saya digitu-gituin sudah biasa. Sabaarrr gituuu. Sabar saya hanya gitu-gitu aja. Sabaaarr. Tapi kadang sabar itu juga ada batasnya lho.Saya ajak menjaga ukhuwah islamiyah, Wathaniyah kita. Jangan sampai kita ini gampang curiga ke orang lain, menjelekkan, mencemooh, mencela Orla. Itu bukan etika dan budaya bangsa Indonesia dan tidak diajarkan Rasulullah kepada kita. Nggak ada," ucap Jokowi.

"Yang bener itu ya selalu berprasangka baik pada orng lain, melihat orang lain penuh kecintaan, berpikir positif, tidak sampaikan hal negatif, merasa benar sendiri, manusia penuh kekurangan. Sama seperti saya. Meski saya presiden saya juga orang biasa kok. Penuh kekurangan, penuh kekhilafan," imbuhnya.

Jangan Asal Tuduh
Sementara itu, Gerindra yang merupakan salah satu partai oposisi meminta Jokowi mengungkap siapa sosok politikus kompor yang dimaksudnya.

"Ya kalau emang perlu Pak Jokowi boleh sebut nama saja. Tapi jangan sampai Pak Jokowi asal tuduh karena dikritik karena lemahnya kinerja ekonomi, lalu dibilang politisi kompor itu salah juga," tutur anggota badan komunikasi Gerindra, Andre Rosiade.

Andre mengatakan pihaknya bukan merupakan politikus kompor sebagaimana disampaikan Jokowi. Menurut Andre, Gerindra merupakan partai yang mengkritisi keadaan negara secara konstruktif.

"Kalau baik kami dukung, kalau buruk kami kritisi. Kami kritisi terutama masalah ekonomi," sambung Andre.

Untuk sektor ekonomi, sambung Andre, kebijakan pemerintahan Jokowi memang perlu dikritisi. Menurutnya kebijakan Kabinet Kerja kurang tepat bagi rakyat.

"Kami mengkritisi kebijakan ekonomi yang lemah dan kurang tepat bagi rakyat. Infrastruktur yang dibangun tidak berdampak pada ekonomi rakyat. Jurang antara kaya dan miskin makin jauh dan begitu banyak rakyat dan yang hidup semakin sulit, lapangan kerja susah, dah harga semakin tinggi," ujar Andre. 

Sindiran ke Senior
Sedangkan Ketua DPP Gokar Tubagus Ace Hasan Syadzily mengatakan, dirinya setuju dengan pernyataan Jokowi tersebut. Sebab dia melihat pemilu ini dijadikan ajang untuk memuluskan kepentingan berkuasa dengan berbagai cara, termasuk membawa soal agama, bahkan ini dilakukan oleh politikus senior.

"Ya kita kan bisa melihat banyak pihak yang justru membuat suasana pilpres 2019 menjadi riuh. Disebabkan karena tentu masing-masing punya kepentingan. Yang repotnya politisi-politisi itu, termasuk yang senior menjadikan instrumen agama sebagai alat untuk membuat suasana menjadi panas, sehingga masyarakat menjadi tersulut emosinya," kata Ace .

Terlebih, kata ace, sentimen agama jika disentuh akan menimbulkan reaksi besar dari masyarakat. Padahal, menurut Ace, sebaiknya persoalan agama tidak dibawa-bawa ke ranah politik.

"Karena kan kita tahu bahwa kalau sudah sentimen agama disentuh maka suasana pasti akan menjadi panas. Padahal sebetulnya kan itu sungguh sangat tidak relevan untuk ditarik ke dalam wilayah politik," katanya.

Ace menilai, pernyataan Jokowi tersebut memang menyiratkan pesan yang khusus dan penting. Diharapkan para politikus di Indonesia bisa membuat suasana politik di Tanah Air menjadi lebih sejuk dan dilakukan dalam suasana suka cita. (detikcom/c)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.HarianSIB.co
BERITA TERKAIT:
Melamar Wanita yang Sama, 2 Pria Berkelahi di Tempat Umum
Suami Palsukan Kematian, Istri dan Anak Bunuh Diri
Demi Sembuhkan Anak, Orangtua Beli Pulau Rp 2,2 Miliar
Lumpuh Setelah Jatuh dari Ranjang Saat Bercinta
Demi Balas Budi, Seorang Pria Bangun Vila Rp7 Miliar Buat Anjingnya
KOMENTAR PEMBACA:


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU